indahnya berserah


2 Komentar

Untung cepat sadar…

Sudah lama tidak menulis di blog ini, jadi kangen menulis pengalaman-pengalamanku lagi. Cerita lama yang membuat tertawa sendiri mengingat pengalaman 4 tahun yang lalu ketika masih di negeri kincir angin di akhir bulan Januari 2013. Begini ceritanya:

Waktu itu kami pulang dari pertemuan di mana untuk kembali ke Maastricht harus ganti kereta sampai 5 kali. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, harus naik-turun kereta selama 4 kali dalam cuaca yang begitu dingin setelah turun salju, akhirnya sampailah di kereta terakhir yang membawa kami ke Maastricht. Aku pergi berdua dengan Sr. Ana. Ketika sampai di dalam kereta aku langsung duduk di tempat duduk yang kosong, tapi Sr. Ana belum dapat tempat duduk. Kebetulan waktu itu penumpangnya penuh sekali. Melihat ada tempat duduk yang bisa diduduki, spontan dia bilang ke salah satu penumpang,”Ini kan tempat duduk untuk bertiga, boleh saya duduk di sini.” Penumpang tersebut nampak bingung. Sr. Ana mengulangi lagi pertanyaannya, penumpang itu tambah bingung dan tidak memberikan tempat duduknya, lalu Sr. Ana masih mengulanginya ke penumpang yang lain. Akhirnya ada salah seorang ibu yang baik hati memberikan tempat duduknya lalu dia berdiri. Aku nggak enak melihat pemandangan ini, lalu kutawarkan tempat dudukku untuk ibu tersebut, tapi dia nggak mau. Penumpang yang pertama kali ditanya Sr. Ana, akhirnya meminta kepada ibu yang memberikan tempat duduknya untuk Sr. Ana supaya duduk disampingnya. Lalu perbincangan dalam bahasa Belanda diantara mereka pun dimulai. Ibu yang pertama kali ditanya Sr. Ana dengan wajah jengkel berkata,”Gimana sih, ini kan memang tempat duduk untuk 2 orang kok suster itu bilang untuk 3 orang? Atau karena ukurannya yang besar?” Ibu yang lain menjawab,”Ya, tentu saja ukurannya lebih besar dari yang lain, ini kan tempat untuk kelas 1.” Mendengar tentang ini aku baru sadar, bahwa kami duduk ditempat yang salah. Mungkin ibu-ibu itu tidak mengira kalau aku mengerti perbincangan mereka yang dalam bahasa Belanda. Sr. Ana masih merasa benar bahwa tempat duduk itu untuk bertiga, lalu aku datang ke tempatnya sambil berbisik,”Suster, saya malu, ibu-ibu itu membicarakan kita dan ternyata kita di tempat duduk yang salah, ini untuk kelas 1, sedangkan tiket kita kelas 2.” Ketika aku berbisik ke Sr. Ana, ternyata ada penumpang lain yang menempati tempat dudukku, aku senang karena ada kesempatan dan alasan meninggalkan gerbong ini. Lalu aku menuju ke gerbong berikutnya yang diperuntukkan untuk tiket kelas 2 dan ternyata masih ada satu tempat duduk yang kosong. Aku berharap bahwa tidak ada pengecekan tiket, karena betapa malunya kalau sampai ada pengecekan dan ternyata Sr. Ana salah tempat duduk di kelas 1. Sampai pada stasiun berikutnya, begitu ada penumpang di gerbong kelas 2 yang turun langsung kupanggil Sr. Ana untuk pindah tempat duduk. Tidak lama kemudian, di stasiun berikutnya datanglah petugas yang mengecek tiket. Waktu petugas datang, kebetulan ada 2 gadis yang salah masuk ke gerbong kelas 1, padahal tiketnya untuk kelas 2. Lalu kedua gadis itu duduk didepanku dan langsung ditegur oleh petugas tersebut,”Kamu pindah ke sini karena melihat saya mengecek ya? Tiketmu untuk kelas 2?” Melihat itu, dalam hati aku bersyukur bahwa kami sudah pindah ke tempat yang seharusnya. Betapa malunya kalau sampai ditegur oleh petugas dan dengan kejadian sebelumnya yang membuat beberapa penumpang yang bertiket kelas 1 agak jengkel. Untung…

