indahnya berserah


7 Komentar

MUJIZAT ITU NYATA

 Kisah ini kualami sekitar 4,5 th yang lalu ketika aku akan menghadapi ujian skripsi untuk mengakhiri tugas studiku. Masa tugas studi adalah masa-masa yang penuh pergulatan namun indah untuk dikenang kembali. Kuawali tugas ini dengan rasa kecil hati dan rasa minder. Aku harus mendaftar dan mengikuti tes penerimaan mahasiswa selama 2 kali, untuk bisa diterima sebagai mahasiswa di fakultas Psikologi di suatu Universitas swasta yang cukup terkenal. Usiaku waktu itu sudah 31 th. Waktu tes penerimaan yang pertama aku tidak diterima. Dewan Pimpinan Provinsial masih memberiku kesempatan untuk mendaftar lagi. Akhirnya setelah tes yang ke-2 aku diterima di fakultas Psikologi. Berbekal ketekunan dan kerendahan hati untuk bertanya dan bekerja sama dengan teman-teman mahasiswa dan para dosen, aku bisa melalui masa studi ini dengan baik.


Mujijat itu nyata, itu kualami ketika aku mengakhiri masa studiku. Beberapa hari menjelang ujian skripsi, rasanya aku kehilangan harapan untuk bisa lulus dari ujian skripsi ini dengan hasil yang baik. Hal ini disebabkan oleh “pribadi”salah satu dosen penguji yang bisa memungkinkan aku tidak lulus dalam ujian tersebut, atau kalaupun lulus dengan banyak koreksi. Bahkan dosen pembimbingku mengatakan bahwa dia tidak bisa banyak membantu kalau “dosen itu” yang menjadi pengujiku. Dosen pembimbingku minta agar aku lebih tekun berdoa, dia juga akan membantuku dengan doa. Tiga hari berturut-turut aku berdoa novena tengah malam. Hanya satu yang kuminta yaitu supaya Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada para dosen penguji sehingga obyektif dalam menguji skripsiku.

Saat ujian tiba, aku cukup tegang, para dosen penguji sudah siap di ruang ujian. Saya diminta untuk keluar ruangan karena mereka akan rapat sebentar. Setelah aku keluar, kulihat teman-teman yang menungguiku ujian di luar ramai memperbincangkan sesuatu. Aku baru tahu dari teman-temanku, kalau dosen penguji yang membuatku “tegang” itu, tiba-tiba mengundurkan diri dan tidak sanggup untuk menguji skripsiku karena tidak siap. Ujian diundur 30 menit karena harus mencari pengganti dosen penguji. Akhirnya wakil dekan bersedia menjadi dosen pengujiku. Tak kuduga ujian berlangsung dengan baik dan lancar, bahkan aku tidak merasakan kalau sedang melaksanakan ujian akhir skripsi. Salah satu dosen mengatakan bahwa kejadian seperti yang kualami ini (dosen penguji mengundurkan diri dengan tiba-tiba, pada saat semua sudah siap), baru pertama kali terjadi di fakultas Psikologi ini. Beliau lalu bertanya padaku,”Menurut suster, kejadian seperti ini karya siapa?” Jawabku, “Karya Roh Kudus, Pak” Ya, aku percaya ini karya Roh Kudus yang mendengarkan doa-doaku dan doa para suster yang mendoakanku menjelang dan pada waktu ujian skripsiku. Pada akhir ujian para dosen penguji mengatakan, “Terima kasih suster, kami seperti baru dari surga.” Aku memang merasakan suasana selama ujian skripsiku tidak seperti ujian, kami banyak berdialog tentang kasus-kasus dalam hidup membiara sesuai dengan thema skripsiku.

Peristiwa ujian skripsiku ini semakin menguatkan iman kepercayaanku bahwa Tuhan sungguh mencintai orang yang sungguh berharap padaNya, memberikan yang terbaik dan tepat pada waktunya. Setelah peristiwa ujian akhir itu, aku selalu menyemangati teman-teman yang akan maju ujian untuk tekun berdoa dan berusaha. Tuhan sering kali memberikan rahmat yang kita butuhkan tepat pada waktunya dan kadang tidak bisa kita mengerti dengan akal budi kita. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan yang sungguh mencintai umatNya, tidak ada kata putus asa dalam menghadapi hal-hal yang sepertinya tidak ada jalan keluarnya. Mujizat itu nyata dan bisa kita alami dalam berbagai peristiwa hidup kita, asal kita percaya kepadaNya.


