indahnya berserah

CIMG1179

TUHAN, SEANDAINYA AKU BISA LARI

Tinggalkan komentar

Tulisan ini kutulis 2 tahun yang lalu, pengalaman pertama kali mengikuti camping rohani yang sungguh mengesan dan menjadi langkah awal untuk memulai kegiatan bersama anak-anak selanjutnya.

Siang itu aku dapat telphone dari Marie Jose (koordinator kegiatan untuk kaum muda di keuskupan Roermond). Dia mengingatkan aku,”Suster jangan lupa sekarang baru ada meidenkamp di Simpelveld. Suster bisa datang untuk melihat-lihat kapan saja.” Meidenkamp adalah acara camping untuk anak-anak perempuan usia 12th s/d 17th. Marie Jose tahu komunitas Internasional ini dan ingin membantu kami untuk mengenal kegiatan-kegiatan kaum muda di keuskupan Roermond. Memang saat ini kami baru tahap melihat-lihat karena bahasa Belanda kami belum mencukupi untuk ikut terlibat langsung dalam kegiatan dengan anak-anak. Senang sekali mendapat berita ini. Langsung aku mencari informasi tentang meidenkamp ini. Kebetulan acara diadakan di biara para suster Sang Timur, di Simpelveld. Kuhubungi Sr Veronika, PIJ yang sudah kukenal. Ternyata untuk datang dan melihat-lihat, tidak semudah yang kubayangkan. Sr. Veronika waktu itu tidak masuk dalam panitia sehingga tidak berani untuk menemani saya melihat-lihat meidenkamp ini. Sedangkan jadwal kunjungan Marie Jose dengan aku tidak cocok. Marie Jose hanya datang berkunjung beberapa kali dan tidak sepenuhnya ikut acara camping yang diselenggarakan selama 5 hari tersebut. Pupus sudah harapanku. Tidak kuduga Tuhan memberi jalan. Pada malam terakhir ada acara bonte avond (malam kreatifitas) dan para suster Sang Timur diundang semua untuk melihat acara ini. Maka Sr. Veronika memberitahu aku untuk datang pada acara ini sebagai tamunya para suster dan bisa ikut menonton bonte avond ini. Itu berarti aku harus menginap di sana karena acara bonte avond selesai sampai jam 22.00. Aku menyanggupi kesempatan berharga ini, meskipun pagi hari berikutnya aku harus ke sekolah Adelante.

Pada acara bonte avond ini aku bisa bertemu dengan Marjolein yang akan menjadi ketua panitia pada acara meisjeskamp (camping untuk anak perempuan usia 7th s/d 12 th) yang diadakan minggu berikutnya. Kuungkapkan keinginanku untuk belajar dalam kegiatan meisjeskamp dan Marjolein menyambut dengan terbuka. Kukatakan bahwa aku hanya ingin melihat-lihat karena aku belum mempunyai pengalaman dalam meisjeskamp dan bahasa Belandaku juga masih terbatas. Sekali lagi tidak kuduga, Tuhan memberiku kesempatan emas. Marjolein memberitahu aku lewat email bahwa aku bisa mengikuti keseluruhan acara meisjeskamp dan membantu memasak di dapur. Kebetulan kookstaf (staf dapur) yang ada hanya 2 orang dewasa dan dibantu beberapa anak remaja. Jadi aku bisa membantu mereka, apalagi peserta camping cukup banyak (37 anak) dan ada 20 leiding (pendamping) dan kookstaf. Jadilah aku salah satu bagian dari panitia meisjeskamp ini.