Ketidaktahuan atau kesalahan bisa terjadi pada siapa saja yang kadang membuat orang lain lain jengkel. Oleh karena itu, kerendahan hati untuk menyadari kesalahan tersebut dan kemauan untuk berubah itu penting sehingga tidak merugikan orang lain dan mempermalukan diri sendiri. Meskipun memang ada saja orang yang sudah selalu merasa diri benar, sehingga tidak sadar kalau perbuatannya telah membuat resah atau mengorbankan sesamanya. Ini yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Semoga semakin banyak orang yang berani menyadari kesalahannya dan mau berubah menjadi lebih baik sehingga hidup bersama di negeri ini semakin indah.

Iklan


79 Komentar

CARA TRADITIONAL MENGHILANGKAN BEKAS CACAR DI WAJAH

Mentimun1Aku tergerak untuk menulis tentang cara traditional menghilangkan bekas cacar air di wajah, karena kulihat tulisanku yang berjudul: “Usia sudah hampir kepala 4 masih terkena cacar air” hampir setiap hari ada pengunjung blog yang membacanya. Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang saat ini sedang menderita cacar air.

Hampir setahun yang lalu aku menderita sakit cacar air. Tulisanku kali ini tentang pengalaman bagaimana cara perawatan terbaik sesudah terkena cacar air. Tentu banyak dari kita yang tidak menginginkan bekas hitam cacar air melekat di wajah. Sebenarnya hal ini tidaklah penting bagiku, aku tidak terlalu merisaukan bekas ini, tetapi kalau bisa diusahakan dengan cara sederhana, mengapa tidak kuusahakan? Selama diisolasi di kamar karena penyakit ini, aku mempunyai banyak kesempatan untuk mencari informasi tentang cacar air via internet. Salah satunya adalah cara menghilangkan bekas cacar air di wajah. Menarik sekali, karena ternyata caranya sederhana dan murah.

Selama hampir 1 bulan aku menderita cacar air, obat yang diberikan dari dokter hanyalah paracetamol. Berdasarkan informasi yang kuperoleh dari internet, aku berusaha melakukan yang terbaik dalam proses penyembuhan dari penyakit ini. Berusaha makan, minum dan istirahat cukup untuk menjaga kondisi fisikku. Menjaga kebersihan juga obat yang baik untuk penyakit ini. Meski ada pendapat yang mengatakan bahwa selama menderita cacar air dilarang mandi, tetapi menurut pengalamanku setiap hari mandi dengan hati-hati dengan menggunakan sabun antiseptik dan menggunakan bedak menthol untuk mengurangi rasa gatal sangatlah membantu untuk mempercepat proses penyembuhan. Usahakan agar benjolan tidak pecah selama mandi. Setiap hari mengganti baju, sprei dan sarung bantal. Segatal apa pun berusahalah untuk tidak menggaruk benjolan sehingga tidak menimbulkan luka. Biarkan benjolan itu mengering dan mengelupas dengan sendirinya. Memang, setelah itu tetap akan timbul bekas, tetapi bekas ini akan lebih mudah hilang jika dibandingkan dengan luka yang lebih dalam karena bekas garukan.

Dari informasi yang kuperoleh, ada beberapa cara sederhana untuk menghilangkan bekas cacar air ini. Salah satunya, yang bisa dengan mudah kuperoleh di Belanda sini dan harganya tidak mahal adalah mentimun. Mentimun mengandung vitamin C dan potasium yang baik untuk menangkal radikal bebas, tetapi juga memiliki kandungan air yang cukup tinggi dan menyegarkan. Joel Schlessinger, MD, ahli kulit dari Omaha, Nebraska, menyimpulkan bahwa mentimun juga memiliki kandungan silika yang dapat meningkatkan produksi kolagen dan mencegah munculnya keriput. Tidak heran, banyak produk yang menggunakan mentimun sebagai bagian penting dalam perawatan kulit baik untuk mengencangkan, melembabkan kulit, mengatasi jerawat, dan bahkan untuk menghilangkan bekas luka pada kulit. (dari: http://www.deherba.com/7-cara-alami-terbaik-untuk-menghilangkan-bekas-luka.html).

