indahnya berserah

pengosongan diri.3

PENGOSONGAN DIRI

Tinggalkan komentar

Pada hari keempat retret pribadiku, Tuhan membawaku untuk semakin memahami apa arti memikul salib dalam perutusanku saat ini. “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 13: 24). Syarat untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah adalah memikul salib dan mengikuti Tuhan. Aku pun bertanya pada Tuhan,”Salib seperti apakah Tuhan, yang telah kupanggul selama ini untuk terlibat dalam karya keselamatanMu?” Akhir-akhir ini masalah yang cukup kurasakan berat adalah hidup bersama. Dalam komunitas yang masih sangat muda, dengan segala sesuatunya yang masih dalam proses pencarian, masing-masing membawa ide dan motivasi, tentu banyak benturan-benturan di situ. Hidup bersama rasanya cukup membuatku menderita, apalagi sebagian besar waktuku kuhabiskan bersama komunitas. “Hidup bersama… inikah salib yang Engkau maksud Tuhan?” tanyaku. Ketika kurenungkan lebih dalam lagi, aku menemukan bahwa salibku yang sebenarnya bukan masalah yang kuhadapi dalam hidup bersama. Bukan, itu bukan salib yang dimaksud Tuhan.

Dalam keheningan, Tuhan menunjukkan padaku apa yang dimaksud dengan ‘memanggul salib dan mengikuti Dia’ dalam perutusanku saat ini. Tuhan bertanya kepadaku: “Mengapa di saat kamu merasa menderita di dalam komunitasmu, kamu ingin pulang ke Indonesia?” Jawabku,”Konflik-konflik ini tidak akan kualami di Indonesia. Di Indonesia aku akan punya tanggung jawab yang pasti dalam karya. Tenaga, pikiran dan waktuku lebih berguna daripada hanya untuk konflik-konflik yang dikarenakan hal-hal yang sepele tapi menjadi sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan. Ada kepastian dalam karya dan ada teman untuk berbagi ketika sedang dalam kesesakan. Sedangkan di sini, aku setiap hari bertemu dengan orang-orang dan masalah-masalah yang sama di dalam komunitas.” Menanggapi jawabanku ini, Tuhan menunjukkan padaku apa arti perkataanNya ‘memanggul salib dan mengikuti Dia.’ KataNya,”Dalam perutusanmu saat ini, keberanian untuk melepaskan segala sesuatu, baik keaman-mapanan dalam komunitas maupun dalam karya serta berani masuk dalam situasi ketidakpastian, inilah salib yang harus kamu panggul. Apa yang kamu lihat, rasakan dan alami selama 3 tahun menjalankan perutusanmu di komunitas ini?” Jawabku,”Aku melihat, merasakan dan mengalami keprihatinan Gereja di negeri Belanda ini. Gereja-gereja yang mulai kosong, bahkan beberapa gereja terpaksa ditutup karena kekurangan umat. Kaum muda yang katanya Katholik, tapi sangat miskin pengenalan akan Allah karena tidak ada yang mengajarkan hal ini pada mereka. Pelajaran agama sudah ditiadakan dari sebagian besar sekolah yang ada, padahal anak-anak membutuhkan orang-orang dewasa yang bisa membantu mereka untuk mengenal Allah dan kehidupan menggereja. Di rumah pun orang tua sudah jarang mengajarkan tentang hal berdoa pada anak-anak mereka, apalagi tentang Gereja. Kerinduan awalku ketika melihat Gereja yang hanya berisi orang-orang lanjut usia, adalah melihat kaum muda dan anak-anak datang dan berdoa di Gereja.”

