indahnya berserah

doa ibu

KESETIAAN SEORANG IBU & ISTRI

5 Komentar

           CIMG6600Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya tgl 10 Januari 1983, bapak dipanggil Tuhan dengan mendadak karena kecelakaan. Saat itu usiaku baru 10 tahun, ke dua kakakku masih sekolah di STM dan SMEA. Kakakku yang sulung sudah bekerja di pelayaran. Ibuku waktu itu masih berusia 40 th. Kepergian bapak membuka babak baru dalam kehidupan keluarga kami.

          Mengenang kembali wafatnya bapak, berarti mengingatkan juga akan kesetiaan seorang ibu dan istri, yang kumaksud adalah ibuku. Ketika Bapak meninggal, ibu masih tergolong muda dan harus menanggung biaya 3 anak yang masih sekolah dengan penghasilan yang tidak tetap. Beruntung bahwa kakak sulungku sudah bekerja, jadi bisa sedikit meringankan beban ibu, yang setiap hari berjualan nasi pecel untuk mempertahankan hidup kami. Sejak bapak meninggal, ibu tidak mau menikah lagi. Padahal kalau mau, bisa saja beliau menikah lagi. Kata orang, waktu masih mudanya, ibu adalah “bunga desa”. Tapi ibu tidak mau menikah lagi dengan alasan karena punya dua anak perempuan. Ibu tidak ingin ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi pada kedua anak perempuannya kalau beliau menikah lagi. Belum tentu bapak yang baru akan tulus mencintai kedua putrinya.

          Ibuku adalah orang yang sederhana, tidak bisa baca-tulis tapi sungguh pandai dalam mengelola rumah tangga dan mendampingi putra-putrinya. Beliau adalah seorang wanita yang kuat dan tangguh. Kepergian seorang bapak tentu berpengaruh terhadap perkembangan psikologi kami. Kakak yang masih belajar di STM waktu itu seperti kehilangan pegangan hidup. Dia sering bolos sekolah dan tidak semangat belajar di sekolah, tentu beban ini tidaklah mudah untuk ibuku. Beliau berusaha agar kami tetap bisa belajar dan mengenyam pendidikan di sekolah dengan baik. Beliau tidak bisa membekali kami dengan harta benda, tetapi ingin membekali kami dengan ilmu yang bisa untuk menjadi bekal masa depan kami.

         Kesetiaan sebagai seorang ibu dan istri sungguh diperjuangkan dan diwujudkan dalam mendampingi kami. Dalam lingkungan hidup yang keras, beliau berusaha menjaga kami dan menanamkan nilai-nilai hidup yang baik. Dalam keluarga kami, masing-masing mendapat tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya. Masing-masing mempunyai peran untuk bersama-sama menanggung kesulitan yang ada. Sejak kami masih kecil, kami selalu diajarkan untuk “hidup prihatin”. “Hidup prihatin” dalam arti berpuasa, belajar mengendalikan diri dengan laku tapa ini. Sebelum menganut agama Katolik, ibuku adalah penganut kebatinan/ kejawen. Beliau sangat kuat dalam hal laku tapa dan doa, dan ini yang diajarkan pada kami. Aku masih ingat, setiap jam 12 malam ibu selalu doa di halaman rumah menghadap arah terbitnya matahari dan aku yang masih kecil sering duduk menunggu di belakangnya.

           Pengalaman rohani yang diajarkan ibu ini membuatku semakin mengalami pengalaman bahwa Allah sendirilah yang menjadi Bapa kami. Setiap saat akan membayar uang sekolah dan uang untuk membayar belum ada, ibu selalu mengajak untuk sembahyang dan selalu saja ada rejeki yang datang tepat pada waktunya. Ketika kami sedang test atau ujian, ibu selalu ekstra doa atau berpuasa untuk keberhasilan kami. Bersama Tuhan, ibu turut membentuk kami menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sungguh bekal hidup yang sangat bernilai yang telah ibu berikan pada kami.

             Tidak terasa sudah tiga puluh tahun, bapak meninggalkan kami. Mengenang kepergian bapak, berarti mengenang kesetiaan ibuku sebagai seorang ibu dan istri. Aku hanya bisa bersyukur mengingat semua ini. Bekal nilai-nilai hidup dan ilmu yang diberikan orang tua pada anak-anaknya, sungguh lebih berharga daripada bekal harta benda yang akan cepat habis. Kesetiaan ibu menjadi teladan bagiku untuk setia dalam panggilan hidupku saat ini. Terima kasih Tuhan atas anugerah kehidupan dan dasar-dasar baik yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuaku yang menjadi bekal hidupku saat ini. Amin.

