indahnya berserah

CIMG3006

BERSAMA TUHAN ITU NGERI-NGERI SEDAP

8 Komentar

Bersama Tuhan itu ngeri-ngeri sedep, aku kutip kalimat dr. Hawa untuk judul tulisanku ini. Peristiwa itu terjadi bulan Juni 2011, ketika dr. Hawa dan aku terkurung di menara “Drielandenpunt”. Waktu itu aku mengantar dr. Hawa yang baru pertama kali ke Maastricht ke Drielandenpunt. Drielandenpunt adalah titik pertemuan tiga negara: Jerman-Nederland-Belgia. Jarak Drielandenpunt dari biara kami cukup jauh, harus naik bus 2x, setelah itu masih jalan kaki melewati tengah hutan.
Kami sampai di lokasi sekitar jam 17.40, lalu kami naik ke menara dengan lift. Dari atas menara kita bisa melihat tiga negara tersebut. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, kami menikmati pemandangan indah di puncak menara itu sambil menyantap bekal kami. Setelah jam 18.30 kami memutuskan untuk turun naik tangga saja, sambil menikmati pemandangan sekitar. Waktu itu musim panas, jadi jam 18.30 masih sangat terang. Di tengah perjalanan turun aku berkata,” Loh kok bendera 3 negaranya sudah tidak ada ya.” Tepat di titik pertemuan, di situ dipasang 3 bendera dari: Jerman-Nederland-Belgia. Aku berpikir, oh mungkin malam hari benderanya di simpan. Sampai di bawah, betapa terkejutnya kami. Ternyata pintu keluar menara sudah terkunci. Kami terkurung di dalam. Bingung, tegang dan takut sekali rasanya waktu itu. Apalagi menara ini berada di tengah hutan, tidak ada rumah tinggal di sekitarnya. Dr. Hawa punya ide,”Suster kita sambung syal kita lalu kita turun dari atas dengan sambungan syal ini.” Jawabku,“Tidak dokter, saya tidak berani, takut jatuh karena dari batas pagar untuk turun cukup tinggi.”
Untung, tidak beberapa lama datang rombongan satu keluarga dan melihat kami. Senang sekali mereka bisa berbicara bahasa Belanda, jadi aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Aku ceritakan bahwa aku turun dari atas jam 18.30. Mereka bilang kalau menara ditutup jam 18.00 dan penjaga sudah pulang. Mereka kasihan melihat kami, lalu salah satu diantara mereka pergi ke salah satu kafe yang bersiap-siap untuk menutup kafenya. Orang itu bilang,” Suster pegawai kafe yang di sana itu mencoba untuk menelpon petugas menara yang sekitar 15 menit yang lalu pulang.” Setelah ditunggu beberapa saat belum ada tanda-tanda petugas menara datang, orang itu menelpon polisi untuk minta bantuan. Yang lainnya menelpon bagian pemadam kebakaran supaya lebih cepat dan mudah memberi pertolongan untuk untuk kami. Keluarga ini sangat baik, mereka tidak tega meninggalkan kami sebelum datang pertolongan.
Setelah sekitar 30 menit datang petugas menara membukakan pintu untuk kami. Petugas itu bilang,”maaf suster kami tidak tahu kalau masih ada orang di atas. Tadi kami sudah bertanya ke seorang ibu yang turun, katanya dia yang terakhir.” Dalam hatiku jengkel juga, kami kan yang terakhir masuk. Lagi pula aku pakai kerudung begini, masak tidak melihat kalau belum keluar. Tapi perasaan lega bisa keluar dari menara ini, mengalahkan rasa jengkelku. Jawabku,” Nggak papa pak, yang penting kami, sudah bisa keluar. Kami tidak mau tidur di tengah hutan ini.” Belum begitu jauh berjalan, kami ketemu mobil polisi. Mereka berhenti dan