Suasana hening, lalu Tuhan melanjutkan pembicaraan kami,”Apa yang sudah kamu alami di komunitasmu menanggapi situasi Gereja yang seperti ini?” Aku merenungkan sejenak pengalamanku selama ini. Inilah jawabanku,“Aku melihat dan mengalami bahwa kehadiran komunitas kami, meskipun sedikit tetapi juga membawa perubahan dan kehidupan baru bagi Gereja setempat. Keterlibatan kami dalam koor di Paroki kami membawa suasana baru bagi para anggota koor. Mereka senang ada suster dan orang muda yang mau bergabung dengan mereka, sekaligus mengubah pandangan mereka terhadap figur ‘suster’ selama ini. Kelompok paduan suara yang kami mulai bersama br. Alfred, FIC dan para mahasiswa dari berbagai negara untuk misa bahasa Inggris, memberi warna dan suasana baru dalam ekaristi. Umat gembira ketika diajak bersama-sama menyanyi dan pastor pun senang kalau ada koor yang mengiringi saat ekaristi. Paduan suara ini juga bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa yang ingin bernyanyi dan memuji Tuhan seperti yang telah mereka lakukan di negaranya masing-masing. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan di keuskupan Roermond membawa suasana baru. Melalui kehadiran kami, bisa mengenalkan tentang kehidupan religius, tidak saja hanya kepada anak-anak tetapi juga pada para sukarelawan yang bekerja sama. Keterlibatan dalam acara tahunan seperti ‘zomerkamp’ (camping yang diadakan pada musim panas) membantu menumbuhkan iman dan mengenalkan kehidupan menggereja pada anak-anak. Ini menjadi sarana yang baik dalam situasi Gereja saat ini. Ikut menyiapkan anak-anak sebelum menerima sakramen penguatan dengan memberikan salah satu pelajaran persiapan bagi mereka tentang hidup religius. Kehadiran rutin kami di ‘Zaterdagmiddag club’ di Sittard (seperti sekolah minggu, di mana ada sekitar 80-100 anak) yang datang setiap hari Sabtu, di Lifeteen (untuk anak-anak remaja di Maastricht) juga memberi warna yang baru bagi mereka. Kehadiranku seminggu sekali di Adelante school (sekolah untuk anak-anak cacat mental dan fisik) menjadi sarana mengenalkan figur ‘suster’ bagi anak-anak, guru dan karyawan di sana. Kunjungan-kunjungan keluarga dan menjadi teman bagi mereka yang mengalami kesepian, menjadi bentuk kerasulan yang baru. Kehadiran kami pun membawa suasana dan harapan baru bagi para suster sepuh di Onder de Bogen. Gereja mulai merasakan arti kehadiran komunitas ini. Keuskupan Roermond, paroki di sekitar Maastricht dan Sittard menerima komunitas ini dengan baik. Ada harapan baru bagi Gereja. Bahkan Mgr. Kurris dari Basilik Sterre der Zee pernah mengungkapkan keinginannya untuk memindahkan misa bahasa Inggris ke kapel Onder de Bogen, karena adanya komunitas kami yang bisa menarik orang-orang muda di sini.”

“Menurutmu bagaimana semua bisa terjadi demikian?” Tuhan mengajakku untuk merefleksikannya lebih dalam. Dalam refleksiku aku menemukan,”Semua ini bisa terjadi karena adanya pengorbanan dan pengosongan diri. Memang sampai sekarang belum ada kejelasan akan masa depan komunitas ini, yang kumaksud dengan karya yang pasti seperti di Indonesia: di sekolah, rumah sakit, dsb. Setiap saat dibutuhkan keterbukaan hati untuk terlibat dengan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan Tuhan. Ada saat-saat merasa kesepian dan sepertinya hidup tidak bermakna, tapi ada juga saat-saat merasa sangat bahagia bisa terlibat dalam keprihatinan Gereja saat ini.” Tuhan menggaris bawahi jawaban terakhirku,”Inilah salib yang harus kamu panggul: berani melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri untuk mengikutiKu dan terlibat dalam karya keselamatanKu dalam perutusanmu saat ini.” Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukkan kepadaku jalan untuk mengikutiMu. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang indah ini, membawa semangat baru untuk melanjutkan perutusanku.

Pengosongan diri adalah sesuatu yang tidak mudah, tapi sungguh membahagiakan jika itu bisa kulakukan. Aku berusaha mengosongkan diri dan dalam lembaran kosong ini biarlah Dia yang menulis dan melukis kisah perjalanan komunitas multicultural ini. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas. Amin.

Februari 2012 – Sr. Hedwig

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s