indahnya berserah

chikenpox1

USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR?

3 Komentar

Tulisanku ini tentang pengalaman sakit cacar air yang kualami kira-kira empat bulan yang lalu. Penyakit cacar air yang dialami dalam usia dewasa adalah sesuatu yang tidak begitu umum, maka aku ingin membagikan pengalamanku ini. Semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami nasib yang sama denganku.
Awal bulan Mei 2012, selama dua minggu aku direpotkan dengan telingaku yang terus berdengung. Dokter sudah menyarankan untuk disemprot/ dibersihkan kemungkinan karena ada kotoran di dalam telinga. Setelah dibersihkan ternyata tetap saja, lalu dokter memberi obat semprot hidung. Kata dokter salurang udara antara telinga dan hidungku tidak lurus, maka tekanan udara yang tidak imbang ini menyebabkan dengung di telinga kiriku. Tujuan diberi semprot melalui hidung untuk menyeimbangkan tekanan udara dari telinga dan hidung. Mungkin yang dimaksud dokter ini adalah: Tuba eustakius . Tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan. (sumber: medicastore.com).

Hari pertama, benjolan mulai muncul.
Tiga hari kemudian setelah diberi obat semprot, telinga kiri bagian belakang mulai terasa sakit. Aku raba ada benjolan di situ. “Mungkin ini reaksi dari obat semprot hidung yang kupakai,” pikirku. Malam ini kurasakan badanku agak sedikit meriang, nafsu makan sudah mulai berkurang. Hari berikutnya aku mempunyai banyak aktifitas, meski hari Minggu. Pagi tugas koor bersama para suster. Siang hari jam 13.00 berangkat ke keuskupan Roermond untuk pertemuan persiapan pendamping camping musim panas. Sejak pagi aku merasakan badanku tidak enak, agak meriang, terasa capai, dan tidak ada nafsu makan. Kira-kira jam 19.00 aku baru pulang dari pertemuan. Waktu makan malam, aku sama sekali tidak bernafsu makan. Badanku semakin terasa tidak enak. Telinga kiriku terasa semakin sakit. Selain itu, aku temukan benjolan merah di dada dan mukaku. Aku semakin curiga dengan efek samping dari obat semprot hidung yang sedang kupakai. Lalu kubaca petunjuk obat, dan kutemukan bagian yang mengatakan bahwa efek samping dari pemakaian obat ini adalah iritasi pada kulit.
Malam sebelum tidur, kutemukan beberapa benjolan di dada, perut dan mukaku, jumlahnya waktu itu belum ada 10. Ada 1 benjolan di perut yang kelihatan berisi air. Aku mulai curiga kalau itu cacar air. Kebetulan aku memang belum pernah terkena cacar air waktu masih kecil. Lalu aku mencari informasi di internet tentang penyakit cacar air ini. Dari info yang kudapat, dugaanku semakin kuat kalau sakitku ini cacar air. Lalu aku menulis via facebook ke teman (seorang dokter) untuk lebih memastikan dugaanku ini, tapi sayang aku baru mendapat tanggapan setelah lewat 3 hari. Malam itu aku masih bisa beristirahat, meski badan agak meriang.

