indahnya berserah

CIMG3953

CAMPING ROHANI

Tinggalkan komentar

Tulisanku ini masih seputar camping rohani, yang telah diterbitkan dalam majalah intern para suster CB, yang kutulis setahun yang lalu.

Camping adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan untuk mengisi liburan sekolah musim panas di Nederlands ini. Banyak kelompok yang mengadakan acara camping ini. Tahun ini rasanya sungguh istimewa karena aku bisa mengikuti camping 2 kelompok yang sangat berbeda. Tgl. 11 s/d 15 Juli 2011 aku mengikuti Meidenkamp yang diadakan oleh keuskupan Roermond. Meidenkamp ini adalah camping untuk anak-anak perempuan usia 12 – 17 th. Waktu itu berjumlah 24 anak, 9 pendamping (aku dan sr Juli dari kongregasi Petrus Klaver masuk dalam pendamping), 1 pastor dan 5 ibu staf dapur. Tgl. 16 – 21 Agustus 2011 Sr. Leocardia dan aku mengikuti Jongenskamp yang diadakan oleh kelompok “Zaterdag Middag Club” (ZMC, Sittard). Camping ini khusus untuk anak-anak laki-laki usia 6 – 16 th dengan pendamping usia 17 – 25 th. Kalau dalam Meidenkamp kami berjumlah 39 orang, dalam Jongenskamp ini total berjumlah 78 orang (65 anak + pendamping, 1 pastor, 1 frater, 8 ibu dan 2 suster ). Perbedaan antara Meidenkamp dan Jongenskamp selain pesertanya yang semua anak perempuan dan anak laki-laki juga tempat camping. Meidenkamp diadakan di biara susters Arme Kindje Jezus (Sang Timur) di Simpelveld. Anak-anak tidur di ruang makan besar para suster yang diubah menjadi ruang tidur. Mereka masing-masing membawa slapzaak, semua tidur dalam 1 ruangan. Sedangkan dalam Jongenskamp, anak-anak dan semua pendamping tidur di tenda (semua ibu-ibu dan suster tidur di dalam rumah). Jongenskamp ini diadakan di tempat perkemahan untuk pramuka (scoutingplaats) di Kessel-Eik. Aku tidak akan bercerita banyak tentang Jongenskamp, dalam edisi ini aku lebih mensharingkan tentang Meidenkamp.

Tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku mengikuti Meisjeskamp (camping untuk anak perempuan usia 7 – 12 th) sebagai koostaf (staf dapur). Sesuai dengan kemampuan bahasa Nederland ku yang masih terbatas, tugas di dapur menjadi kesempatan yang berharga untuk belajar dan mengenal anak-anak di sini. Tahun ini para pendamping memintaku untuk masuk dalam staf pendamping dan tim katekese bersama Pastor Pierik dan Sr Juli. Tugas yang tidak ringan karena aku harus terlibat seluruh kegiatan dan merencanakan acara untuk katekese. Sejak bulan November 2010 panitia sudah terbentuk (ada beberapa kali pertemuan untuk pembekalan para pendamping), jadi persiapan untuk camping ini cukup matang. Cukup waktu untuk mempersiapkan diriku dan bahasa Nederland ku. Meskipun begitu, ternyata tegang juga ketika tiba saatnya untuk acara camping ini.