bertanya apakah kami yang tadi terkurung di dalam menara itu. Lalu aku ceritakan peristiwanya, polisi itu pun tertawa geli mendengar cerita kami. Setelah itu mereka pergi begitu saja menuju ke menara. Padahal waktu itu kami berharap bahwa polisi itu akan menawari kami untuk menumpang mobilnya karena hari sudah cukup malam dan jalannya sepi. Kami harus berjalan melalui hutan lagi ke halte bus. Kami sudah berpikir negatif tentang polisi ini, kok mereka tidak berbaik hati membawa kami sekalian di mobilnya, yang waktu itu masih ada tempat duduk kosong di belakang.
Belum jauh kami berjalan, kami melihat mobil polisi tadi berhenti di depan sebuah kafe. “Oh polisinya mau minum di kafe dulu suster,” kata dr. Hawa. Ternyata dugaan kami keliru. Polisi itu memanggil kami dan bertanya di mana kami tinggal. Aku jawab kalau kami tinggal di Maastricht dan masih harus turun ke halte bus, setelah itu masih harus ganti bus lagi di Gulpen ke Maastricht. “Oh kalau begitu mari kami antar sampai di bus halte Gulpen, suster dan ibu bisa langsung naik bus yang langsung ke Maastricht,” kata polisi itu. Seketika itu hati kami senangnya bukan main. Sepanjang jalan kami ngobrol dengan dua Bapak polisi yang baik hati ini, meski sebelumnya kami sudah berpikir negatif tentang mereka. Di tengah jalan aku melihat bus yang menuju Maastricht. Aku memberitahu ke polisi itu, bahwa bus yang di depan kami itu langsung ke Maastricht. Lalu polisi yang mengendarai mobil ini mengejar bus tersebut. Ketika bus berhenti di halte bus, segera mobil polisi yang kami tumpangi ini berhenti di depannya. Kami turun diantar salah satu Bapak polisi, yang menyerahkan kami ke sopir bus. Kulihat reaksi sopir bus yang kaget karena ada polisi yang berhenti di depannya. Setelah berterima kasih ke bapak polisi, aku ceritakan ke sopir bus dan penumpang bus yang lainnya tentang pengalaman kami. Mereka tertawa semua. “Suster ini ada-ada saja…,” komentar mereka.
Rencanamu bukanlah rencanaKu, dari peristiwa sederhana yang tak terlupakan ini aku belajar untuk percaya bahwa Tuhan senantiasa mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita dan memberi bantuan tepat pada waktunya. Bahkan seringkali Dia memberi lebih dari yang kita harapkan. Dia selalu mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita, meski kadang sulit untuk menangkap rencanaNya yang indah itu. Kadang Dia menganugerahkan sesuatu yang indah dalam hidup kita melalui perisitiwa yang kurang menyenangkan atau yang tidak kita harapkan. Seperti pengalamanku di atas, melalui pengalaman terkurung dalam menara yang membuat hati was-was, takut, panik, bahkan sempat berpikiran negatif terhadap Bapak Polisi yang akhirnya justru membawa kami ke bus yang langsung ke Maastricht, sehingga tidak perlu berjalan lagi melalui hutan untuk ke halte bus. Waktu itu dr. Hawa mengatakan,”kakiku dah hampir mogok lho suster, tapi ternyata kita nggak harus turun lewat hutan yang sepi itu lagi, bahkan bisa naik mobil polisi ke tempat bus.” Dia sudah merencanakan sesuatu yang indah untuk kami berdua. Dari peristiwa apa pun yang kita alami, asal kita mau terbuka terhadap kehendakNya, aku percaya bahwa Dia akan selalu memberi sesuatu yang indah pada waktunya.