Hari kedua.
Bangun tidur kutemukan benjolan di perut, dada dan mukaku semakin bertambah. Aku semakin takut. Pagi itu aku pergi ke ziekengang (semacam klinik di dalam biara kami). Ketika perawat yang bertugas melihat benjolanku, mereka sudah menduga kalau ini cacar air, bukan alergi obat yang kupakai. Lalu aku dibuatkan janji dengan huisart (dokter rumah) kami. Siang hari, aku sudah tidak mempunyai nafsu makan lagi, badanku agak meriang. Sore hari aku ke tempat praktek huisart. Dokter memeriksa telinga kiri yang selama ini kukeluhkan dan dia lihat cukup baik (meski dengung masih kurasakan). Lalu kuceritakan tentang benjolan di belakang telinga kiriku yang membuat sakit, juga beberapa benjolan di badan dan mukaku. Kemudian dokter memeriksa benjolan yang di badanku. Setelah melihatnya, dokter mengatakan bahwa sepertinya aku terkena penyakit cacar air dan menanyakan apakah aku sudah pernah mendapat cacar air. Aku menjawab bahwa aku belum pernah mengalaminya dan benarlah dugaanku tadi malam. Waktu mengetahui penyakitku ini, kulihat dokter cukup serius mencari info di komputernya. Kemungkinan gejala dengung di telinga kiriku ini juga karena penyakit cacar air ini. Dokter mengingatkanku dengan serius bahwa kemungkinan mulai nanti malam atau besok pagi aku akan benar-benar jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa dia tidak menakut-nakuti aku, tetapi ini kemungkinan yang akan terjadi pada diriku: demam tinggi, kepala sakit, telinga sakit, mual, lemas, capai & tidak bernafsu makan. Aku diminta untuk minum paracetamol 4x sehari @ 2 tablet, banyak minum air, makan dan istirahat. Kalau gejala yang disebutkan dokter itu mulai terasa, aku diminta untuk langsung menelpon dokter. Terakhir dokter masih mengingatkanku bahwa aku akan benar-benar jatuh sakit dengan penyakitku ini, karena cacar air yang dialami oleh orang dewasa biasanya rasa sakitnya lebih parah dibandingkan yang dialami oleh anak-anak. Informasi seperti inipun yang kudapat melalui internet. Aku pun jadi agak takut, tapi di sisi lain menjadi siap untuk “sakit”. Kalau gejala yang dikatakan dokter itu tidak muncul, maka dokter akan memeriksaku lagi hari Rabu, pas dia praktek di biara kami. Sepulang dari periksa dokter, aku langsung istirahat. Semua acara mulai sore itu berubah. Aku mulai membalas email-email untuk membatalkan janji/ acara minggu ini. Malam itu aku masih bisa beristirahat dengan baik, tidak terjadi demam tinggi dan sakit kepala.

Hari ketiga.
Hari berikutnya, ketika bangun tidur benjolan air di badan dan mukaku cepat sekali bertambah. Pagi itu aku takut untuk mandi, karena banyak benjolan air yang kelihatan segar di badan dan mukaku. Aku sudah mulai mengisolasi diri dan tidak keluar kamar. Badanku sedikit meriang (tidak demam tinggi) dan terasa lemas. Hari ini aku banyak istirahat, meski agak sulit karena rasa gatal di tubuh dan mukaku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggaruk rasa gatal ini. Malam ini aku sulit tidur karena badan terasa lemas, badanku meriang, kepala agak sakit, perutku juga sakit, selain itu juga rasa gatal-gatal dari badan sampai kepalaku.

Hari keempat.
Aku tidak sanggup lagi untuk berjalan ke ziekengang, meski hanya di dalam biara kami. Lalu perawat mengatakan bahwa dia akan meminta dokter datang ke kamarku. Pagi ini badanku masih terasa lemas. Siang hari ketika dokter datang memeriksaku, kondisiku sudah semakin membaik. Badanku tidak panas tinggi, meski badan masih agak lemas. Dokter kaget melihat kondisiku yang masih lumayan baik ini dan jauh dari perkiraannya. Benjolan yang muncul di wajahku pun tidak terlalu banyak. Dia masih mengatakan bahwa gejala demam, sakit kepala, dan sebagainya kemungkinan masih akan muncul sampai hari ke-10. Aku diminta untuk siap kalau hal ini benar-benar terjadi, dan diminta langsung menelponnya. Aku semakin siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Malam ini aku masih sulit untuk istirahat karena rasa gatal di seluruh tubuh dan mukaku.

Hari kelima dan seterusnya.
Hari kelima dan keenam adalah puncak munculnya benjolan di kepala, muka, badan, tangan dan kakiku. Badanku semakin terasa lemas dan gatal-gatal. Dokter hanya memberiku obat paracetamol yang diminum 4x @ 2 tablet. Aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit cacar air untuk orang dewasa di internet. Untuk mengurangi rasa gatal, aku memakai bedak menthol. Setiap hari aku mandi dengan sabun antiseptik Dethol. Meskipun beberapa suster mengingatkan aku untuk tidak mandi dulu karena benjolan-benjolan di tubuhku, tapi menurut beberapa informasi yang kuperoleh di internet, kebersihan badan dan lingkungan sangat membantu untuk proses penyembuhan penyakit cacar ini. Maka aku tiap hari mandi dengan hati-hati supaya benjolan tidak pecah dan hasilnya lumayan baik. Seprei dan sarung bantal setiap hari juga diganti. Benjolan tidak menyebar banyak setelah hari keenam.