Setelah kira-kira 2 minggu benjolan-benjolan di wajah, kepala dan badanku mulai mengering. Waktu itu aku tidak diperbolehkan keluar kamar selama 1 bulan karena takut kalau penyakitku ini akan menular ke suster yang lain. Maka untuk mengisi waktu luangku, kucoba untuk menggunakan mentimun ini. Caranya adalah haluskan mentimun, bisa dengan blender atau diparut. Lalu peras dan gunakan airnya untuk masker, atau bisa juga timun yang sudah halus itu dioleskan pada muka beberapa saat sampai mengering, setelah itu basuh muka dengan air bersih. Kadang kalau baru malas memarut, aku hanya memotong tipis dan menempelkannya ke muka khususnya ke bekas cacar yang ada. Hal ini kulakukan 2 kali sehari: siang dan malam sebelum istirahat. Selama kira-kira 1 bulan aku melakukan pengobatan traditional ini.

Hasilnya tidak begitu mengecewakan. Bekas cacar air itu tidak nampak di wajah. Beberapa teman tidak percaya bahwa belum ada setahun yang lalu aku menderita cacar air, karena bekas cacar itu sudah tidak terlihat lagi di wajahku. Bagi teman-teman yang belum membaca sharingku sebelumnya tentang penyakit cacar ini, silahkan buka: USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR. Semoga tulisanku ini membantu teman-teman yang saat ini sedang menderita penyakit cacar air ini. Selamat mencoba, semoga Tuhan memberkati dan memberi kesembuhan!


Tinggalkan komentar

TITIK-TITIK TERANG DI TENGAH KEGELAPAN

Jesus-road_to_emmausTulisan ini merupakan refleksiku tahun yang lalu. Setiap kali membaca kembali refleksi ini, semangat dan harapanku dibangkitkan kembali. Paskah mengingatkanku akan pengalaman indah doa  ketika retret bimbingan pribadi di akhir tahun 2011. Ketika aku mengkontemplasikan tentang bahan dua murid Emaus (Lukas 24: 13-35), situasi Gereja di Nederland saat inilah yang muncul dalam doaku.  Aku  mengalami Yesus saat ini juga baru disalibkan oleh para imam-imam kepala dengan kasus-kasus misbruikt (pelecehan seksual/ kekerasan) yang dilakukan oleh para imam/ religius di masa lampau dan mulai diangkat kasusnya sekarang ini, sehingga membuat umat mulai kurang percaya kepada Gereja. Kebijakan-kebijakan baru dalam pemerintah yang meniadakan pelajaran agama di sekolah, mengakibatkan anak-anak tidak mengenal iman dan Gereja. Banyak gedung-gedung Gereja mulai ditutup karena semakin berkurangnya umat yang datang ke Gereja dan tingginya beaya perawatan gedung Gereja. Kebebasan yang diberikan oleh Gereja beberapa dekade yang lalu telah membawa perubahan besar dalam Gereja, baik bagi umat maupun dalam kehidupan para religius. Saat ini sepertinya Tuhan wafat, Gereja di sini seakan ‘mati’. Sedih rasanya mengalami situasi Gereja yang gelap yang seperti ini.

Lalu dalam renunganku Tuhan membawaku pada situasi awal berdirinya kongregasi kami di th 1837. Situasi Gereja pada waktu itupun tak jauh beda dengan situasi Gereja sekarang ini. Ketika itu Gereja juga seakan ‘mati’. Gereja-gereja dilarang mengadakan ibadat dan biara-biara ditutup. Hidup membiara menjadi sesuatu yang langka di kota Maastricht, maka kerinduan Bunda Elisabeth waktu itu “ jika sekiranya berkenan kepada Tuhan, aku mohon agar di sini di kota Maastricht ini, didirikan sebuah biara, di mana Tuhan akan diabdi dengan setia…” (EG.5). Perkembangan selanjutnya, ada masa-masa di mana Gereja sungguh bangkit dan berkembang pesat. Ada masa di mana begitu banyak umat mulai ke Gereja lagi dan biara-biara baru mulai didirikan. Ada saat di mana anggota Kongregasi CB lebih dari 1000 suster (hanya dari Nederland saja). Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan Gereja pada masa itu. Kehidupan Gereja pun berputar seperti roda, ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah, tetapi yang terpenting adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan Gereja dan membiarkannya ‘mati’. Pada saatnya, Ia selalu membawa kebangkitan dan kehidupan baru.

