indahnya berserah


8 Komentar

BERSAMA TUHAN ITU NGERI-NGERI SEDAP

Bersama Tuhan itu ngeri-ngeri sedep, aku kutip kalimat dr. Hawa untuk judul tulisanku ini. Peristiwa itu terjadi bulan Juni 2011, ketika dr. Hawa dan aku terkurung di menara “Drielandenpunt”. Waktu itu aku mengantar dr. Hawa yang baru pertama kali ke Maastricht ke Drielandenpunt. Drielandenpunt adalah titik pertemuan tiga negara: Jerman-Nederland-Belgia. Jarak Drielandenpunt dari biara kami cukup jauh, harus naik bus 2x, setelah itu masih jalan kaki melewati tengah hutan.
Kami sampai di lokasi sekitar jam 17.40, lalu kami naik ke menara dengan lift. Dari atas menara kita bisa melihat tiga negara tersebut. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, kami menikmati pemandangan indah di puncak menara itu sambil menyantap bekal kami. Setelah jam 18.30 kami memutuskan untuk turun naik tangga saja, sambil menikmati pemandangan sekitar. Waktu itu musim panas, jadi jam 18.30 masih sangat terang. Di tengah perjalanan turun aku berkata,” Loh kok bendera 3 negaranya sudah tidak ada ya.” Tepat di titik pertemuan, di situ dipasang 3 bendera dari: Jerman-Nederland-Belgia. Aku berpikir, oh mungkin malam hari benderanya di simpan. Sampai di bawah, betapa terkejutnya kami. Ternyata pintu keluar menara sudah terkunci. Kami terkurung di dalam. Bingung, tegang dan takut sekali rasanya waktu itu. Apalagi menara ini berada di tengah hutan, tidak ada rumah tinggal di sekitarnya. Dr. Hawa punya ide,”Suster kita sambung syal kita lalu kita turun dari atas dengan sambungan syal ini.” Jawabku,“Tidak dokter, saya tidak berani, takut jatuh karena dari batas pagar untuk turun cukup tinggi.”
Untung, tidak beberapa lama datang rombongan satu keluarga dan melihat kami. Senang sekali mereka bisa berbicara bahasa Belanda, jadi aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Aku ceritakan bahwa aku turun dari atas jam 18.30. Mereka bilang kalau menara ditutup jam 18.00 dan penjaga sudah pulang. Mereka kasihan melihat kami, lalu salah satu diantara mereka pergi ke salah satu kafe yang bersiap-siap untuk menutup kafenya. Orang itu bilang,” Suster pegawai kafe yang di sana itu mencoba untuk menelpon petugas menara yang sekitar 15 menit yang lalu pulang.” Setelah ditunggu beberapa saat belum ada tanda-tanda petugas menara datang, orang itu menelpon polisi untuk minta bantuan. Yang lainnya menelpon bagian pemadam kebakaran supaya lebih cepat dan mudah memberi pertolongan untuk untuk kami. Keluarga ini sangat baik, mereka tidak tega meninggalkan kami sebelum datang pertolongan.
Setelah sekitar 30 menit datang petugas menara membukakan pintu untuk kami. Petugas itu bilang,”maaf suster kami tidak tahu kalau masih ada orang di atas. Tadi kami sudah bertanya ke seorang ibu yang turun, katanya dia yang terakhir.” Dalam hatiku jengkel juga, kami kan yang terakhir masuk. Lagi pula aku pakai kerudung begini, masak tidak melihat kalau belum keluar. Tapi perasaan lega bisa keluar dari menara ini, mengalahkan rasa jengkelku. Jawabku,” Nggak papa pak, yang penting kami, sudah bisa keluar. Kami tidak mau tidur di tengah hutan ini.” Belum begitu jauh berjalan, kami ketemu mobil polisi. Mereka berhenti dan bertanya apakah kami yang tadi terkurung di dalam menara itu. Lalu aku ceritakan peristiwanya, polisi itu pun tertawa geli mendengar cerita kami. Setelah itu mereka pergi begitu saja menuju ke menara. Padahal waktu itu kami berharap bahwa polisi itu akan menawari kami untuk menumpang mobilnya karena hari sudah cukup malam dan jalannya sepi. Kami harus berjalan melalui hutan lagi ke halte bus. Kami sudah berpikir negatif tentang polisi ini, kok mereka tidak berbaik hati membawa kami sekalian di mobilnya, yang waktu itu masih ada tempat duduk kosong di belakang.
Belum jauh kami berjalan, kami melihat mobil polisi tadi berhenti di depan sebuah kafe. “Oh polisinya mau minum di kafe dulu suster,” kata dr. Hawa. Ternyata dugaan kami keliru. Polisi itu memanggil kami dan bertanya di mana kami tinggal. Aku jawab kalau kami tinggal di Maastricht dan masih harus turun ke halte bus, setelah itu masih harus ganti bus lagi di Gulpen ke Maastricht. “Oh kalau begitu mari kami antar sampai di bus halte Gulpen, suster dan ibu bisa langsung naik bus yang langsung ke Maastricht,” kata polisi itu. Seketika itu hati kami senangnya bukan main. Sepanjang jalan kami ngobrol dengan dua Bapak polisi yang baik hati ini, meski sebelumnya kami sudah berpikir negatif tentang mereka. Di tengah jalan aku melihat bus yang menuju Maastricht. Aku memberitahu ke polisi itu, bahwa bus yang di depan kami itu langsung ke Maastricht. Lalu polisi yang mengendarai mobil ini mengejar bus tersebut. Ketika bus berhenti di halte bus, segera mobil polisi yang kami tumpangi ini berhenti di depannya. Kami turun diantar salah satu Bapak polisi, yang menyerahkan kami ke sopir bus. Kulihat reaksi sopir bus yang kaget karena ada polisi yang berhenti di depannya. Setelah berterima kasih ke bapak polisi, aku ceritakan ke sopir bus dan penumpang bus yang lainnya tentang pengalaman kami. Mereka tertawa semua. “Suster ini ada-ada saja…,” komentar mereka.
Rencanamu bukanlah rencanaKu, dari peristiwa sederhana yang tak terlupakan ini aku belajar untuk percaya bahwa Tuhan senantiasa mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita dan memberi bantuan tepat pada waktunya. Bahkan seringkali Dia memberi lebih dari yang kita harapkan. Dia selalu mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita, meski kadang sulit untuk menangkap rencanaNya yang indah itu. Kadang Dia menganugerahkan sesuatu yang indah dalam hidup kita melalui perisitiwa yang kurang menyenangkan atau yang tidak kita harapkan. Seperti pengalamanku di atas, melalui pengalaman terkurung dalam menara yang membuat hati was-was, takut, panik, bahkan sempat berpikiran negatif terhadap Bapak Polisi yang akhirnya justru membawa kami ke bus yang langsung ke Maastricht, sehingga tidak perlu berjalan lagi melalui hutan untuk ke halte bus. Waktu itu dr. Hawa mengatakan,”kakiku dah hampir mogok lho suster, tapi ternyata kita nggak harus turun lewat hutan yang sepi itu lagi, bahkan bisa naik mobil polisi ke tempat bus.” Dia sudah merencanakan sesuatu yang indah untuk kami berdua. Dari peristiwa apa pun yang kita alami, asal kita mau terbuka terhadap kehendakNya, aku percaya bahwa Dia akan selalu memberi sesuatu yang indah pada waktunya.