Maastricht, 7 Januari 2013

5 thoughts on “KESETIAAN SEORANG IBU & ISTRI

  1. tak terasa air mata membasahi pipiku,mengingat lembaran masa lalu…..ibu adalah sosok wanita yg tangguh,beliau bisa berperan ganda sbg ibu & kep rumah tangga dgn penghasilan yg pas2an dia mampu mengelola management kel hingga mampu membesarkan anak2nya dan kesetianya pd suami patut di tauladani….cinta sejatinya hanya pd seorang pria yg mendahului berpulang 30 th yg lalu dan tetap bertahan dlm kesendirianya hingga kini d sisa2 hidupnya yg telah renta…..terima kasih ibu keuletan,kegigihan,ketulusan dan kesetianmu menjadi suri tauladan bagi kami.

  2. Ibu …… betapa Mulia ….. Hatimu

    Tiada tangis serta tiada derita engkau rasakan dalam mengarungi kehidupan setelah ditinggal bapak , dengan kasih sayangmu sehingga kami bisa seperti ini . Dibalik kedisplinan dan kekerasanmu tersembunyi pemikiran yang luhur buat kami.

    Sejak ditinggal bapak engkau hanya bisa minta pertimbangan padaku didalam ada kesulitan atau mau memutuskan suatu masalah entah itu untuk keluaraga besar maupun untuk adik adiku …… walaupun aku hanya putra yang kedua ……
    Waktu itu usiaku masih remaja tapi pola pikirku harus dituntut keadaan untuk menjadi seorang bapak dari adik2 ku, memang ku akui waktu itu ak sangat tergoncang kehilangan bapak ….

    Beliau adalah bapaku juga temanku sekaligus sahabatku. Jiwa, pola pikir ku 80 % dibentuk oleh bapak praktek dalam kehidupan sehari hari dilatih oleh ibu .
    Bapak banyak mengajarkan Nilai – nilai kehidupan dan kemanfaat hidup kita, serta jiwa kepempimpinan sekaligus untuk menjadi manusia besar dan berjiwa besar punya nilai manfaat bagi sesama yang besar.

    Beberapa Tahun ini aku baru menyadari dan tau dengan beberapa bukti ….. bahwa diusainya ibu yang renta ini ingin aku tunggui dan ingin aku yang merawat …… beberapa bulan terakhir ini setiap aku perhatikan, ibu didalam melayani aku seprti melayani bapak dikala waktu masih sugeng ……. setiap harinya aku masih dipelakukan seperti anak anak …..
    Sering aku menangis sendiri disaat aku memperhatikan ibu tidur dan bangun tidur ……

    Maafkan anakmu yang nakal ini bu ….. ak akan tetap setia menemani sisa sia usia ibu …… apapun yang terjadi .

    Adik Ku Hanya kamu harapan mas mur satu satunya yang bisa menhantarkan ibu kehadapan Tuhan Yesus ……

  3. Disaat usia ibu tualah sudah sepantasnya kita untuk membalas kesetiaan ibu dalam mendidik dan membesarkan kita, walaupun itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan kasih sayang beliau.

    Semua itu tergantung bagaimana kita yang mencikapi dan mengatur waktu untuk memperhatikan ibu kita, apapun wujud perhatian itu, bisa berupa materi atau tenaga bisa juga dengan kita menyempatkan untuk menyisihkan waktu ditengah kesibukan serta tanggung jawab kita sebagai orang tua dari anak2 kita serta tanggung jawab pada pekerjaan kita.
    Minimal kita bisa menyisihkan waktu beberapa jam melihat langsung atau ketemu ibu dalam sebulan sekali. Terkecuali jarak kita terlalu jauh dan membutuhkan biaya yang sangat banyak dan kita tidak punya biaya tersebut.

    Tidak ada alasan apapun kita untuk mengatakan tidak bisa memperhatikan serta memberi kasih sayang pada ibu kita.

    • Terima kasih mas utk tanggapannya… titip ibu dirawat dengan sabar… saya tahu ini tdk mudah. Setiap hari aku selalu bersatu dengan ibu, kakak2 dan keponakan2ku dalam doa… hanya ini yg bisa kupersembahkan utk org2 yg kucintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s