Dalam situasi yang gelap ini, Tuhan mengajakku untuk melihat pengalamanku selama 4,5 th dalam memulai komunitas baru di sini. Aku melihat kebangkitan-kebangkitan baru dalam Gereja, meskipun itu masih dalam kelompok-kelompok kecil. Kegiatan-kegiatan untuk anak-anak dan kaum muda yang mulai hidup dan tumbuh. Contohnya adalah pewartaan tentang kabar gembira Tuhan yang dimasukkan melalui kegiatan camping musim panas cukup efektif untuk mengenalkan kembali kehidupan Gereja kepada anak-anak dan kaum muda. Tuhan mengajakku untuk melihat bagaimana komunitas kami juga ikut terlibat dalam mewartakan kebangkitanNya dalam situasi Gereja di Nederland saat ini. Kelompok koor bersama para mahasiswa yang kami bentuk untuk memeriahkan misa Bahasa Inggris, membuat suasana baru dalam Ekaristi. Kehadiran kami dalam setiap kegiatan dengan anak-anak dan kaum muda di Keuskupan, dalam setiap peristiwa dan perjumpaan dengan sesama di sini juga membawa kehidupan baru dan suka cita. Hatiku berkobar-kobar ketika diajak melihat kembali pengalaman-pengalamanku di sini yang penuh pergulatan, tetapi disitu aku menemukan Tuhan yang berkarya setiap saat. Aku sadar bahwa Tuhan sendiri telah menyertai dan menunjukkan kepadaku bahwa Dia hidup, Gereja di sini tidak akan mati.

Tuhan menunjukkan padaku kabar kebangkitan yang diwartakan melalui kelompok-kelompok kecil di sini, seperti yang terjadi pada saat pertama kali pewartaan ketika Yesus bangkit. Kabar kebangkitan Yesus tidak dialami secara serentak oleh banyak orang, tetapi pada awalnya melalui beberapa orang murid saja. Tapi dari sejarah Gereja yang ada, pewartaan kebangkitan Tuhan dari beberapa murid ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia. KebangkitanNya membawa sukacita dan kehidupan baru bagi dunia. Saat ini situasi Gereja di Nederland memang sedang gelap, seperti situasi beberapa hari setelah Yesus disalibkan. Dari pengalaman doa ini, Tuhan memberi harapan kepadaku bahwa warta kebangkitanNya akan dirasakan banyak orang meski itu masih butuh proses yang sangat panjang untuk situasi Gereja di Nederland/ Eropa saat ini. Tuhan mengutusku untuk menjadi seperti sekelompok orang/ para murid pertama yang mengalami kebangkitan Tuhan dan mewartakanNya sesuai dengan perutusanku saat ini. Dia sendiri yang datang membawa titik-titik terang, harapan-harapan dan kehidupan baru di tengah kegelapan yang ada. Kebangkitan-kebangkitan yang telah dialami dan dimulai dalam kelompok-kelompok kecil, pada saatnya nanti akan berpengaruh dan mengubah kehidupan Gereja di sini. Aku percaya bahwa Dia tidak akan membiarkan GerejaNya di sini mati.


5 Komentar

KESETIAAN SEORANG IBU & ISTRI

           CIMG6600Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya tgl 10 Januari 1983, bapak dipanggil Tuhan dengan mendadak karena kecelakaan. Saat itu usiaku baru 10 tahun, ke dua kakakku masih sekolah di STM dan SMEA. Kakakku yang sulung sudah bekerja di pelayaran. Ibuku waktu itu masih berusia 40 th. Kepergian bapak membuka babak baru dalam kehidupan keluarga kami.

