indahnya berserah


Tinggalkan komentar

SUNGGUHKAH DIA ADA

Sejak kecil saya sangat tertarik tentang Tuhan. Dimana DIA berada? Seperti apa? Dan sebagainya … Seiring waktu saya terus mendapatkan jawaban. Jawabannya bervariasi dan banyak versi. Namun seiring waktu pula jawaban-jawaban tersebut bukan hanya bervariasi tapi juga berubah. Tulisan kakakku yang ditulis di face booknya ini sungguh menarik untukku. Pencarian akan Dia, tidak akan pernah berakhir dalam hidup, dan penemuan akan keberadaanNya dalam hidupku pun selalu berubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan dan kematangan diriku. Ada saat aku bertanya, “Sungguhkah Dia ada?” Ada saat pula, Dia sungguh menunjukkan keberadaanNya yang sangat dekat dengan diriku, bahkan jiwaku sungguh merasa aman, damai dan tenteram dalam pelukanNya.

Seminggu yang lalu, Mgr. E. de Jong (uskup pembantu di Keuskupan Roermond) mengantarkan kami keliling menara Basilik Sint. Servaas yang letaknya disamping biara induk kami. Sampailah kami ke Grameer (lonceng besar di dalam Gereja yang hanya dibunyikan kalau ada pesta besar). Aku kira kami sudah berada di puncak menara Basilik, tapi ternyata puncak menara masih beberapa meter lagi dan harus mendaki dengan tangga besi yang menempel di dinding. Mgr. de Jong mengajak kami mendaki puncak menara karena pemandangan dari atas puncak menara bagus sekali. Dalam hatiku takut juga mendaki seperti itu. Setelah Mgr. de Jong memanjat ke atas dan disusul dua suster, aku pun kemudian menyusul mendaki lewat tangga besi yg hanya cukup untuk ke dua kaki itu. Baru beberapa langkah, kaki dan tanganku sudah terasa gemetar. Dalam hati aku berkata, aku harus bisa sampai atas. Aku pun terus merayap ke atas, sambil terus berdoa Salam Maria… Akhirnya sampai juga di puncak menara Basilik Sint Servaas ini. Sungguh indah sekali pemandangan dari atas. Waktu itu hanya lima suster yang berani mendaki sampai puncak bersama Mgr. de Jong.

Aku teringat pengalamanku beberapa bulan yang lalu ketika mengikuti acara Ladies weekend (pembekalan untuk para pendamping camping musim panas dari keuskupan Roermond). Waktu itu acara diakhiri dengan permainan panjat dinding. Panitia sudah memberitahuku untuk membawa pakaian olah raga untuk acara ini. Awalnya aku takut untuk memanjat dinding yang tegak lurus itu. Aku pernah melakukan hal yang sama ketika acara out bond bersama para suster muda di Jogjakarta, dan waktu itu kakiku kram sehingga tidak berhasil memanjat dinding yang sebenarnya lebih rendah dari yang kuhadapi waktu Ladies weekend. Teman-teman pendamping camping ini, dengan penuh semangat menyemangatiku, “ Ayo suster, suster pasti bisa, kami tahu suster bisa…” Akhirnya aku pun berani mencobanya. Sekali, dua kali, hanya sampai di tengah aku sudah menyerah. Sampai yang ketiga kali aku mencoba, akhirnya sampai juga di puncak dinding tersebut. Teman-teman pun bersorak gembira… Keempat kali, aku pun berani mencoba dinding yang medannya lebih susah dan lebih tinggi dan ternyata bisa.

Meskipun awalnya ada rasa takut, aku berani memanjat dinding dalam acara Ladies weekend, karena aku merasa yakin bahwa aku aman dan tidak akan jatuh. Ada teman yang siap mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat ke atas, seandainya aku sudah tidak sanggup lagi memanjat. Walaupun begitu, aku butuh beberapa kali mencoba untuk berhasil mendaki sampai puncak. Saat di tengah pendakian itu, ada saat aku benar-benar takut kalau jatuh, karena tangan dan kakiku hanya bertumpu pada batu-batu kecil yang menempel di dinding. Tetapi kepercayaan bahwa kalaupun jatuh aku akan selamat karena ada teman yang mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat, membuat hatiku berani untuk terus mendaki sampai puncak. Pengalaman ini merupakan gambaran dalam hidupku.

