indahnya berserah

My Love story

Tinggalkan komentar

Aku jatuh cinta pertama kali pada figur seorang suster hanya karena mendengar curhatan sahabatku. Usiaku waktu itu masih sekitar 13 tahun, kelas satu SMP. “Sr Corona itu seperti mamaku, menerimaku dan mendengarkan masalah-masalahku,” cerita sahabatku itu pada diriku. Aku tahu sahabatku ini berasal dari keluarga yang kurang harmonis karena dia sering curhat dan aku juga pernah main ke rumahnya. Dia sering merasa kesepian di rumahnya yang cukup besar. Sr. Corona adalah kepala sekolah kami yang tegas dan disegani murid-murid karena kedisiplinannya. Tapi dibalik ketegasannya itu tersimpan hati yang penuh keibuan, meski sebenarnya penilaianku ini hanya berdasarkan cerita dari sahabatku tadi. Aku berpikir,”Alangkah bahagianya menjadi suster karena bisa membantu banyak orang  yang sedang menghadapi masalah seperti sahabatku itu.” Sejak saat itu hatiku jatuh cinta pada figur seorang suster. Cinta pertama seorang remaja yang kagum pada figur yang menarik hatinya karena bisa menolong orang lain yang membutuhkan bantuan. Tapi cinta ini masih cinta monyet.

Aku termasuk orang yang cukup “misterius” kata teman-teman yang pernah memberiku masukan. Kata mereka, kalau belum kenal aku kelihatan pendiam (bukan jaim ya), tapi kalau sudah kenal ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Waktu itu aku cukup aktif di mudika wilayah maupun paroki sehingga mempunyai banyak teman. Cinta pertamaku sempat hilang dari hatiku karena ada cinta-cinta lain yang lebih menggoda hatiku. Meskipun begitu, keterpesonaanku terhadap figur seorang suster tidak bisa hilang dari hatiku. Setiap kali ada kegiatan aksi panggilan baik di wilayah (dengan kunjungan suster untuk sharing di lingkungan), maupun kegiatan di paroki hatiku selalu bergejolak. Perjumpaan dengan para suster dan mendengarkan cerita-cerita mereka membuat jantungku kembali berdegup seperti saat cinta pertamaku muncul. Akhirnya getaran cinta ini sudah tidak bisa kutahan lagi, tapi waktu itu aku bingung tidak tahu bagaimanan caranya masuk menjadi seorang suster.

Aku bercerita pada romo pembimbing mudika tentang keterpesonaanku terhadap figur suster ini. Lalu romo itu mengenalkanku pada suster CB yang ada di Solo Baru. Setelah perkenalan itu aku jadi sering bermain/ berkunjung ke susteran. Jarak rumahku ke susteran Solo Baru cukup jauh sehingga aku selalu diantar oleh teman dengan membonceng sepeda motor. Teman yang mengantar aku ke susteran selalu teman cowok. Agak aneh memang, mau masuk menjadi suster tapi selalu diantar oleh teman cowok ketika datang ke susteran. Saat itu sebenarnya terjadi pergulatan dalam diriku karena ada cinta lain yang cukup menggodaku. Di saat seperti ini, aku selalu bertanya pada Tuhan, jalan hidup manakah yang Dia kehendaki untuk diriku. Tempat ku berdialog dengan Tuhan adalah di gua Maria Mojosongo Solo. Setiap hari Kamis malam, biasanya jam 10 an aku ke gua Maria untuk berdoa. Anehnya, ketika ke gua Maria aku ditemani oleh teman yang membuat hatiku bimbang dengan pilihan hidupku. Saat untuk memilih yang tidak mudah. Bahkan ketika aku ke Postulat CB di Jogja untuk mengenal kehidupan calon suster CB, temanku ini juga yang mengantarku. Indah sekali, tapi juga membuat bimbang.

Setelah mengalami pergulatan batin dan berdialog dengan Tuhan, aku memutuskan untuk masuk biara. Ketika keputusan kuambil, ternyata jalan yang harus kulalui tidak mulus. Ibuku tidak memberiku restu karena beberapa alasan. Meski terlahir sebagai anak bungsu, tapi aku bukan anak yang manja. Ketika hatiku sudah bulat dengan keputusanku, aku minta bantuan pada kakak-kakakku. Mereka mendukung kerinduan hatiku ini. Waktu itu aku sudah bekerja. Aku memberanikan diri keluar dari tempat kerja dan tinggal selama 2 bulan sebagai aspiran (calon postulan) di Postulat CB di Jogja. Ketika harus menyerahkan surat rekomendasi dari orang tua, aku minta kakakku yang membuatkan rekomendasi ini. Meski tidak direstui oleh ibu, aku tetap nekat mencoba masuk Postulat (tempat pembinaan calon-calon suster CB).

Hidup bersama dan mengenal cara hidup para suster CB di Postulat ini semakin menguatkan getar-getar cintaku. Teman-teman yang akan masuk menjadi Postulat CB waktu itu cukup banyak (sekitar 28 an), sehingga sempat deg-degan juga kalau tidak diterima. Akhirnya dari sekian banyak, kami ber-16 orang yang diterima menjadi postulan (sebutan untuk calon suster CB). Tgl. 26 Juni 1995 adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Peralihan dari keramaian dunia menuju pada keheningan untuk memupuk benih-benih cinta pertamaku pada Dia. Dua puluh tiga tahun yang lalu, Tuhan menarik diriku untuk semakin dekat dengan Dia. Cinta pertamaku terus tumbuh dan berkembang, bukan lagi sebagai cinta monyet. Ketika masuk sebagai postulan kami ber-16 (enambelas), setelah berproses 1 (satu) tahun di Postulat kami tinggal ber-9 (Sembilan). Setelah 2 (dua) tahun menjalani masa pembinaan di Novisiat kami tinggal ber-5 (lima) mengikarkan kaul kami, hingga kaul kekal. Sampai sekarang kami masih berlima. Lima gadis bodoh yang dicintai Tuhan dan diberi rahmat kesetiaan untuk terus mengikuti panggilanNya.

Selamat pesta wafat bunda Elisabeth Gruyters pendiri Kongregasi suster-suster cintakasih St. Carolus Borromeus (26 Juni 2018) saudariku seperjalanan: Sr. Valentina CB, Sr. Aufrida CB, Sr. Hermana CB dan Sr. Oktaviani CB. Semoga semangat bunda Elisabeth selalu menjiwai dalam setiap karya dan kehadiran kita di mana pun.

Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus iklhas. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s