indahnya berserah


2 Komentar

Untung cepat sadar…

Sudah lama tidak menulis di blog ini, jadi kangen menulis pengalaman-pengalamanku lagi. Cerita lama yang membuat tertawa sendiri mengingat pengalaman 4 tahun yang lalu ketika masih di negeri kincir angin di akhir bulan Januari 2013. Begini ceritanya:

Waktu itu kami pulang dari pertemuan di mana untuk kembali ke Maastricht harus ganti kereta sampai 5 kali. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, harus naik-turun kereta selama 4 kali dalam cuaca yang begitu dingin setelah turun salju, akhirnya sampailah di kereta terakhir yang membawa kami ke Maastricht. Aku pergi berdua dengan Sr. Ana. Ketika sampai di dalam kereta aku langsung duduk di tempat duduk yang kosong, tapi Sr. Ana belum dapat tempat duduk. Kebetulan waktu itu penumpangnya penuh sekali. Melihat ada tempat duduk yang bisa diduduki, spontan dia bilang ke salah satu penumpang,”Ini kan tempat duduk untuk bertiga, boleh saya duduk di sini.” Penumpang tersebut nampak bingung. Sr. Ana mengulangi lagi pertanyaannya, penumpang itu tambah bingung dan tidak memberikan tempat duduknya, lalu Sr. Ana masih mengulanginya ke penumpang yang lain. Akhirnya ada salah seorang ibu yang baik hati memberikan tempat duduknya lalu dia berdiri. Aku nggak enak melihat pemandangan ini, lalu kutawarkan tempat dudukku untuk ibu tersebut, tapi dia nggak mau. Penumpang yang pertama kali ditanya Sr. Ana, akhirnya meminta kepada ibu yang memberikan tempat duduknya untuk Sr. Ana supaya duduk disampingnya. Lalu perbincangan dalam bahasa Belanda diantara mereka pun dimulai. Ibu yang pertama kali ditanya Sr. Ana dengan wajah jengkel berkata,”Gimana sih, ini kan memang tempat duduk untuk 2 orang kok suster itu bilang untuk 3 orang? Atau karena ukurannya yang besar?” Ibu yang lain menjawab,”Ya, tentu saja ukurannya lebih besar dari yang lain, ini kan tempat untuk kelas 1.” Mendengar tentang ini aku baru sadar, bahwa kami duduk ditempat yang salah. Mungkin ibu-ibu itu tidak mengira kalau aku mengerti perbincangan mereka yang dalam bahasa Belanda. Sr. Ana masih merasa benar bahwa tempat duduk itu untuk bertiga, lalu aku datang ke tempatnya sambil berbisik,”Suster, saya malu, ibu-ibu itu membicarakan kita dan ternyata kita di tempat duduk yang salah, ini untuk kelas 1, sedangkan tiket kita kelas 2.” Ketika aku berbisik ke Sr. Ana, ternyata ada penumpang lain yang menempati tempat dudukku, aku senang karena ada kesempatan dan alasan meninggalkan gerbong ini. Lalu aku menuju ke gerbong berikutnya yang diperuntukkan untuk tiket kelas 2 dan ternyata masih ada satu tempat duduk yang kosong. Aku berharap bahwa tidak ada pengecekan tiket, karena betapa malunya kalau sampai ada pengecekan dan ternyata Sr. Ana salah tempat duduk di kelas 1. Sampai pada stasiun berikutnya, begitu ada penumpang di gerbong kelas 2 yang turun langsung kupanggil Sr. Ana untuk pindah tempat duduk. Tidak lama kemudian, di stasiun berikutnya datanglah petugas yang mengecek tiket. Waktu petugas datang, kebetulan ada 2 gadis yang salah masuk ke gerbong kelas 1, padahal tiketnya untuk kelas 2. Lalu kedua gadis itu duduk didepanku dan langsung ditegur oleh petugas tersebut,”Kamu pindah ke sini karena melihat saya mengecek ya? Tiketmu untuk kelas 2?” Melihat itu, dalam hati aku bersyukur bahwa kami sudah pindah ke tempat yang seharusnya. Betapa malunya kalau sampai ditegur oleh petugas dan dengan kejadian sebelumnya yang membuat beberapa penumpang yang bertiket kelas 1 agak jengkel. Untung…

Ketidaktahuan atau kesalahan bisa terjadi pada siapa saja yang kadang membuat orang lain lain jengkel. Oleh karena itu, kerendahan hati untuk menyadari kesalahan tersebut dan kemauan untuk berubah itu penting sehingga tidak merugikan orang lain dan mempermalukan diri sendiri. Meskipun memang ada saja orang yang sudah selalu merasa diri benar, sehingga tidak sadar kalau perbuatannya telah membuat resah atau mengorbankan sesamanya. Ini yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Semoga semakin banyak orang yang berani menyadari kesalahannya dan mau berubah menjadi lebih baik sehingga hidup bersama di negeri ini semakin indah.

Iklan