Sr. Hedwig, CB
26 Juli 2012.


2 Komentar

HIDUPKU MENGALIR BERSAMANYA

Tulisan ini kubuat hampir 2 tahun yang lalu dan pernah diterbitkan dalam majalah intern Kongregasi kami (para suster CB). Pengalaman awal yang indah dalam menjalankan perutusanku sebagai misionaris di Belanda ini.

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sudah 2 tahun aku menjalankan perutusanku di komunitas Internasional ini. Kadang dalam keheningan kubertanya pada diriku sendiri,”Benarkah ini yang Tuhan kehendaki dalam panggilanku saat ini?” Pertanyaan ini muncul di saat aku merasa diri tidak berarti karena tidak bisa memberikan sesuatu bagi orang lain dalam situasiku saat ini. Pada tahun pertama, ketika berjumpa dengan sesama suster dari kongregasi lain yang bernasib sama dengan aku, mereka mengungkapkan perasaan mereka yang ‘berat’ karena di usia produktif, sepertinya tidak bisa berbuat banyak bagi orang lain. Saat itu aku masih bisa menghibur diri dan menerima situasiku ini. Semangatku bernyala-nyala untuk memulai komunitas ini. Dukungan doa dan semangat dari para suster mendorongku untuk terus maju. Setiap saat aku diingatkan akan arti ‘kehadiran’ku di tempat ini, bukan hanya untuk ‘bekerja’ (doing), tapi lebih untuk ‘hadir’(being) memberi kesaksian hidup bagi orang lain dan mengenalkan spiritualitas Bunda Elisabeth melalui hidup sehari-hari. Aku mencoba untuk menghidupi dan menghayati hal ini.