          Mengenang kembali wafatnya bapak, berarti mengingatkan juga akan kesetiaan seorang ibu dan istri, yang kumaksud adalah ibuku. Ketika Bapak meninggal, ibu masih tergolong muda dan harus menanggung biaya 3 anak yang masih sekolah dengan penghasilan yang tidak tetap. Beruntung bahwa kakak sulungku sudah bekerja, jadi bisa sedikit meringankan beban ibu, yang setiap hari berjualan nasi pecel untuk mempertahankan hidup kami. Sejak bapak meninggal, ibu tidak mau menikah lagi. Padahal kalau mau, bisa saja beliau menikah lagi. Kata orang, waktu masih mudanya, ibu adalah “bunga desa”. Tapi ibu tidak mau menikah lagi dengan alasan karena punya dua anak perempuan. Ibu tidak ingin ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi pada kedua anak perempuannya kalau beliau menikah lagi. Belum tentu bapak yang baru akan tulus mencintai kedua putrinya.

          Ibuku adalah orang yang sederhana, tidak bisa baca-tulis tapi sungguh pandai dalam mengelola rumah tangga dan mendampingi putra-putrinya. Beliau adalah seorang wanita yang kuat dan tangguh. Kepergian seorang bapak tentu berpengaruh terhadap perkembangan psikologi kami. Kakak yang masih belajar di STM waktu itu seperti kehilangan pegangan hidup. Dia sering bolos sekolah dan tidak semangat belajar di sekolah, tentu beban ini tidaklah mudah untuk ibuku. Beliau berusaha agar kami tetap bisa belajar dan mengenyam pendidikan di sekolah dengan baik. Beliau tidak bisa membekali kami dengan harta benda, tetapi ingin membekali kami dengan ilmu yang bisa untuk menjadi bekal masa depan kami.

         Kesetiaan sebagai seorang ibu dan istri sungguh diperjuangkan dan diwujudkan dalam mendampingi kami. Dalam lingkungan hidup yang keras, beliau berusaha menjaga kami dan menanamkan nilai-nilai hidup yang baik. Dalam keluarga kami, masing-masing mendapat tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya. Masing-masing mempunyai peran untuk bersama-sama menanggung kesulitan yang ada. Sejak kami masih kecil, kami selalu diajarkan untuk “hidup prihatin”. “Hidup prihatin” dalam arti berpuasa, belajar mengendalikan diri dengan laku tapa ini. Sebelum menganut agama Katolik, ibuku adalah penganut kebatinan/ kejawen. Beliau sangat kuat dalam hal laku tapa dan doa, dan ini yang diajarkan pada kami. Aku masih ingat, setiap jam 12 malam ibu selalu doa di halaman rumah menghadap arah terbitnya matahari dan aku yang masih kecil sering duduk menunggu di belakangnya.

           Pengalaman rohani yang diajarkan ibu ini membuatku semakin mengalami pengalaman bahwa Allah sendirilah yang menjadi Bapa kami. Setiap saat akan membayar uang sekolah dan uang untuk membayar belum ada, ibu selalu mengajak untuk sembahyang dan selalu saja ada rejeki yang datang tepat pada waktunya. Ketika kami sedang test atau ujian, ibu selalu ekstra doa atau berpuasa untuk keberhasilan kami. Bersama Tuhan, ibu turut membentuk kami menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan. Sungguh bekal hidup yang sangat bernilai yang telah ibu berikan pada kami.

             Tidak terasa sudah tiga puluh tahun, bapak meninggalkan kami. Mengenang kepergian bapak, berarti mengenang kesetiaan ibuku sebagai seorang ibu dan istri. Aku hanya bisa bersyukur mengingat semua ini. Bekal nilai-nilai hidup dan ilmu yang diberikan orang tua pada anak-anaknya, sungguh lebih berharga daripada bekal harta benda yang akan cepat habis. Kesetiaan ibu menjadi teladan bagiku untuk setia dalam panggilan hidupku saat ini. Terima kasih Tuhan atas anugerah kehidupan dan dasar-dasar baik yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuaku yang menjadi bekal hidupku saat ini. Amin.

Maastricht, 7 Januari 2013


5 Komentar

USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR?