Sr. Hedwig, CB
26 Juli 2012.

8 thoughts on “BERSAMA TUHAN ITU NGERI-NGERI SEDAP

  1. Wah ini betul2 ceritera indah yang termasuk autobiografie,Memang kadang2 manusia itu tidak tahu apa yang direncanakan oleh sang pencipta dalam hidupnya.Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya.Hanya sang umat yang kadang2 tidak memberikan yang terbaik untuk sang Pencipta.
    Tuhan selalu melindungi dan menjaga kita didalam hidup ini.

  2. Terima kasih Krishna untuk koment nya. Betul sekali apa yang Krishna tulis itu, aku mengamininya.

  3. suster boleh percaya boleh tidak, hidup ini hanya mengumpulkan cerita, cerita-cerita menyedihkan setelah berganti tahun akan menjadi cerita yang menggembirakan, tapi juga bisa terjadi cerita yang menggembirakan ganti tahun menjadi menyedihkan. Pagi ini keluarga kami baru dapat cerita yang “horek”. Ika anak kami, mau pergi ke Pekanbaru, naik kereta dari jogya tadi malam, sesampai di gambir semua tas dan identitas hilang semua. Jadi tinggal bawa uang 400 ribu, sama tubuh yang kecil itu. Ia nangis, terus ada bapak yang baik hati meminjami telp, bahkan telpnya dipinjamkan ika, besuk dikembalikan saat sudah di jogya. bapak tadi berasal dari jogya.. Agak horek karena jam 11 harus terbang ke pekanbaru..saat ini ia sedang cek in di bandara.
    Hidup selalu dipenuhi keajaiban, ketika kesulitan datang Tuhan mengirim para pembantunya untuk menyelesaikan masalah kita.
    Aku tadi bilang “Kamu diberi cerita “Horek” dari Tuhan, dengan imbalan Ipad, HP, Tas, SIM A/C dan KTP. Kamu mesti tertawa karena IPAD, HP, TAS, SIM A/C dan KTP bisa dicari lagi…lah cerita “HOREK” tidak mungkin terulang lagi. Ia sudah tertawa dalam tubuh kecilnya itu. Ia memang agak kelebihan kepercayaan diri, dan menganggap semua orang itu baik…

  4. Wah bisa saya bayangkan bagaimana paniknya Ika saat itu, juga pak Priyo & ibu yg di rumah. Iya, memang betul, kita bisa mentertawakan diri sendiri dan mensyukuri setelah kejadian itu terjadi, meski saat kejadian terjadi betul-betul tegang… Berbahagialah orang yg bisa menemukan makna dibalik setiap peristiwa yg kita alami, krn akan terus mensyukuri hidup dan menemukan Tuhan dalam setiap peristiwa… Saya juga bersyukur sebagai orang Jawa, yg selalu mengatakan “untung”… dlm peristiwa apa pun selalu bisa mengatakan “untung…” Dlm peristiwanya Ika, untung msh ada uang 400 ribu dan ada seorang Bapak yg baik hati… hehehe… tp “untung…” itu td kita percaya berasal dari Tuhan. Semoga semua urusan Ika di Pekanbaru semua lancar… Berkah Dalem.

  5. Suster,, cerita yang mencerahkan,,, sekali kali ijin ya dipake utk bahan training hehe,,,
    Dari cerita suster saya jd ingat pernah ada kawan yang mengatakan, Tuhan kita itu penuh dengan misteri, bahkan karena itulah buktikan bahwa Dia Allah yang hidup. Dia selalu bekerja dengan caraNya, “Tenanglah hai jiwaku, dalam naungan sayapNya, kan kuatasi gunung tinggi dan kulintasi samudra raya”
    Terpujilah Tuhan, dan pujilah Tuhan hai segala yang bernafas,,, pujilah Tuhan

    • Aminnn… Silahkan Nang kalau bisa dipakai utk bahan training, dengan senang hati… Betul, Tuhan kita memang penuh dengan misteri dan Dia benar-benar hidup menyertai kita setiap waktu. Pokoknya, ndherek Gusti itu sungguh indah dan membuat jiwa kita tenteram.

  6. Tiga tahun ini mestinya sibuk ndherek Gusti sampai gak sempat lagi ngeblog, haha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s