Hari-hari berikutnya sampai kira-kira 1 bulan aku diisolasi dalam kamarku. Penyakit cacar ini adalah penyakit yang cepat menular, dokter takut kalau para suster yang lain akan ketularan, apalagi aku tinggal dalam 1 komplek biara yang besar. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari panjangku sendirian di dalam kamar, segala sesuatu dilayani oleh para suster. Para suster pun takut untuk menengokku. Setiap hari kunikmati tubuhku yang gatal dan penuh benjolan. Aku bersyukur bahwa aku seorang “suster” sehingga kecantikan tidaklah penting lagi. Wajahku saat itu dihiasi dengan benjolan-benjolan yang setelah mengempis membekas menjadi hitam. Sambil bergurau kepada para suster dan teman-temanku, aku mengatakan bahwa Tuhan menambah lukisan dan hiasan di wajah dan tubuhku. Ini kenang-kenangan yang indah dari Dia.

Retret panjang.
Penderitaan akan menjadi ‘rahmat’ dalam hidup kita, ketika kita bisa memaknai dan merefleksikannya. Di usia yang sudah hampir berkepala empat dan jauh dari tanah air, kok ya masih mendapat penyakit cacar air. Waktu mengalami ini rasanya campur aduk antara ingin menertawakan diri sendiri (reaksi para suster memang setiap kali tertawa ketika mendengar aku mendapat cacar air) dan bertanya apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dengan penyakitku ini.

Selama lebih dari satu bulan menyendiri di kamar, ternyata menjadi retret panjangku. Minggu pertama adalah minggu penderitaan yang membuat aku hanya bisa menyerah pada tubuhku yang lemah dan menikmati rasa sakit yang ada. Minggu-minggu selanjutnya dalam proses penyembuhan, aku lebih bisa menikmati hari-hariku dengan berdoa dan membaca buku-buku dalam suasana hening di kamarku atau sambil menikmati musik. Dalam situasi sakit aku mengalami cinta yang berlimpah dari Tuhan. Setiap hari saudari sekomunitasku menyiapkan makan pagi-siang-malam untukku. Seorang suster yang sudah tua, dengan penuh cinta mencucikan dan menyeretika baju-baju, seprei dan sarung bantal yang kupakai. Meskipun para suster takut menengokku, tapi perhatian dan cinta mereka sungguh kurasakan dengan bunga-bunga dan kartu-kartu yang dikirim ke kamarku. Cinta yang berlimpah juga kurasakan dari teman-temanku anggota koor paroki dan teman-teman dari keuskupan yang mengirim kartu-kartu ucapan supaya cepat sembuh. Aku mengalami begitu banyak orang yang mencintai diriku melalui cara mereka masing-masing dengan perhatian, pelayanan, kartu, bunga dan doa-doa.

Pengalaman ketidakberdayaanku dengan tubuhku yang lemah ini membawaku pada pengalaman cinta Tuhan yang begitu besar dalam diriku. Aku semakin mengalami ketergantunganku padaNya. Di saat aku lemah, justru pada waktu itulah aku mengalami kasihNya yang berlimpah dalam hidupku.

Maastricht, 13 Oktober 2012

3 thoughts on “USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR?

  1. Terima kasih sudah berbagi. Saya jadi merasa tidak sendiri dan Tuhan tidak mencobai saya lebih dari yang saya mampu. Saya sedang tertular cacar (ke-2 kalinya kena cacar) dari anak saya dan memasuki hari ke-5. Muka jadi seperti monster, kepala sakit, demam naik turun, lemas. Yang bikin paling sedih saya tidak berani dekat2 anak saya yang sedang pemulihan. Padahal saya juga sedang menyusui. Huisart hanya mau kasih salep menthol dan paracetamol. Ingin rasanya semua cepat selesai.

    • Kembali kasih. Saya bisa merasakan bagaimana rasanya mengalami sakit ini, apalagi anda punya anak kecil tentu menyedihkan sekali. Doa saya semoga cepat diberi kesembuhan dan kekuatan untuk mengalami semua ini. Tinggal di Belanda juga ya? GBU. Salam & doa saya dari Maastricht.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s