Tulisanku ini tentang pengalaman sakit cacar air yang kualami kira-kira empat bulan yang lalu. Penyakit cacar air yang dialami dalam usia dewasa adalah sesuatu yang tidak begitu umum, maka aku ingin membagikan pengalamanku ini. Semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami nasib yang sama denganku.
Awal bulan Mei 2012, selama dua minggu aku direpotkan dengan telingaku yang terus berdengung. Dokter sudah menyarankan untuk disemprot/ dibersihkan kemungkinan karena ada kotoran di dalam telinga. Setelah dibersihkan ternyata tetap saja, lalu dokter memberi obat semprot hidung. Kata dokter salurang udara antara telinga dan hidungku tidak lurus, maka tekanan udara yang tidak imbang ini menyebabkan dengung di telinga kiriku. Tujuan diberi semprot melalui hidung untuk menyeimbangkan tekanan udara dari telinga dan hidung. Mungkin yang dimaksud dokter ini adalah: Tuba eustakius . Tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan. (sumber: medicastore.com).

Hari pertama, benjolan mulai muncul.
Tiga hari kemudian setelah diberi obat semprot, telinga kiri bagian belakang mulai terasa sakit. Aku raba ada benjolan di situ. “Mungkin ini reaksi dari obat semprot hidung yang kupakai,” pikirku. Malam ini kurasakan badanku agak sedikit meriang, nafsu makan sudah mulai berkurang. Hari berikutnya aku mempunyai banyak aktifitas, meski hari Minggu. Pagi tugas koor bersama para suster. Siang hari jam 13.00 berangkat ke keuskupan Roermond untuk pertemuan persiapan pendamping camping musim panas. Sejak pagi aku merasakan badanku tidak enak, agak meriang, terasa capai, dan tidak ada nafsu makan. Kira-kira jam 19.00 aku baru pulang dari pertemuan. Waktu makan malam, aku sama sekali tidak bernafsu makan. Badanku semakin terasa tidak enak. Telinga kiriku terasa semakin sakit. Selain itu, aku temukan benjolan merah di dada dan mukaku. Aku semakin curiga dengan efek samping dari obat semprot hidung yang sedang kupakai. Lalu kubaca petunjuk obat, dan kutemukan bagian yang mengatakan bahwa efek samping dari pemakaian obat ini adalah iritasi pada kulit.
Malam sebelum tidur, kutemukan beberapa benjolan di dada, perut dan mukaku, jumlahnya waktu itu belum ada 10. Ada 1 benjolan di perut yang kelihatan berisi air. Aku mulai curiga kalau itu cacar air. Kebetulan aku memang belum pernah terkena cacar air waktu masih kecil. Lalu aku mencari informasi di internet tentang penyakit cacar air ini. Dari info yang kudapat, dugaanku semakin kuat kalau sakitku ini cacar air. Lalu aku menulis via facebook ke teman (seorang dokter) untuk lebih memastikan dugaanku ini, tapi sayang aku baru mendapat tanggapan setelah lewat 3 hari. Malam itu aku masih bisa beristirahat, meski badan agak meriang.