Aku datang sehari sebelum acara dimulai dan membantu panitia menyiapkan segala sesuatunya untuk peserta. Sore itu Sr. Veronika menceritakan tentang persiapan yang telah dilakukan oleh panitia ini. Ternyata untuk menjadi panitia dalam acara ini sudah harus mendaftar paling tidak setengah tahun sebelumnya. Mereka mendapat pembinaan dan pembekalan-pembekalan khusus dari keuskupan. Persiapan acara ini sangat matang, maka Sr. Veronika tidak berani menemani aku melihat-lihat ketika aku ingin datang pada acara meidenkamp, apalagi aku belum mengenal satu pun panitia meidenkamp. Sr. Veronika (suster ini orang Indonesia) mensharingkan pengalaman awalnya terlibat dalam kegiatan ini. Waktu itu bahasa Belandanya masih terbatas seperti diriku saat ini dan langsung masuk sebagai tim leiding (pendamping). Dia menceritakan betapa menyakitkan pengalaman awal itu. Dia harus terlibat langsung mendampingi anak-anak, berdiskusi dan membuat permainan untuk mereka, sedangkan bahasa Belandanya saat itu masih terbatas. Kadang-kadang dibodoh-bodohkan oleh pendamping lain karena tidak mengerti maksud pembicaraan. Para pendamping terkesan menolak dan meremehkannya. Dia merasakan sampai saat ini pun (tahun ke-3 dia mengikuti acara ini) masih ada pendamping yang kurang menerimanya.

Pada malam persiapan itu, untuk pertama kalinya aku makan bersama dengan para pendamping. Kurasakan ada beberapa pendamping yang kelihatan kurang senang dengan kehadiran para suster di tengah-tengah mereka. Saat itu muncul ketakutan dalam hatiku. Selama 5 hari aku akan bekerja sama dengan mereka, dan tidak satupun diantara mereka yang bisa bahasa Indonesia kecuali Sr. Veronika. Sr. Veronika masuk dalam panitia pendamping, sedangkan aku membantu di kookstaf. Itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Sr. Veronika. Semangatku untuk terlibat dalam camping ini yang tadinya menyala-menyala mulai meredup. Dalam doaku sebelum tidur kuungkapkan kepada Tuhan, “Tuhan seandainya aku bisa lari dari sini, aku ingin pulang. Rasanya aku belum siap untuk terlibat di sini. Tetapi Engkau yang memberiku jalan sehingga aku bisa terlibat dalam acara ini, maka beri aku kemampuan yang aku butuhkan saat ini.” Setiap pagi kubuka hari dengan doa permohonan agar aku diberi kemampuan yang kubutuhkan untuk terlibat dalam meisjeskamp ini.

Tuhan memberiku kesempatan sesuai dengan kemampuan yang kumiliki. Tugas sebagai kookstaf tidak menuntut banyak komunikasi dengan anak-anak dan pendamping. Aku bisa melayani mereka dengan sepenuh hati. Komunikasiku dengan mereka adalah saat melayani mereka makan dan saat-saat luang tidak ada kegiatan di dapur, aku diberi kesempatan untuk melihat kegiatan-kegiatan mereka. Tante Mariet sebagai ketua kookstaf dan anggota kookstaf yang lain (ada 7 orang) merasa gembira dengan kehadiranku. Mereka selalu menyebutku hartelijke zuster (suster yang ramah). Aku pun menikmati kesempatan berharga ini, meski seringkali juga tidak mengerti dengan jelas ketika berbicara dengan mereka. Ketulusan hati lebih dirasakan, dan keterbatasan kata-kata tidak menghambat untuk berkomunikasi. Para pendamping pun akhirnya menerimaku dengan hati terbuka. Mereka senang dengan kehadiranku yang tidak terduga ini di tengah-tengah mereka. Mereka berharap tahun depan aku bisa terlibat lagi dalam acara ini dan berkerja sama kembali bersama mereka. Sr. Veronika mengatakan,”Suster beruntung, masuk dalam situasi dan kesempatan yang tepat. Aku merasakan para pendamping menerima suster dengan hati terbuka. Ini awal yang bagus bagi suster untuk terlibat dengan mereka.”
Aku sungguh bersyukur pada Tuhan. Jalan yang diberikan Tuhan padaku memang unik dan tidak terduga-duga. Dia juga memberiku kesempatan sesuai dengan kemampuan yang kumiliki. Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah, apalagi di negeri orang dengan kemampuan bahasa seperti yang kumiliki saat ini. Tetapi aku percaya Dia akan selalu memberiku jalan agar kehendakNya terlaksana dalam komunitas Internasional ini.

Maastricht, 29 Agustus 2010

Sr. Hedwig
Kom. Stella Maris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s