Ketika lewat 1 tahun, ternyata ini tidak mudah bagiku. Apalagi ketika salah satu saudariku sekomunitas sudah mulai bekerja di ekonomat generalat. Waktu itu kami masih bertiga: sr. F, sr T dan aku. Pada saat teman-teman atau kenalan bertanya: “sr. F bekerja di sekretariat, sr T bekerja di ekonomat, sedangkan suster tugasnya apa?” Ternyata sedih juga kalau mendapat pertanyaan seperti ini. Apalagi dalam ‘dunia’ orang-orang jaman sekarang ‘pekerjaan’ menjadi sesuatu yang penting. Bahkan sesama suster CB atau teman-teman dari Indonesia sering kali juga bertanya,”Suster tugasnya apa di situ?” Ketika aku jawab,”Saat ini masih belajar bahasa Belanda sambil melihat-lihat kemungkinan karya yang bisa kami lakukan di sini.” Pertanyaan selanjutnya,”Belajar bahasanya kok lama sekali.”  Belajar bahasa Belanda ternyata juga tidak mudah bagiku. Aku harus sabar untuk terus belajar dan berlatih bahasa Belanda yang sulit ini. Kadang kalau membaca sharing teman yang sibuk dengan berbagai kegiatan dan tugas di sekolah maupun di rumah sakit di Indonesia, muncul kerinduan untuk mengalami seperti itu. Inilah pergulatan batinku saat ini.

Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah, membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kesetiaan. Di satu sisi ada hal-hal yang memberatkan hatiku tetapi di sisi lain ada hal-hal yang membuatku percaya bahwa Tuhan menghendaki komunitas ini berkembang. Tuhan memang tidak memberikan sesuatu yang ‘wah’ dan ‘hebat’, tetapi melalui hal-hal sederhana namun nyata untuk menjadi tanda bahwa Dia berkarya dalam komunitas ini. Rasanya tidak percaya ketika aku melihat kembali perjalanan hidup dan perkembangan komunitas baru ini. Berbekal bahasa Belanda yang sangat minim kami memulai komunitas baru di St. Theresiaplein 13. Saat itu kami belum mengenal seorang pun tetangga di Theresiaplein ini. Pelan-pelan Tuhan membuka jalanNya, sehingga kami bisa kontak dengan banyak orang. Bersama Br. Alfred, FIC kami memulai kelompok koor untuk misa bahasa Inggris dengan beberapa teman mahasiswa dari berbagai negara. Waktu itu dari Afrika, Meksiko, Portugal, Jerman, Belanda dan Indonesia. Meskipun sekarang anggotanya semakin berkurang, karena beberapa teman sudah selesai study dan kembali ke negaranya. Kami juga menjadi anggota koor di paroki kami, yang anggotanya semua orang Belanda. Mereka senang sekali bahwa kami bergabung dengan mereka. Meskipun kami tidak mempunyai suara yang merdu, tetapi kehadiran kami sangat berarti bagi mereka. Relasi dengan tetangga-tetangga juga terjalin dengan baik. Kami mengadakan kunjungan ke tetangga yang membutuhkan sapaan sesamanya karena tinggal sendirian di rumah. Kami mulai mengikuti kegiatan-kegiatan untuk kaum muda yang diselenggarakan oleh keuskupan Roermond.

Semangatku mulai muncul kembali ketika aku diberi kesempatan untuk menjadi vrijwilliger (sukarelawan) di sekolah Adelante. Aku membantu di Taman kanak-kanak 2x seminggu mulai dari jam 09.00 s/d jam 15.30. Bahagianya kembali merasakan suasana sekolah bersama anak-anak, para guru dan orang tua. Jalan Tuhan seringkali tidak terduga. Aku  tidak menduga bisa membantu di sekolah ini karena peraturan negara yang sulit untuk orang asing yang ingin terlibat dalam instansi resmi seperti sekolah Adelante ini. Hal ini merupakan kesempatan yang berharga. Anak-anak, para guru, karyawan dan orang tua masih bisa melihat figur ‘suster’ di sekolah mereka. Komentar spontan seorang guru ketika pertama kali aku datang ke sekolah, “Betapa menyenangkan di jaman sekarang masih bisa melihat suster yang berkerudung seperti ini.” Kejutan lain yang diberikan Tuhan kepadaku adalah kesempatan untuk mengikuti camping bersama anak-anak dari keuskupan Roermond selama 6 hari bulan Agustus yang lalu. Waktu itu aku bersama 58 orang (37 anak perempuan usia 7th s/d 12th dan 21 pendamping + staf dapur). Tidak kuduga bahwa aku bisa bergabung bersama panitia ‘Meisjeskamp’ dan mengikuti seluruh kegiatan, karena sebelumnya tidak terdaftar sebagai panitia. Jalan Tuhan sangat unik dan tidak terduga untuk mengembangkan komunitas ini.

Pengalaman-pengalaman ini semakin menguatkanku bahwa inilah panggilanku saat ini. Aku mengalami Tuhan telah membimbing dan menyediakan semua yang dibutuhkan komunitas ini. Aku sadar bahwa tantangan ke depan untuk perkembangan komunitas ini tidak mudah dan butuh kesabaran dari dalam diriku untuk berproses. Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Akhirnya aku mengalami bahwa bukan aku yang mengerjakannya, melainkan Dialah yang mengerjakan segala sesuatunya. Aku hanyalah alat di tanganNya. Betapa indahnya hidupku mengalir bersama Tuhan.

Sr. Hedwig, CB

(Maastricht, 3 November 2010)