indahnya berserah

Air-Mengalir_haiart

HIDUPKU MENGALIR BERSAMANYA

2 Komentar

Tulisan ini kubuat hampir 2 tahun yang lalu dan pernah diterbitkan dalam majalah intern Kongregasi kami (para suster CB). Pengalaman awal yang indah dalam menjalankan perutusanku sebagai misionaris di Belanda ini.

Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sudah 2 tahun aku menjalankan perutusanku di komunitas Internasional ini. Kadang dalam keheningan kubertanya pada diriku sendiri,”Benarkah ini yang Tuhan kehendaki dalam panggilanku saat ini?” Pertanyaan ini muncul di saat aku merasa diri tidak berarti karena tidak bisa memberikan sesuatu bagi orang lain dalam situasiku saat ini. Pada tahun pertama, ketika berjumpa dengan sesama suster dari kongregasi lain yang bernasib sama dengan aku, mereka mengungkapkan perasaan mereka yang ‘berat’ karena di usia produktif, sepertinya tidak bisa berbuat banyak bagi orang lain. Saat itu aku masih bisa menghibur diri dan menerima situasiku ini. Semangatku bernyala-nyala untuk memulai komunitas ini. Dukungan doa dan semangat dari para suster mendorongku untuk terus maju. Setiap saat aku diingatkan akan arti ‘kehadiran’ku di tempat ini, bukan hanya untuk ‘bekerja’ (doing), tapi lebih untuk ‘hadir’(being) memberi kesaksian hidup bagi orang lain dan mengenalkan spiritualitas Bunda Elisabeth melalui hidup sehari-hari. Aku mencoba untuk menghidupi dan menghayati hal ini.

Ketika lewat 1 tahun, ternyata ini tidak mudah bagiku. Apalagi ketika salah satu saudariku sekomunitas sudah mulai bekerja di ekonomat generalat. Waktu itu kami masih bertiga: sr. F, sr T dan aku. Pada saat teman-teman atau kenalan bertanya: “sr. F bekerja di sekretariat, sr T bekerja di ekonomat, sedangkan suster tugasnya apa?” Ternyata sedih juga kalau mendapat pertanyaan seperti ini. Apalagi dalam ‘dunia’ orang-orang jaman sekarang ‘pekerjaan’ menjadi sesuatu yang penting. Bahkan sesama suster CB atau teman-teman dari Indonesia sering kali juga bertanya,”Suster tugasnya apa di situ?” Ketika aku jawab,”Saat ini masih belajar bahasa Belanda sambil melihat-lihat kemungkinan karya yang bisa kami lakukan di sini.” Pertanyaan selanjutnya,”Belajar bahasanya kok lama sekali.”  Belajar bahasa Belanda ternyata juga tidak mudah bagiku. Aku harus sabar untuk terus belajar dan berlatih bahasa Belanda yang sulit ini. Kadang kalau membaca sharing teman yang sibuk dengan berbagai kegiatan dan tugas di sekolah maupun di rumah sakit di Indonesia, muncul kerinduan untuk mengalami seperti itu. Inilah pergulatan batinku saat ini.

Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah, membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kesetiaan. Di satu sisi ada hal-hal yang memberatkan hatiku tetapi di sisi lain ada hal-hal yang membuatku percaya bahwa Tuhan menghendaki komunitas ini berkembang. Tuhan memang tidak memberikan sesuatu yang ‘wah’ dan ‘hebat’, tetapi melalui hal-hal sederhana namun nyata untuk menjadi tanda bahwa Dia berkarya dalam komunitas ini. Rasanya tidak percaya ketika aku melihat kembali perjalanan hidup dan perkembangan komunitas baru ini. Berbekal bahasa Belanda yang sangat minim kami memulai komunitas baru di St. Theresiaplein 13. Saat itu kami belum mengenal seorang pun tetangga di Theresiaplein ini. Pelan-pelan Tuhan membuka jalanNya, sehingga kami bisa kontak dengan banyak orang. Bersama Br. Alfred, FIC kami memulai kelompok koor untuk misa bahasa Inggris dengan beberapa teman mahasiswa dari berbagai negara. Waktu itu dari Afrika, Meksiko, Portugal, Jerman, Belanda dan Indonesia. Meskipun sekarang anggotanya semakin berkurang, karena beberapa teman sudah selesai study dan kembali ke negaranya. Kami juga menjadi anggota koor di paroki kami, yang anggotanya semua orang Belanda. Mereka senang sekali bahwa kami bergabung dengan mereka. Meskipun kami tidak mempunyai suara yang merdu, tetapi kehadiran kami sangat berarti bagi mereka. Relasi dengan tetangga-tetangga juga terjalin dengan baik. Kami mengadakan kunjungan ke tetangga yang membutuhkan sapaan sesamanya karena tinggal sendirian di rumah. Kami mulai mengikuti kegiatan-kegiatan untuk kaum muda yang diselenggarakan oleh keuskupan Roermond.

Semangatku mulai muncul kembali ketika aku diberi kesempatan untuk menjadi vrijwilliger (sukarelawan) di sekolah Adelante. Aku membantu di Taman kanak-kanak 2x seminggu mulai dari jam 09.00 s/d jam 15.30. Bahagianya kembali merasakan suasana sekolah bersama anak-anak, para guru dan orang tua. Jalan Tuhan seringkali tidak terduga. Aku  tidak menduga bisa membantu di sekolah ini karena peraturan negara yang sulit untuk orang asing yang ingin terlibat dalam instansi resmi seperti sekolah Adelante ini. Hal ini merupakan kesempatan yang berharga. Anak-anak, para guru, karyawan dan orang tua masih bisa melihat figur ‘suster’ di sekolah mereka. Komentar spontan seorang guru ketika pertama kali aku datang ke sekolah, “Betapa menyenangkan di jaman sekarang masih bisa melihat suster yang berkerudung seperti ini.” Kejutan lain yang diberikan Tuhan kepadaku adalah kesempatan untuk mengikuti camping bersama anak-anak dari keuskupan Roermond selama 6 hari bulan Agustus yang lalu. Waktu itu aku bersama 58 orang (37 anak perempuan usia 7th s/d 12th dan 21 pendamping + staf dapur). Tidak kuduga bahwa aku bisa bergabung bersama panitia ‘Meisjeskamp’ dan mengikuti seluruh kegiatan, karena sebelumnya tidak terdaftar sebagai panitia. Jalan Tuhan sangat unik dan tidak terduga untuk mengembangkan komunitas ini.

Pengalaman-pengalaman ini semakin menguatkanku bahwa inilah panggilanku saat ini. Aku mengalami Tuhan telah membimbing dan menyediakan semua yang dibutuhkan komunitas ini. Aku sadar bahwa tantangan ke depan untuk perkembangan komunitas ini tidak mudah dan butuh kesabaran dari dalam diriku untuk berproses. Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Akhirnya aku mengalami bahwa bukan aku yang mengerjakannya, melainkan Dialah yang mengerjakan segala sesuatunya. Aku hanyalah alat di tanganNya. Betapa indahnya hidupku mengalir bersama Tuhan.

Sr. Hedwig, CB

(Maastricht, 3 November 2010)

2 thoughts on “HIDUPKU MENGALIR BERSAMANYA

  1. menarik sekali membaca tulisan St. Aku jadi bisa sedikit memahami bgmn Sr. berkarya di sana, juga pergulatan batin Sr. selama masa menunggu tugas.

  2. terima kasih… pergulatan batin saya pada awal tugas disini adalah dalam ketidakpastian dan keterbatasan mencari sesuatu yang bisa kami kerjakan untuk karya kerasulan kami, karena kami membuka komunitas dan karya baru… sejak awal, tugas saya jelas seperti itu, jadi bukan masa menunggu tugas tapi masa ketidakpastian dalam proses awal pencarian itu yg cukup berat untuk saya. Terima kasih untuk tanggapannya. Gbu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s