Kadang aku berada dalam situasi-situasi yang sulit dan takut untuk menghadapinya. Ada saat aku merasa sendiri dengan beban hidup yang berat. Ada saat aku bertanya, “Tuhan dimanakah Engkau, sehingga aku mengalami situasi seperti ini?” Namun iman sekecil apa pun yang Tuhan berikan dalam diriku, inilah yang menjadi kekuatanku. Kepercayaan bahwa Dia ada dan akan selalu menolongku, tumbuh semakin kuat dari berbagai pengalamanku, sehingga aku menemukan bahwa Dia benar-benar ada. Tahun pertama sebagai misionaris di sini, aku sungguh merasakan kekeringan dalam hidup rohaniku. Melihat dan mengalami situasi Gereja di sini, sungguh menyakitkan dan memprihatinkan. Ada rasa pesimis pada waktu itu, akankah Gereja mati? Di manakah Engkau Tuhan, sehingga membiarkan GerejaMu seperti ini? Tetapi iman sekecil apa pun yang masih Tuhan berikan dalam diriku, ternyata bertumbuh dan semakin meyakinkan diriku bahwa Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) dalam situasi Gereja di Eropa saat ini. Merefleksikan kembali sejarah perkembangan Gereja, membuatku optimis bahwa ada saat Gereja seakan “mati” tetapi ada saat pula Gereja hidup dan berkembang. Tuhan membuka jalan dan menunjukkan padaku, bahwa Dia tetap ada dan berkarya sampai saat ini. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa Belandaku, Tuhan memberiku kesempatan untuk terlibat dengan berbagai kegiatan dengan kaum muda di sini. Melalui pengalaman ini, aku merasakan bahwa Gereja masih akan tetap hidup.

Pengalaman mendaki menara Basilik, bermakna berbeda dengan pengalamanku mendaki dinding dalam Ladies weekend. Ketika mendaki menara Basilik, waktu itu tidak ada tali pengaman, sehingga aku harus hati-hati betul dan terus berdoa Salam Maria untuk menumbuhkan keberanian dalam diriku. Ada saat aku mengalami situasi yang penuh dengan ketidakpastian, ketidak jelasan dan hanya dibutuhkan keberanian dan kekuatan doa untuk bisa terus maju. Pengalamanku memulai komunitas baru di sini tidaklah mudah. Sampai saat ini masih penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian akan masa depan komunitas ini. Penuh tantangan baik dari luar maupun dari dalam diriku untuk terus setia menjalankan perutusanNya ini. Ada saat aku merasa ”gemetar” menghadapi situasi yang ada, dan hanya kekuatan doalah yang terus menyemangatiku untuk terus maju mengikutiNya.

Sungguhkah Tuhan ada? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam pengalaman masing-masing pribadi. Satu pengalaman yang sama akan berbicara berbeda, karena perbedaan cara memaknai pengalaman tersebut. Pengalaman sesederhana apa pun (seperti pengalamanku di atas), kalau direfleksikan akan membawa kita pada pengalaman kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kesetiaan dalam doa dan merefleksikan setiap pengalaman yang ada, menjadikan hidup kita lebih bermakna dan menemukan keberadaan Tuhan dalam hidup kita saat ini.

(Maastricht, 30 September 2012)


Tinggalkan komentar

PENGOSONGAN DIRI

Pada hari keempat retret pribadiku, Tuhan membawaku untuk semakin memahami apa arti memikul salib dalam perutusanku saat ini. “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 13: 24). Syarat untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah adalah memikul salib dan mengikuti Tuhan. Aku pun bertanya pada Tuhan,”Salib seperti apakah Tuhan, yang telah kupanggul selama ini untuk terlibat dalam karya keselamatanMu?” Akhir-akhir ini masalah yang cukup kurasakan berat adalah hidup bersama. Dalam komunitas yang masih sangat muda, dengan segala sesuatunya yang masih dalam proses pencarian, masing-masing membawa ide dan motivasi, tentu banyak benturan-benturan di situ. Hidup bersama rasanya cukup membuatku menderita, apalagi sebagian besar waktuku kuhabiskan bersama komunitas. “Hidup bersama… inikah salib yang Engkau maksud Tuhan?” tanyaku. Ketika kurenungkan lebih dalam lagi, aku menemukan bahwa salibku yang sebenarnya bukan masalah yang kuhadapi dalam hidup bersama. Bukan, itu bukan salib yang dimaksud Tuhan.