Hari pertama, aku menjelaskan ke Pastor Pierik tentang acara misa yang telah Sr Juli dan aku siapkan, khususnya tentang doa umat. Waktu itu Pastor Pierik sulit sekali menangkap penjelasanku. Spontan dia berkata,”Betapa sulitnya komunikasi diantara kita, suster”. Akhirnya kujelaskan dengan peragaan, sehinggga bisa benar-benar dipahami. Peristiwa ini membuatku agak berkecil hati dan merasa betapa terbatasnya kemampuanku saat ini. Selama 5 hari aku akan bekerjasama dan berkomunikasi dengan bahasa Nederland yang ternyata masih sulit ditangkap juga. Setiap pagi kubuka hari dengan doa mohon kemampuan yang aku butuhkan untuk mendampingi anak-anak ini. Aku hanya bisa menggantungkan diri pada Dia untuk perutusanku di tengah anak-anak ini. Selanjutnya aku bisa mengikuti seluruh acara dengan baik. Akhirnya aku hanya bisa bersyukur dan mengalami bahwa aku hanyalah alat yang siap dipakaiNya. Tuhan memberiku kemampuan yang bisa membuatku dekat dengan mereka. Dalam salah satu acara workshop, para suster komunitas Stella Maris diundang untuk memberi workshop “Angklung dan Poco-Poco”. Sr Floriana dan sr Leocardia memberi workshop Angklung, sedangkan sr Josephine dan aku memberi workshop Poco-Poco. Mereka senang dengan workshop ini. Setelah workshop, hari berikutnya kami meneruskan latihan poco-poco karena sebagai ucapan terima kasih pada orang tua kami akan menari poco-poco. Orang tua senang melihat anak-anaknya bisa menari Poco-poco. Mereka juga heran, ternyata suster bisa mengajari anak-anak menari seperti itu.

Aku terkesan dengan ungkapan salah satu kookstaf yang baru pertama kali mengikuti camping ini. Beliau mengungkapkan bahwa awalnya terasa berat tugas menyiapkan makanan untuk sekian banyak orang dalam usianya yang hampir 80 th. Tapi setelah mengikuti acara-acara yang ada, beliau mengatakan,”aku mengalami liburan rohani, tahun depan aku mau membantu lagi.” Memang betul, camping ini lebih banyak kegiatan rohaninya. Setiap pagi acara dibuka dengan senam, doa pagi dan makan bersama. Acara selanjutnya: Ekaristi, permainan, makan siang, katekese, makan malam, persiapan Ekaristi untuk hari berikutnya (menyiapkan bacaan, lagu-lagu dan doa umat), sebelum tidur acara ditutup dengan doa penghormatan kepada sakramen Maha Kudus. Anak-anak juga mendapat kesempatan untuk mengaku dosa secara pribadi, hal yang sudah tidak umum lagi dilakukan di sini. Sudah 2 tahun ini camping diadakan di biara suster Sang Timur, tujuannya adalah selain rekreasi juga sambil mengenalkan tentang kehidupan rohani dan religius kepada anak-anak. Suasana biara sangat mendukung untuk tujuan ini. Ada acara khusus berdialog dengan para suster, sehingga mereka mempunyai gambaran tentang kehidupan membiara. Selain itu, Uskup juga datang berdialog dengan anak-anak untuk mengenalkan kehidupan menggereja. Tanggapan orang tua dan anak-anak sangat bagus untuk camping ini.

Tahun ini jumlah peserta Meisjeskamp dan Meidenkamp bertambah dibanding tahun kemarin. Keuskupan ingin meneruskan program ini, tapi ternyata tidak mudah untuk mendapatkan biara yang bisa menampung anak-anak ini. Beruntung sekali selama 2 tahun ini biara suster Sang Timur bisa menerima mereka. Tahun depan kemungkinan besar biara Sang Timur tidak bisa dipakai lagi. Panitia masih mencari tempat untuk camping ini. Mereka berharap agar camping tahun depan bisa diadakan di biara Onder de Bogen, Maastricht. Aku pun berharap demikian, meskipun kemungkinan itu terjadi sangat kecil. Ada banyak pertimbangan untuk menerima mereka di Onder de Bogen. Sejak pertama kali mengikuti camping ini, aku telah merindukan hal ini. Ini kesempatan indah untuk mengenalkan kembali spiritualitas dan kongregasi pada kaum muda di sini. Semoga itu bisa terjadi. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas melalui kehadiran para suster di sini. Amin.

Maastricht, 29 September 2011
Sr. Hedwig – Komunitas Stella Maris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s