Hari kedua.
Bangun tidur kutemukan benjolan di perut, dada dan mukaku semakin bertambah. Aku semakin takut. Pagi itu aku pergi ke ziekengang (semacam klinik di dalam biara kami). Ketika perawat yang bertugas melihat benjolanku, mereka sudah menduga kalau ini cacar air, bukan alergi obat yang kupakai. Lalu aku dibuatkan janji dengan huisart (dokter rumah) kami. Siang hari, aku sudah tidak mempunyai nafsu makan lagi, badanku agak meriang. Sore hari aku ke tempat praktek huisart. Dokter memeriksa telinga kiri yang selama ini kukeluhkan dan dia lihat cukup baik (meski dengung masih kurasakan). Lalu kuceritakan tentang benjolan di belakang telinga kiriku yang membuat sakit, juga beberapa benjolan di badan dan mukaku. Kemudian dokter memeriksa benjolan yang di badanku. Setelah melihatnya, dokter mengatakan bahwa sepertinya aku terkena penyakit cacar air dan menanyakan apakah aku sudah pernah mendapat cacar air. Aku menjawab bahwa aku belum pernah mengalaminya dan benarlah dugaanku tadi malam. Waktu mengetahui penyakitku ini, kulihat dokter cukup serius mencari info di komputernya. Kemungkinan gejala dengung di telinga kiriku ini juga karena penyakit cacar air ini. Dokter mengingatkanku dengan serius bahwa kemungkinan mulai nanti malam atau besok pagi aku akan benar-benar jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa dia tidak menakut-nakuti aku, tetapi ini kemungkinan yang akan terjadi pada diriku: demam tinggi, kepala sakit, telinga sakit, mual, lemas, capai & tidak bernafsu makan. Aku diminta untuk minum paracetamol 4x sehari @ 2 tablet, banyak minum air, makan dan istirahat. Kalau gejala yang disebutkan dokter itu mulai terasa, aku diminta untuk langsung menelpon dokter. Terakhir dokter masih mengingatkanku bahwa aku akan benar-benar jatuh sakit dengan penyakitku ini, karena cacar air yang dialami oleh orang dewasa biasanya rasa sakitnya lebih parah dibandingkan yang dialami oleh anak-anak. Informasi seperti inipun yang kudapat melalui internet. Aku pun jadi agak takut, tapi di sisi lain menjadi siap untuk “sakit”. Kalau gejala yang dikatakan dokter itu tidak muncul, maka dokter akan memeriksaku lagi hari Rabu, pas dia praktek di biara kami. Sepulang dari periksa dokter, aku langsung istirahat. Semua acara mulai sore itu berubah. Aku mulai membalas email-email untuk membatalkan janji/ acara minggu ini. Malam itu aku masih bisa beristirahat dengan baik, tidak terjadi demam tinggi dan sakit kepala.

Hari ketiga.
Hari berikutnya, ketika bangun tidur benjolan air di badan dan mukaku cepat sekali bertambah. Pagi itu aku takut untuk mandi, karena banyak benjolan air yang kelihatan segar di badan dan mukaku. Aku sudah mulai mengisolasi diri dan tidak keluar kamar. Badanku sedikit meriang (tidak demam tinggi) dan terasa lemas. Hari ini aku banyak istirahat, meski agak sulit karena rasa gatal di tubuh dan mukaku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggaruk rasa gatal ini. Malam ini aku sulit tidur karena badan terasa lemas, badanku meriang, kepala agak sakit, perutku juga sakit, selain itu juga rasa gatal-gatal dari badan sampai kepalaku.

Hari keempat.
Aku tidak sanggup lagi untuk berjalan ke ziekengang, meski hanya di dalam biara kami. Lalu perawat mengatakan bahwa dia akan meminta dokter datang ke kamarku. Pagi ini badanku masih terasa lemas. Siang hari ketika dokter datang memeriksaku, kondisiku sudah semakin membaik. Badanku tidak panas tinggi, meski badan masih agak lemas. Dokter kaget melihat kondisiku yang masih lumayan baik ini dan jauh dari perkiraannya. Benjolan yang muncul di wajahku pun tidak terlalu banyak. Dia masih mengatakan bahwa gejala demam, sakit kepala, dan sebagainya kemungkinan masih akan muncul sampai hari ke-10. Aku diminta untuk siap kalau hal ini benar-benar terjadi, dan diminta langsung menelponnya. Aku semakin siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Malam ini aku masih sulit untuk istirahat karena rasa gatal di seluruh tubuh dan mukaku.

Hari kelima dan seterusnya.
Hari kelima dan keenam adalah puncak munculnya benjolan di kepala, muka, badan, tangan dan kakiku. Badanku semakin terasa lemas dan gatal-gatal. Dokter hanya memberiku obat paracetamol yang diminum 4x @ 2 tablet. Aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit cacar air untuk orang dewasa di internet. Untuk mengurangi rasa gatal, aku memakai bedak menthol. Setiap hari aku mandi dengan sabun antiseptik Dethol. Meskipun beberapa suster mengingatkan aku untuk tidak mandi dulu karena benjolan-benjolan di tubuhku, tapi menurut beberapa informasi yang kuperoleh di internet, kebersihan badan dan lingkungan sangat membantu untuk proses penyembuhan penyakit cacar ini. Maka aku tiap hari mandi dengan hati-hati supaya benjolan tidak pecah dan hasilnya lumayan baik. Seprei dan sarung bantal setiap hari juga diganti. Benjolan tidak menyebar banyak setelah hari keenam.