Dalam keheningan, Tuhan menunjukkan padaku apa yang dimaksud dengan ‘memanggul salib dan mengikuti Dia’ dalam perutusanku saat ini. Tuhan bertanya kepadaku: “Mengapa di saat kamu merasa menderita di dalam komunitasmu, kamu ingin pulang ke Indonesia?” Jawabku,”Konflik-konflik ini tidak akan kualami di Indonesia. Di Indonesia aku akan punya tanggung jawab yang pasti dalam karya. Tenaga, pikiran dan waktuku lebih berguna daripada hanya untuk konflik-konflik yang dikarenakan hal-hal yang sepele tapi menjadi sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan. Ada kepastian dalam karya dan ada teman untuk berbagi ketika sedang dalam kesesakan. Sedangkan di sini, aku setiap hari bertemu dengan orang-orang dan masalah-masalah yang sama di dalam komunitas.” Menanggapi jawabanku ini, Tuhan menunjukkan padaku apa arti perkataanNya ‘memanggul salib dan mengikuti Dia.’ KataNya,”Dalam perutusanmu saat ini, keberanian untuk melepaskan segala sesuatu, baik keaman-mapanan dalam komunitas maupun dalam karya serta berani masuk dalam situasi ketidakpastian, inilah salib yang harus kamu panggul. Apa yang kamu lihat, rasakan dan alami selama 3 tahun menjalankan perutusanmu di komunitas ini?” Jawabku,”Aku melihat, merasakan dan mengalami keprihatinan Gereja di negeri Belanda ini. Gereja-gereja yang mulai kosong, bahkan beberapa gereja terpaksa ditutup karena kekurangan umat. Kaum muda yang katanya Katholik, tapi sangat miskin pengenalan akan Allah karena tidak ada yang mengajarkan hal ini pada mereka. Pelajaran agama sudah ditiadakan dari sebagian besar sekolah yang ada, padahal anak-anak membutuhkan orang-orang dewasa yang bisa membantu mereka untuk mengenal Allah dan kehidupan menggereja. Di rumah pun orang tua sudah jarang mengajarkan tentang hal berdoa pada anak-anak mereka, apalagi tentang Gereja. Kerinduan awalku ketika melihat Gereja yang hanya berisi orang-orang lanjut usia, adalah melihat kaum muda dan anak-anak datang dan berdoa di Gereja.”

Suasana hening, lalu Tuhan melanjutkan pembicaraan kami,”Apa yang sudah kamu alami di komunitasmu menanggapi situasi Gereja yang seperti ini?” Aku merenungkan sejenak pengalamanku selama ini. Inilah jawabanku,“Aku melihat dan mengalami bahwa kehadiran komunitas kami, meskipun sedikit tetapi juga membawa perubahan dan kehidupan baru bagi Gereja setempat. Keterlibatan kami dalam koor di Paroki kami membawa suasana baru bagi para anggota koor. Mereka senang ada suster dan orang muda yang mau bergabung dengan mereka, sekaligus mengubah pandangan mereka terhadap figur ‘suster’ selama ini. Kelompok paduan suara yang kami mulai bersama br. Alfred, FIC dan para mahasiswa dari berbagai negara untuk misa bahasa Inggris, memberi warna dan suasana baru dalam ekaristi. Umat gembira ketika diajak bersama-sama menyanyi dan pastor pun senang kalau ada koor yang mengiringi saat ekaristi. Paduan suara ini juga bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa yang ingin bernyanyi dan memuji Tuhan seperti yang telah mereka lakukan di negaranya masing-masing. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan di keuskupan Roermond membawa suasana baru. Melalui kehadiran kami, bisa mengenalkan tentang kehidupan religius, tidak saja hanya kepada anak-anak tetapi juga pada para sukarelawan yang bekerja sama. Keterlibatan dalam acara tahunan seperti ‘zomerkamp’ (camping yang diadakan pada musim panas) membantu menumbuhkan iman dan mengenalkan kehidupan menggereja pada anak-anak. Ini menjadi sarana yang baik dalam situasi Gereja saat ini. Ikut menyiapkan anak-anak sebelum menerima sakramen penguatan dengan memberikan salah satu pelajaran persiapan bagi mereka tentang hidup religius. Kehadiran rutin kami di ‘Zaterdagmiddag club’ di Sittard (seperti sekolah minggu, di mana ada sekitar 80-100 anak) yang datang setiap hari Sabtu, di Lifeteen (untuk anak-anak remaja di Maastricht) juga memberi warna yang baru bagi mereka. Kehadiranku seminggu sekali di Adelante school (sekolah untuk anak-anak cacat mental dan fisik) menjadi sarana mengenalkan figur ‘suster’ bagi anak-anak, guru dan karyawan di sana. Kunjungan-kunjungan keluarga dan menjadi teman bagi mereka yang mengalami kesepian, menjadi bentuk kerasulan yang baru. Kehadiran kami pun membawa suasana dan harapan baru bagi para suster sepuh di Onder de Bogen. Gereja mulai merasakan arti kehadiran komunitas ini. Keuskupan Roermond, paroki di sekitar Maastricht dan Sittard menerima komunitas ini dengan baik. Ada harapan baru bagi Gereja. Bahkan Mgr. Kurris dari Basilik Sterre der Zee pernah mengungkapkan keinginannya untuk memindahkan misa bahasa Inggris ke kapel Onder de Bogen, karena adanya komunitas kami yang bisa menarik orang-orang muda di sini.”