Tinggalkan komentar

BERANI MENJADI TANDA

Pagi itu selesai perayaan Ekaristi aku berjalan ke centrum untuk membeli sesuatu, tapi ternyata toko yang kutuju masih tutup. Perjalanan kulanjutkan ke gua Maria kecil di samping gereja St. Mateas. Di sini kurasakan keheningan dan kedamaian, aku mendoakan orang-orang yang sudah kujanjikan untuk kudoakan. Waktu itu cuaca cerah sekali. Sambil berjalan kembali menuju ke centrum, kunikmati sinar matahari dan semilir angin dingin di musim gugur ini. Hatiku terasa hangat dan damai. Tiba-tiba di tengah jalan langkahku terhenti karena ada seorang ibu yang menyapa dan memperkenalkan diri. Dia minta doa untuk putranya yang ingin menjadi pastor. Meskipun baru kenal dan dengan keterbatasan bahasa Belanda yang kumiliki, kami bisa ngobrol cukup lama. Kujelaskan maksud kehadiran kami di kota ini, agar spiritualitas kongregasi kami tetap dikenal & hidup di Maastricht ini. Salah satu obrolan kami juga mengenai pakaian & kerudung yang kukenakan. Banyak para suster di sini yang sudah tidak memakai pakaian biara/ kerudung, sehingga generasi muda banyak yang tidak mengenal figur “suster”. Tanggapan ibu tersebut mengenai hal ini  sangat meneguhkanku. Dia mengatakan: “Kehadiran suster dengan pakaian biara & kebahagiaan yang terlihat dari wajah suster, sudah menjadi ‘tanda’ bagi setiap orang yang berjumpa dengan suster.”

Kata-kata ibu tadi mengingatkanku pada berbagai peristiwa sederhana yang memperjelas arti kehadiran kami di sini. Pada suatu petang ketika kami bertiga berjalan pulang ke komunitas kami, di tengah jalan kami berhenti & ngobrol dengan beberapa anak yang sedang bermain di depan rumah mereka. Mereka sekitar umur 7-12 th. Salah satu anak laki-laki tiba-tiba mengatakan: “Kalian adalah orang-orang baik.” Kami menanyakan bagaimana dia bisa mengatakan hal itu. Anak itu mengatakan: “ Aku bisa merasakannya.” Suatu kali kami berbelanja di supermaket, seorang ibu mendekati dan bertanya apakah kami suster yang di biara. Kami jawab ‘ya’, kemudian ibu itu menyebutkan namanya dan minta didoakan. Ketika kami pulang dari latihan koor, malam itu kami berpapasan dengan satu keluarga, spontan salah satu dari mereka berkata : ‘Lihatlah wajah-wajah yang gembira.’ Suatu pagi seperti biasa aku menyapa selamat pagi pada seorang bapak yang bertugas di gereja St. Servaast, spontan bapak itu berkata pada seorang ibu yang di dekatnya : ‘lihatlah suster yang selalu tersenyum.’ Di kelompok koor gereja St. Theresia yang mayoritas anggotanya orang-orang tua (mereka sejumlah 45 orang), salah satu diantara mereka mengatakan : ‘Kalian adalah bunga dalam kelompok koor ini. ‘ Artinya kehadiran kami bertiga menyegarkan bagi mereka, meskipun kami tidak mempunyai suara yang bagus. Suatu saat kami diminta untuk presentasi di sekolah anak-anak cacat. Isi presentasi itu mengenalkan tentang kehidupan kami sebagai biarawati, tentang berbagai hal negara Indonesia (tentang candi, buah-buahan, sayur-sayuran dan binatang-binatang yang khas Indonesia), bermain angklung & menari poco-poco. Sehari setelah acara tersebut, salah seorang guru mengatakan bahwa anak-anak merasa senang, bahkan ada seorang anak yang sehari-hari nampak murung, pada hari itu bisa tertawa riang. Mereka juga mengatakan kemungkinan kami akan diundang lagi untuk kelas yang lain, karena waktu itu kami baru presentasi untuk 4 kelas.

Saat ini memang belum banyak yang bisa kukerjakan di sini, tapi berbagai peristiwa sederhana di atas membantuku untuk menemukan arti kehadiran komunitas baru ini di sini. Seringkali aku ingin menjadi pewarta dengan berbagai hal yang nenampakkan hasil, lewat karya-karya yang ‘nampak jelas’ seperti yang bisa dilakukan di Indonesia (di sekolah, di rumah sakit, di panti asuhan). Tetapi ternyata dengan berani menjadi ‘tanda’, itu sudah sangat mengena dan menyapa orang untuk sampai kepada Allah. Kehadiran kami bertiga inilah yang menjadi kerasulan kami. Kerasulan kami saat ini bukanlah “doing” (kerja) melainkan “being” (keberadaan). Saat ini kami dipanggil bukan hanya untuk bekerja tetapi terlebih menjadi saksi kasih Allah. Trima kasih Tuhan aku boleh menjadi ‘tanda’ kehadiranMu.

Sr. Hedwig, CB

(Maastricht, 27 november 2009)