indahnya berserah

0009

BERANI MENJADI TANDA

Tinggalkan komentar

Pagi itu selesai perayaan Ekaristi aku berjalan ke centrum untuk membeli sesuatu, tapi ternyata toko yang kutuju masih tutup. Perjalanan kulanjutkan ke gua Maria kecil di samping gereja St. Mateas. Di sini kurasakan keheningan dan kedamaian, aku mendoakan orang-orang yang sudah kujanjikan untuk kudoakan. Waktu itu cuaca cerah sekali. Sambil berjalan kembali menuju ke centrum, kunikmati sinar matahari dan semilir angin dingin di musim gugur ini. Hatiku terasa hangat dan damai. Tiba-tiba di tengah jalan langkahku terhenti karena ada seorang ibu yang menyapa dan memperkenalkan diri. Dia minta doa untuk putranya yang ingin menjadi pastor. Meskipun baru kenal dan dengan keterbatasan bahasa Belanda yang kumiliki, kami bisa ngobrol cukup lama. Kujelaskan maksud kehadiran kami di kota ini, agar spiritualitas kongregasi kami tetap dikenal & hidup di Maastricht ini. Salah satu obrolan kami juga mengenai pakaian & kerudung yang kukenakan. Banyak para suster di sini yang sudah tidak memakai pakaian biara/ kerudung, sehingga generasi muda banyak yang tidak mengenal figur “suster”. Tanggapan ibu tersebut mengenai hal ini  sangat meneguhkanku. Dia mengatakan: “Kehadiran suster dengan pakaian biara & kebahagiaan yang terlihat dari wajah suster, sudah menjadi ‘tanda’ bagi setiap orang yang berjumpa dengan suster.”

Kata-kata ibu tadi mengingatkanku pada berbagai peristiwa sederhana yang memperjelas arti kehadiran kami di sini. Pada suatu petang ketika kami bertiga berjalan pulang ke komunitas kami, di tengah jalan kami berhenti & ngobrol dengan beberapa anak yang sedang bermain di depan rumah mereka. Mereka sekitar umur 7-12 th. Salah satu anak laki-laki tiba-tiba mengatakan: “Kalian adalah orang-orang baik.” Kami menanyakan bagaimana dia bisa mengatakan hal itu. Anak itu mengatakan: “ Aku bisa merasakannya.” Suatu kali kami berbelanja di supermaket, seorang ibu mendekati dan bertanya apakah kami suster yang di biara. Kami jawab ‘ya’, kemudian ibu itu menyebutkan namanya dan minta didoakan. Ketika kami pulang dari latihan koor, malam itu kami berpapasan dengan satu keluarga, spontan salah satu dari mereka berkata : ‘Lihatlah wajah-wajah yang gembira.’ Suatu pagi seperti biasa aku menyapa selamat pagi pada seorang bapak yang bertugas di gereja St. Servaast, spontan bapak itu berkata pada seorang ibu yang di dekatnya : ‘lihatlah suster yang selalu tersenyum.’ Di kelompok koor gereja St. Theresia yang mayoritas anggotanya orang-orang tua (mereka sejumlah 45 orang), salah satu diantara mereka mengatakan : ‘Kalian adalah bunga dalam kelompok koor ini. ‘ Artinya kehadiran kami bertiga menyegarkan bagi mereka, meskipun kami tidak mempunyai suara yang bagus. Suatu saat kami diminta untuk presentasi di sekolah anak-anak cacat. Isi presentasi itu mengenalkan tentang kehidupan kami sebagai biarawati, tentang berbagai hal negara Indonesia (tentang candi, buah-buahan, sayur-sayuran dan binatang-binatang yang khas Indonesia), bermain angklung & menari poco-poco. Sehari setelah acara tersebut, salah seorang guru mengatakan bahwa anak-anak merasa senang, bahkan ada seorang anak yang sehari-hari nampak murung, pada hari itu bisa tertawa riang. Mereka juga mengatakan kemungkinan kami akan diundang lagi untuk kelas yang lain, karena waktu itu kami baru presentasi untuk 4 kelas.

Saat ini memang belum banyak yang bisa kukerjakan di sini, tapi berbagai peristiwa sederhana di atas membantuku untuk menemukan arti kehadiran komunitas baru ini di sini. Seringkali aku ingin menjadi pewarta dengan berbagai hal yang nenampakkan hasil, lewat karya-karya yang ‘nampak jelas’ seperti yang bisa dilakukan di Indonesia (di sekolah, di rumah sakit, di panti asuhan). Tetapi ternyata dengan berani menjadi ‘tanda’, itu sudah sangat mengena dan menyapa orang untuk sampai kepada Allah. Kehadiran kami bertiga inilah yang menjadi kerasulan kami. Kerasulan kami saat ini bukanlah “doing” (kerja) melainkan “being” (keberadaan). Saat ini kami dipanggil bukan hanya untuk bekerja tetapi terlebih menjadi saksi kasih Allah. Trima kasih Tuhan aku boleh menjadi ‘tanda’ kehadiranMu.

Sr. Hedwig, CB

(Maastricht, 27 november 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s