“Menurutmu bagaimana semua bisa terjadi demikian?” Tuhan mengajakku untuk merefleksikannya lebih dalam. Dalam refleksiku aku menemukan,”Semua ini bisa terjadi karena adanya pengorbanan dan pengosongan diri. Memang sampai sekarang belum ada kejelasan akan masa depan komunitas ini, yang kumaksud dengan karya yang pasti seperti di Indonesia: di sekolah, rumah sakit, dsb. Setiap saat dibutuhkan keterbukaan hati untuk terlibat dengan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan Tuhan. Ada saat-saat merasa kesepian dan sepertinya hidup tidak bermakna, tapi ada juga saat-saat merasa sangat bahagia bisa terlibat dalam keprihatinan Gereja saat ini.” Tuhan menggaris bawahi jawaban terakhirku,”Inilah salib yang harus kamu panggul: berani melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri untuk mengikutiKu dan terlibat dalam karya keselamatanKu dalam perutusanmu saat ini.” Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukkan kepadaku jalan untuk mengikutiMu. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang indah ini, membawa semangat baru untuk melanjutkan perutusanku.

Pengosongan diri adalah sesuatu yang tidak mudah, tapi sungguh membahagiakan jika itu bisa kulakukan. Aku berusaha mengosongkan diri dan dalam lembaran kosong ini biarlah Dia yang menulis dan melukis kisah perjalanan komunitas multicultural ini. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas. Amin.

Februari 2012 – Sr. Hedwig


Tinggalkan komentar

CAMPING ROHANI

Tulisanku ini masih seputar camping rohani, yang telah diterbitkan dalam majalah intern para suster CB, yang kutulis setahun yang lalu.

Camping adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan untuk mengisi liburan sekolah musim panas di Nederlands ini. Banyak kelompok yang mengadakan acara camping ini. Tahun ini rasanya sungguh istimewa karena aku bisa mengikuti camping 2 kelompok yang sangat berbeda. Tgl. 11 s/d 15 Juli 2011 aku mengikuti Meidenkamp yang diadakan oleh keuskupan Roermond. Meidenkamp ini adalah camping untuk anak-anak perempuan usia 12 – 17 th. Waktu itu berjumlah 24 anak, 9 pendamping (aku dan sr Juli dari kongregasi Petrus Klaver masuk dalam pendamping), 1 pastor dan 5 ibu staf dapur. Tgl. 16 – 21 Agustus 2011 Sr. Leocardia dan aku mengikuti Jongenskamp yang diadakan oleh kelompok “Zaterdag Middag Club” (ZMC, Sittard). Camping ini khusus untuk anak-anak laki-laki usia 6 – 16 th dengan pendamping usia 17 – 25 th. Kalau dalam Meidenkamp kami berjumlah 39 orang, dalam Jongenskamp ini total berjumlah 78 orang (65 anak + pendamping, 1 pastor, 1 frater, 8 ibu dan 2 suster ). Perbedaan antara Meidenkamp dan Jongenskamp selain pesertanya yang semua anak perempuan dan anak laki-laki juga tempat camping. Meidenkamp diadakan di biara susters Arme Kindje Jezus (Sang Timur) di Simpelveld. Anak-anak tidur di ruang makan besar para suster yang diubah menjadi ruang tidur. Mereka masing-masing membawa slapzaak, semua tidur dalam 1 ruangan. Sedangkan dalam Jongenskamp, anak-anak dan semua pendamping tidur di tenda (semua ibu-ibu dan suster tidur di dalam rumah). Jongenskamp ini diadakan di tempat perkemahan untuk pramuka (scoutingplaats) di Kessel-Eik. Aku tidak akan bercerita banyak tentang Jongenskamp, dalam edisi ini aku lebih mensharingkan tentang Meidenkamp.

Tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku mengikuti Meisjeskamp (camping untuk anak perempuan usia 7 – 12 th) sebagai koostaf (staf dapur). Sesuai dengan kemampuan bahasa Nederland ku yang masih terbatas, tugas di dapur menjadi kesempatan yang berharga untuk belajar dan mengenal anak-anak di sini. Tahun ini para pendamping memintaku untuk masuk dalam staf pendamping dan tim katekese bersama Pastor Pierik dan Sr Juli. Tugas yang tidak ringan karena aku harus terlibat seluruh kegiatan dan merencanakan acara untuk katekese. Sejak bulan November 2010 panitia sudah terbentuk (ada beberapa kali pertemuan untuk pembekalan para pendamping), jadi persiapan untuk camping ini cukup matang. Cukup waktu untuk mempersiapkan diriku dan bahasa Nederland ku. Meskipun begitu, ternyata tegang juga ketika tiba saatnya untuk acara camping ini.

Hari pertama, aku menjelaskan ke Pastor Pierik tentang acara misa yang telah Sr Juli dan aku siapkan, khususnya tentang doa umat. Waktu itu Pastor Pierik sulit sekali menangkap penjelasanku. Spontan dia berkata,”Betapa sulitnya komunikasi diantara kita, suster”. Akhirnya kujelaskan dengan peragaan, sehinggga bisa benar-benar dipahami. Peristiwa ini membuatku agak berkecil hati dan merasa betapa terbatasnya kemampuanku saat ini. Selama 5 hari aku akan bekerjasama dan berkomunikasi dengan bahasa Nederland yang ternyata masih sulit ditangkap juga. Setiap pagi kubuka hari dengan doa mohon kemampuan yang aku butuhkan untuk mendampingi anak-anak ini. Aku hanya bisa menggantungkan diri pada Dia untuk perutusanku di tengah anak-anak ini. Selanjutnya aku bisa mengikuti seluruh acara dengan baik. Akhirnya aku hanya bisa bersyukur dan mengalami bahwa aku hanyalah alat yang siap dipakaiNya. Tuhan memberiku kemampuan yang bisa membuatku dekat dengan mereka. Dalam salah satu acara workshop, para suster komunitas Stella Maris diundang untuk memberi workshop “Angklung dan Poco-Poco”. Sr Floriana dan sr Leocardia memberi workshop Angklung, sedangkan sr Josephine dan aku memberi workshop Poco-Poco. Mereka senang dengan workshop ini. Setelah workshop, hari berikutnya kami meneruskan latihan poco-poco karena sebagai ucapan terima kasih pada orang tua kami akan menari poco-poco. Orang tua senang melihat anak-anaknya bisa menari Poco-poco. Mereka juga heran, ternyata suster bisa mengajari anak-anak menari seperti itu.

Aku terkesan dengan ungkapan salah satu kookstaf yang baru pertama kali mengikuti camping ini. Beliau mengungkapkan bahwa awalnya terasa berat tugas menyiapkan makanan untuk sekian banyak orang dalam usianya yang hampir 80 th. Tapi setelah mengikuti acara-acara yang ada, beliau mengatakan,”aku mengalami liburan rohani, tahun depan aku mau membantu lagi.” Memang betul, camping ini lebih banyak kegiatan rohaninya. Setiap pagi acara dibuka dengan senam, doa pagi dan makan bersama. Acara selanjutnya: Ekaristi, permainan, makan siang, katekese, makan malam, persiapan Ekaristi untuk hari berikutnya (menyiapkan bacaan, lagu-lagu dan doa umat), sebelum tidur acara ditutup dengan doa penghormatan kepada sakramen Maha Kudus. Anak-anak juga mendapat kesempatan untuk mengaku dosa secara pribadi, hal yang sudah tidak umum lagi dilakukan di sini. Sudah 2 tahun ini camping diadakan di biara suster Sang Timur, tujuannya adalah selain rekreasi juga sambil mengenalkan tentang kehidupan rohani dan religius kepada anak-anak. Suasana biara sangat mendukung untuk tujuan ini. Ada acara khusus berdialog dengan para suster, sehingga mereka mempunyai gambaran tentang kehidupan membiara. Selain itu, Uskup juga datang berdialog dengan anak-anak untuk mengenalkan kehidupan menggereja. Tanggapan orang tua dan anak-anak sangat bagus untuk camping ini.

