indahnya berserah


79 Komentar

CARA TRADITIONAL MENGHILANGKAN BEKAS CACAR DI WAJAH

Mentimun1Aku tergerak untuk menulis tentang cara traditional menghilangkan bekas cacar air di wajah, karena kulihat tulisanku yang berjudul: “Usia sudah hampir kepala 4 masih terkena cacar air” hampir setiap hari ada pengunjung blog yang membacanya. Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang saat ini sedang menderita cacar air.

Hampir setahun yang lalu aku menderita sakit cacar air. Tulisanku kali ini tentang pengalaman bagaimana cara perawatan terbaik sesudah terkena cacar air. Tentu banyak dari kita yang tidak menginginkan bekas hitam cacar air melekat di wajah. Sebenarnya hal ini tidaklah penting bagiku, aku tidak terlalu merisaukan bekas ini, tetapi kalau bisa diusahakan dengan cara sederhana, mengapa tidak kuusahakan? Selama diisolasi di kamar karena penyakit ini, aku mempunyai banyak kesempatan untuk mencari informasi tentang cacar air via internet. Salah satunya adalah cara menghilangkan bekas cacar air di wajah. Menarik sekali, karena ternyata caranya sederhana dan murah.

Selama hampir 1 bulan aku menderita cacar air, obat yang diberikan dari dokter hanyalah paracetamol. Berdasarkan informasi yang kuperoleh dari internet, aku berusaha melakukan yang terbaik dalam proses penyembuhan dari penyakit ini. Berusaha makan, minum dan istirahat cukup untuk menjaga kondisi fisikku. Menjaga kebersihan juga obat yang baik untuk penyakit ini. Meski ada pendapat yang mengatakan bahwa selama menderita cacar air dilarang mandi, tetapi menurut pengalamanku setiap hari mandi dengan hati-hati dengan menggunakan sabun antiseptik dan menggunakan bedak menthol untuk mengurangi rasa gatal sangatlah membantu untuk mempercepat proses penyembuhan. Usahakan agar benjolan tidak pecah selama mandi. Setiap hari mengganti baju, sprei dan sarung bantal. Segatal apa pun berusahalah untuk tidak menggaruk benjolan sehingga tidak menimbulkan luka. Biarkan benjolan itu mengering dan mengelupas dengan sendirinya. Memang, setelah itu tetap akan timbul bekas, tetapi bekas ini akan lebih mudah hilang jika dibandingkan dengan luka yang lebih dalam karena bekas garukan.

Dari informasi yang kuperoleh, ada beberapa cara sederhana untuk menghilangkan bekas cacar air ini. Salah satunya, yang bisa dengan mudah kuperoleh di Belanda sini dan harganya tidak mahal adalah mentimun. Mentimun mengandung vitamin C dan potasium yang baik untuk menangkal radikal bebas, tetapi juga memiliki kandungan air yang cukup tinggi dan menyegarkan. Joel Schlessinger, MD, ahli kulit dari Omaha, Nebraska, menyimpulkan bahwa mentimun juga memiliki kandungan silika yang dapat meningkatkan produksi kolagen dan mencegah munculnya keriput. Tidak heran, banyak produk yang menggunakan mentimun sebagai bagian penting dalam perawatan kulit baik untuk mengencangkan, melembabkan kulit, mengatasi jerawat, dan bahkan untuk menghilangkan bekas luka pada kulit. (dari: http://www.deherba.com/7-cara-alami-terbaik-untuk-menghilangkan-bekas-luka.html).

Setelah kira-kira 2 minggu benjolan-benjolan di wajah, kepala dan badanku mulai mengering. Waktu itu aku tidak diperbolehkan keluar kamar selama 1 bulan karena takut kalau penyakitku ini akan menular ke suster yang lain. Maka untuk mengisi waktu luangku, kucoba untuk menggunakan mentimun ini. Caranya adalah haluskan mentimun, bisa dengan blender atau diparut. Lalu peras dan gunakan airnya untuk masker, atau bisa juga timun yang sudah halus itu dioleskan pada muka beberapa saat sampai mengering, setelah itu basuh muka dengan air bersih. Kadang kalau baru malas memarut, aku hanya memotong tipis dan menempelkannya ke muka khususnya ke bekas cacar yang ada. Hal ini kulakukan 2 kali sehari: siang dan malam sebelum istirahat. Selama kira-kira 1 bulan aku melakukan pengobatan traditional ini.

Hasilnya tidak begitu mengecewakan. Bekas cacar air itu tidak nampak di wajah. Beberapa teman tidak percaya bahwa belum ada setahun yang lalu aku menderita cacar air, karena bekas cacar itu sudah tidak terlihat lagi di wajahku. Bagi teman-teman yang belum membaca sharingku sebelumnya tentang penyakit cacar ini, silahkan buka: USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR. Semoga tulisanku ini membantu teman-teman yang saat ini sedang menderita penyakit cacar air ini. Selamat mencoba, semoga Tuhan memberkati dan memberi kesembuhan!


