indahnya berserah

CIMG7214

SUNGGUHKAH DIA ADA

Tinggalkan komentar

Sejak kecil saya sangat tertarik tentang Tuhan. Dimana DIA berada? Seperti apa? Dan sebagainya … Seiring waktu saya terus mendapatkan jawaban. Jawabannya bervariasi dan banyak versi. Namun seiring waktu pula jawaban-jawaban tersebut bukan hanya bervariasi tapi juga berubah. Tulisan kakakku yang ditulis di face booknya ini sungguh menarik untukku. Pencarian akan Dia, tidak akan pernah berakhir dalam hidup, dan penemuan akan keberadaanNya dalam hidupku pun selalu berubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan dan kematangan diriku. Ada saat aku bertanya, “Sungguhkah Dia ada?” Ada saat pula, Dia sungguh menunjukkan keberadaanNya yang sangat dekat dengan diriku, bahkan jiwaku sungguh merasa aman, damai dan tenteram dalam pelukanNya.

Seminggu yang lalu, Mgr. E. de Jong (uskup pembantu di Keuskupan Roermond) mengantarkan kami keliling menara Basilik Sint. Servaas yang letaknya disamping biara induk kami. Sampailah kami ke Grameer (lonceng besar di dalam Gereja yang hanya dibunyikan kalau ada pesta besar). Aku kira kami sudah berada di puncak menara Basilik, tapi ternyata puncak menara masih beberapa meter lagi dan harus mendaki dengan tangga besi yang menempel di dinding. Mgr. de Jong mengajak kami mendaki puncak menara karena pemandangan dari atas puncak menara bagus sekali. Dalam hatiku takut juga mendaki seperti itu. Setelah Mgr. de Jong memanjat ke atas dan disusul dua suster, aku pun kemudian menyusul mendaki lewat tangga besi yg hanya cukup untuk ke dua kaki itu. Baru beberapa langkah, kaki dan tanganku sudah terasa gemetar. Dalam hati aku berkata, aku harus bisa sampai atas. Aku pun terus merayap ke atas, sambil terus berdoa Salam Maria… Akhirnya sampai juga di puncak menara Basilik Sint Servaas ini. Sungguh indah sekali pemandangan dari atas. Waktu itu hanya lima suster yang berani mendaki sampai puncak bersama Mgr. de Jong.

Aku teringat pengalamanku beberapa bulan yang lalu ketika mengikuti acara Ladies weekend (pembekalan untuk para pendamping camping musim panas dari keuskupan Roermond). Waktu itu acara diakhiri dengan permainan panjat dinding. Panitia sudah memberitahuku untuk membawa pakaian olah raga untuk acara ini. Awalnya aku takut untuk memanjat dinding yang tegak lurus itu. Aku pernah melakukan hal yang sama ketika acara out bond bersama para suster muda di Jogjakarta, dan waktu itu kakiku kram sehingga tidak berhasil memanjat dinding yang sebenarnya lebih rendah dari yang kuhadapi waktu Ladies weekend. Teman-teman pendamping camping ini, dengan penuh semangat menyemangatiku, “ Ayo suster, suster pasti bisa, kami tahu suster bisa…” Akhirnya aku pun berani mencobanya. Sekali, dua kali, hanya sampai di tengah aku sudah menyerah. Sampai yang ketiga kali aku mencoba, akhirnya sampai juga di puncak dinding tersebut. Teman-teman pun bersorak gembira… Keempat kali, aku pun berani mencoba dinding yang medannya lebih susah dan lebih tinggi dan ternyata bisa.

Meskipun awalnya ada rasa takut, aku berani memanjat dinding dalam acara Ladies weekend, karena aku merasa yakin bahwa aku aman dan tidak akan jatuh. Ada teman yang siap mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat ke atas, seandainya aku sudah tidak sanggup lagi memanjat. Walaupun begitu, aku butuh beberapa kali mencoba untuk berhasil mendaki sampai puncak. Saat di tengah pendakian itu, ada saat aku benar-benar takut kalau jatuh, karena tangan dan kakiku hanya bertumpu pada batu-batu kecil yang menempel di dinding. Tetapi kepercayaan bahwa kalaupun jatuh aku akan selamat karena ada teman yang mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat, membuat hatiku berani untuk terus mendaki sampai puncak. Pengalaman ini merupakan gambaran dalam hidupku.

Kadang aku berada dalam situasi-situasi yang sulit dan takut untuk menghadapinya. Ada saat aku merasa sendiri dengan beban hidup yang berat. Ada saat aku bertanya, “Tuhan dimanakah Engkau, sehingga aku mengalami situasi seperti ini?” Namun iman sekecil apa pun yang Tuhan berikan dalam diriku, inilah yang menjadi kekuatanku. Kepercayaan bahwa Dia ada dan akan selalu menolongku, tumbuh semakin kuat dari berbagai pengalamanku, sehingga aku menemukan bahwa Dia benar-benar ada. Tahun pertama sebagai misionaris di sini, aku sungguh merasakan kekeringan dalam hidup rohaniku. Melihat dan mengalami situasi Gereja di sini, sungguh menyakitkan dan memprihatinkan. Ada rasa pesimis pada waktu itu, akankah Gereja mati? Di manakah Engkau Tuhan, sehingga membiarkan GerejaMu seperti ini? Tetapi iman sekecil apa pun yang masih Tuhan berikan dalam diriku, ternyata bertumbuh dan semakin meyakinkan diriku bahwa Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) dalam situasi Gereja di Eropa saat ini. Merefleksikan kembali sejarah perkembangan Gereja, membuatku optimis bahwa ada saat Gereja seakan “mati” tetapi ada saat pula Gereja hidup dan berkembang. Tuhan membuka jalan dan menunjukkan padaku, bahwa Dia tetap ada dan berkarya sampai saat ini. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa Belandaku, Tuhan memberiku kesempatan untuk terlibat dengan berbagai kegiatan dengan kaum muda di sini. Melalui pengalaman ini, aku merasakan bahwa Gereja masih akan tetap hidup.

Pengalaman mendaki menara Basilik, bermakna berbeda dengan pengalamanku mendaki dinding dalam Ladies weekend. Ketika mendaki menara Basilik, waktu itu tidak ada tali pengaman, sehingga aku harus hati-hati betul dan terus berdoa Salam Maria untuk menumbuhkan keberanian dalam diriku. Ada saat aku mengalami situasi yang penuh dengan ketidakpastian, ketidak jelasan dan hanya dibutuhkan keberanian dan kekuatan doa untuk bisa terus maju. Pengalamanku memulai komunitas baru di sini tidaklah mudah. Sampai saat ini masih penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian akan masa depan komunitas ini. Penuh tantangan baik dari luar maupun dari dalam diriku untuk terus setia menjalankan perutusanNya ini. Ada saat aku merasa ”gemetar” menghadapi situasi yang ada, dan hanya kekuatan doalah yang terus menyemangatiku untuk terus maju mengikutiNya.

Sungguhkah Tuhan ada? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam pengalaman masing-masing pribadi. Satu pengalaman yang sama akan berbicara berbeda, karena perbedaan cara memaknai pengalaman tersebut. Pengalaman sesederhana apa pun (seperti pengalamanku di atas), kalau direfleksikan akan membawa kita pada pengalaman kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kesetiaan dalam doa dan merefleksikan setiap pengalaman yang ada, menjadikan hidup kita lebih bermakna dan menemukan keberadaan Tuhan dalam hidup kita saat ini.

(Maastricht, 30 September 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s