Tahun ini jumlah peserta Meisjeskamp dan Meidenkamp bertambah dibanding tahun kemarin. Keuskupan ingin meneruskan program ini, tapi ternyata tidak mudah untuk mendapatkan biara yang bisa menampung anak-anak ini. Beruntung sekali selama 2 tahun ini biara suster Sang Timur bisa menerima mereka. Tahun depan kemungkinan besar biara Sang Timur tidak bisa dipakai lagi. Panitia masih mencari tempat untuk camping ini. Mereka berharap agar camping tahun depan bisa diadakan di biara Onder de Bogen, Maastricht. Aku pun berharap demikian, meskipun kemungkinan itu terjadi sangat kecil. Ada banyak pertimbangan untuk menerima mereka di Onder de Bogen. Sejak pertama kali mengikuti camping ini, aku telah merindukan hal ini. Ini kesempatan indah untuk mengenalkan kembali spiritualitas dan kongregasi pada kaum muda di sini. Semoga itu bisa terjadi. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas melalui kehadiran para suster di sini. Amin.

Maastricht, 29 September 2011
Sr. Hedwig – Komunitas Stella Maris.


Tinggalkan komentar

HET MEISJESKAMP

Tulisanku sebelumnya yang berjudul “Tuhan seandainya aku bisa lari”, aku mensharingkan tentang pengalamanku pertama kali mengikuti meisjeskamp (camping rohani), dalam tulisan ini lebih menceritakan apa dan bagaimana kegiatan meisjeskamp. Semoga dengan membaca tulisan ini, teman-teman yang di Indonesia mendapat gambaran tentang kegiatan camping rohani untuk anak-anak di Belanda ini. Kedua tulisan ini sudah pernah diterbitkan dalam majalah intern para suster CB.

Akhirnya kesempatan yang tidak kuduga-duga itu tiba. Aku sudah mendengar dan membaca brosur tentang acara camping untuk anak-anak pada musim panas dari keuskupan Roermond. Aku sangat tertarik dengan kegiatan ini, tetapi tidak tahu bagaimana caranya agar bisa terlibat dalam camping ini. Batas umur peserta meisjeskamp adalah 7 s/d 12 th, jadi jelas tidak mungkin aku mendaftar sebagai peserta. Aku ingin mendaftar sebagai sukarelawan yang membantu meisjeskamp ini, rasanya belum berani dengan keterbatasan bahasa Belandaku dan lagi pula aku juga tidak tahu caranya untuk bisa menjadi sukarelawan.

Seringkali Tuhan memberiku kejutan-kejutan yang indah, sehingga aku semakin percaya untuk terus berjalan bersamaNya. Siang itu Marie José (koordinator kegiatan untuk kaum muda dari keuskupan Roermond) menelponku kalau aku ingin melihat acara camping, saat ini sedang ada meidenkamp (camping untuk anak-anak perempuan usia 12 s/d 17 th) di biara para suster Arme Kindje Jezus (Sang Timur) di Simpelveld. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Langsung kuhubungi Sr. Veronika, PIJ yang tinggal di Simpelveld untuk mencari informasi tentang ini. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan untuk bisa hadir dan melihat-lihat acara camping ini. Akhirnya dengan proses yang tidak mudah, Tuhan memberiku kesempatan terlibat dalam meisjeskamp yang diadakan seminggu setelah meidenkamp. Kesempatan emas diberikan Tuhan padaku, aku bisa membantu panitia meisjeskamp sebagai anggota kokenstaf. Tugasku membantu memasak dan menyiapkan makan pagi/ siang/ malam untuk seluruh peserta dan panitia yang berjumlah 58 orang.