Tinggalkan komentar

TITIK-TITIK TERANG DI TENGAH KEGELAPAN

Jesus-road_to_emmausTulisan ini merupakan refleksiku tahun yang lalu. Setiap kali membaca kembali refleksi ini, semangat dan harapanku dibangkitkan kembali. Paskah mengingatkanku akan pengalaman indah doa  ketika retret bimbingan pribadi di akhir tahun 2011. Ketika aku mengkontemplasikan tentang bahan dua murid Emaus (Lukas 24: 13-35), situasi Gereja di Nederland saat inilah yang muncul dalam doaku.  Aku  mengalami Yesus saat ini juga baru disalibkan oleh para imam-imam kepala dengan kasus-kasus misbruikt (pelecehan seksual/ kekerasan) yang dilakukan oleh para imam/ religius di masa lampau dan mulai diangkat kasusnya sekarang ini, sehingga membuat umat mulai kurang percaya kepada Gereja. Kebijakan-kebijakan baru dalam pemerintah yang meniadakan pelajaran agama di sekolah, mengakibatkan anak-anak tidak mengenal iman dan Gereja. Banyak gedung-gedung Gereja mulai ditutup karena semakin berkurangnya umat yang datang ke Gereja dan tingginya beaya perawatan gedung Gereja. Kebebasan yang diberikan oleh Gereja beberapa dekade yang lalu telah membawa perubahan besar dalam Gereja, baik bagi umat maupun dalam kehidupan para religius. Saat ini sepertinya Tuhan wafat, Gereja di sini seakan ‘mati’. Sedih rasanya mengalami situasi Gereja yang gelap yang seperti ini.

Lalu dalam renunganku Tuhan membawaku pada situasi awal berdirinya kongregasi kami di th 1837. Situasi Gereja pada waktu itupun tak jauh beda dengan situasi Gereja sekarang ini. Ketika itu Gereja juga seakan ‘mati’. Gereja-gereja dilarang mengadakan ibadat dan biara-biara ditutup. Hidup membiara menjadi sesuatu yang langka di kota Maastricht, maka kerinduan Bunda Elisabeth waktu itu “ jika sekiranya berkenan kepada Tuhan, aku mohon agar di sini di kota Maastricht ini, didirikan sebuah biara, di mana Tuhan akan diabdi dengan setia…” (EG.5). Perkembangan selanjutnya, ada masa-masa di mana Gereja sungguh bangkit dan berkembang pesat. Ada masa di mana begitu banyak umat mulai ke Gereja lagi dan biara-biara baru mulai didirikan. Ada saat di mana anggota Kongregasi CB lebih dari 1000 suster (hanya dari Nederland saja). Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan Gereja pada masa itu. Kehidupan Gereja pun berputar seperti roda, ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah, tetapi yang terpenting adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan Gereja dan membiarkannya ‘mati’. Pada saatnya, Ia selalu membawa kebangkitan dan kehidupan baru.

Dalam situasi yang gelap ini, Tuhan mengajakku untuk melihat pengalamanku selama 4,5 th dalam memulai komunitas baru di sini. Aku melihat kebangkitan-kebangkitan baru dalam Gereja, meskipun itu masih dalam kelompok-kelompok kecil. Kegiatan-kegiatan untuk anak-anak dan kaum muda yang mulai hidup dan tumbuh. Contohnya adalah pewartaan tentang kabar gembira Tuhan yang dimasukkan melalui kegiatan camping musim panas cukup efektif untuk mengenalkan kembali kehidupan Gereja kepada anak-anak dan kaum muda. Tuhan mengajakku untuk melihat bagaimana komunitas kami juga ikut terlibat dalam mewartakan kebangkitanNya dalam situasi Gereja di Nederland saat ini. Kelompok koor bersama para mahasiswa yang kami bentuk untuk memeriahkan misa Bahasa Inggris, membuat suasana baru dalam Ekaristi. Kehadiran kami dalam setiap kegiatan dengan anak-anak dan kaum muda di Keuskupan, dalam setiap peristiwa dan perjumpaan dengan sesama di sini juga membawa kehidupan baru dan suka cita. Hatiku berkobar-kobar ketika diajak melihat kembali pengalaman-pengalamanku di sini yang penuh pergulatan, tetapi disitu aku menemukan Tuhan yang berkarya setiap saat. Aku sadar bahwa Tuhan sendiri telah menyertai dan menunjukkan kepadaku bahwa Dia hidup, Gereja di sini tidak akan mati.

Tuhan menunjukkan padaku kabar kebangkitan yang diwartakan melalui kelompok-kelompok kecil di sini, seperti yang terjadi pada saat pertama kali pewartaan ketika Yesus bangkit. Kabar kebangkitan Yesus tidak dialami secara serentak oleh banyak orang, tetapi pada awalnya melalui beberapa orang murid saja. Tapi dari sejarah Gereja yang ada, pewartaan kebangkitan Tuhan dari beberapa murid ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia. KebangkitanNya membawa sukacita dan kehidupan baru bagi dunia. Saat ini situasi Gereja di Nederland memang sedang gelap, seperti situasi beberapa hari setelah Yesus disalibkan. Dari pengalaman doa ini, Tuhan memberi harapan kepadaku bahwa warta kebangkitanNya akan dirasakan banyak orang meski itu masih butuh proses yang sangat panjang untuk situasi Gereja di Nederland/ Eropa saat ini. Tuhan mengutusku untuk menjadi seperti sekelompok orang/ para murid pertama yang mengalami kebangkitan Tuhan dan mewartakanNya sesuai dengan perutusanku saat ini. Dia sendiri yang datang membawa titik-titik terang, harapan-harapan dan kehidupan baru di tengah kegelapan yang ada. Kebangkitan-kebangkitan yang telah dialami dan dimulai dalam kelompok-kelompok kecil, pada saatnya nanti akan berpengaruh dan mengubah kehidupan Gereja di sini. Aku percaya bahwa Dia tidak akan membiarkan GerejaNya di sini mati.