Acara meisjeskamp ini diadakan oleh keuskupan Roermond setiap tahun pada musim panas, yang berlangsung selama 5 hari. Acara camping ini biasanya diadakan di boerderij (daerah pertanian), tetapi tahun ini panitia mencoba menyelenggarakannya di klooster (biara). Sebelum mengambil keputusan ini, memang terjadi pro dan kontra karena camping diadakan di klooster. Mungkin mereka berpikir bahwa mengadakan camping di lingkungan biara tentu tidak sebebas kalau di boerderij. Pandangan mereka terhadap klooster akhirnya berubah setelah mereka menjalani seluruh proses meidenkamp & meisjeskamp ini.

Akhirnya para panitia dan peserta bersyukur dan merasa puas dengan meisjeskamp yang diadakan di klooster ini. Mereka tetap merasa ‘bebas’ meskipun kegiatan dilaksanakan di klooster. Para suster Arme Kindje Jezus (Sang Timur) sangat terbuka dan tidak merasa terganggu dengan keramaian dan teriakan-teriakan anak-anak. Mereka sungguh menerima anak-anak ini. Hal ini juga dirasakan oleh panitia dan anak-anak, bahkan ada acara kunjungan dan menghibur para suster tua di sana. Karena di klooster, acara camping kali ini berbeda dari biasanya. Setiap hari mereka bisa mengikuti Ekaristi kudus pada pagi hari dan adorasi pada malam hari. Setiap makan, selalu dibuka dan ditutup dengan doa. Acara yang diselenggarakan sangat seimbang antara hal-hal jasmani dan rohani. Gambaran kegiatan keseluruhan hari: bangun tidur – senam pagi – doa pagi – makan pagi – ekaristi kudus – katekese – makan siang – permainan – minum sore – kegiatan dalam kelompok – makan malam – kegiatan dalam kelompok – doa malam dan adorasi – istirahat. Setiap hari acara untuk peserta dimulai jam 07.30, dan istirahat malam jam 22.30. Untuk panitia, acara dimulai jam 07.00 dan istirahat malam antara jam 12.00 s/d 01.00.

Aku sangat terkesan dengan sikap anak-anak pada waktu mengikuti Ekaristi kudus dan adorasi. Pada waktu Ekaristi dan adorasi semua yang hadir bisa hening dan khidmat. Pada saat homili dalam Ekaristi, selalu ada tanya jawab tentang isi bacaan Injil dan anak-anak bisa menjawab dengan baik. Ketika dalam acara adorasi, mereka benar-benar bersikap menghormati sakramen Maha Kudus. Pada hari pertama mereka memang belum begitu paham tentang adorasi ini. Tetapi pada hari kedua, mereka sudah mulai paham apa penghormatan sakramen Maha Kudus. Ketika Pastor datang membawa sakramen Maha Kudus, tanpa diatur oleh panitia mereka semua berlutut menghormat dan memberi jalan di tengah untuk Pastor. Pengalaman mengikuti Ekaristi dan adorasi setiap hari ini tentu menjadi pengalaman khusus bagi anak-anak dan panitia, karena belum tentu mereka setiap hari minggu pergi ke Gereja. Di beberapa sekolah di sini juga sudah tidak ada pelajaran agama lagi. Jadi pelajaran katekese yang mereka terima dalam acara camping ini bisa memberi bekal iman untuk mereka.

Pengalaman camping di klooster ini merupakan pengalaman istimewa dan indah untuk semua yang mengikutinya. Muncul dalam angan-anganku, betapa indahnya jika acara camping ini juga bisa diadakan di Onder de Bogen. Rasanya harapanku mulai muncul kembali. Roda kehidupan akan terus berputar. Tentu ada saatnya anak-anak dan kaum muda di sini kembali aktif dalam kegiatan hidup menggereja. Kapan itu akan terjadi dan bagaimana bentuk kehidupan menggereja yang cocok untuk mereka dalam situasi masyarakat di Belanda ini? Tentu sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Bersama Bunda Elisabeth, imanku dikuatkan bahwa kalau Tuhan menghendaki “itu akan terjadi”. Harta kekayaan yang kuandalkan untuk memulai dan menjalankan perutusanku di komunitas Internasional ini adalah Penyelenggaraan Illahi. Penyelenggaraan Illahi telah mengurus segala sesuatu yang kami butuhkan dalam perkembangan komunitas ini, sehingga sampai saat ini aku masih percaya bahwa Tuhan menghendaki komunitas ini dimulai dan berkembang di sini.

Maastricht, 19 September 2010
Sr. Hedwig – Komunitas Stella Maris.