Hari-hari berikutnya sampai kira-kira 1 bulan aku diisolasi dalam kamarku. Penyakit cacar ini adalah penyakit yang cepat menular, dokter takut kalau para suster yang lain akan ketularan, apalagi aku tinggal dalam 1 komplek biara yang besar. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari panjangku sendirian di dalam kamar, segala sesuatu dilayani oleh para suster. Para suster pun takut untuk menengokku. Setiap hari kunikmati tubuhku yang gatal dan penuh benjolan. Aku bersyukur bahwa aku seorang “suster” sehingga kecantikan tidaklah penting lagi. Wajahku saat itu dihiasi dengan benjolan-benjolan yang setelah mengempis membekas menjadi hitam. Sambil bergurau kepada para suster dan teman-temanku, aku mengatakan bahwa Tuhan menambah lukisan dan hiasan di wajah dan tubuhku. Ini kenang-kenangan yang indah dari Dia.

Retret panjang.
Penderitaan akan menjadi ‘rahmat’ dalam hidup kita, ketika kita bisa memaknai dan merefleksikannya. Di usia yang sudah hampir berkepala empat dan jauh dari tanah air, kok ya masih mendapat penyakit cacar air. Waktu mengalami ini rasanya campur aduk antara ingin menertawakan diri sendiri (reaksi para suster memang setiap kali tertawa ketika mendengar aku mendapat cacar air) dan bertanya apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dengan penyakitku ini.

Selama lebih dari satu bulan menyendiri di kamar, ternyata menjadi retret panjangku. Minggu pertama adalah minggu penderitaan yang membuat aku hanya bisa menyerah pada tubuhku yang lemah dan menikmati rasa sakit yang ada. Minggu-minggu selanjutnya dalam proses penyembuhan, aku lebih bisa menikmati hari-hariku dengan berdoa dan membaca buku-buku dalam suasana hening di kamarku atau sambil menikmati musik. Dalam situasi sakit aku mengalami cinta yang berlimpah dari Tuhan. Setiap hari saudari sekomunitasku menyiapkan makan pagi-siang-malam untukku. Seorang suster yang sudah tua, dengan penuh cinta mencucikan dan menyeretika baju-baju, seprei dan sarung bantal yang kupakai. Meskipun para suster takut menengokku, tapi perhatian dan cinta mereka sungguh kurasakan dengan bunga-bunga dan kartu-kartu yang dikirim ke kamarku. Cinta yang berlimpah juga kurasakan dari teman-temanku anggota koor paroki dan teman-teman dari keuskupan yang mengirim kartu-kartu ucapan supaya cepat sembuh. Aku mengalami begitu banyak orang yang mencintai diriku melalui cara mereka masing-masing dengan perhatian, pelayanan, kartu, bunga dan doa-doa.

Pengalaman ketidakberdayaanku dengan tubuhku yang lemah ini membawaku pada pengalaman cinta Tuhan yang begitu besar dalam diriku. Aku semakin mengalami ketergantunganku padaNya. Di saat aku lemah, justru pada waktu itulah aku mengalami kasihNya yang berlimpah dalam hidupku.

Maastricht, 13 Oktober 2012


Tinggalkan komentar

SUNGGUHKAH DIA ADA

Sejak kecil saya sangat tertarik tentang Tuhan. Dimana DIA berada? Seperti apa? Dan sebagainya … Seiring waktu saya terus mendapatkan jawaban. Jawabannya bervariasi dan banyak versi. Namun seiring waktu pula jawaban-jawaban tersebut bukan hanya bervariasi tapi juga berubah. Tulisan kakakku yang ditulis di face booknya ini sungguh menarik untukku. Pencarian akan Dia, tidak akan pernah berakhir dalam hidup, dan penemuan akan keberadaanNya dalam hidupku pun selalu berubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan dan kematangan diriku. Ada saat aku bertanya, “Sungguhkah Dia ada?” Ada saat pula, Dia sungguh menunjukkan keberadaanNya yang sangat dekat dengan diriku, bahkan jiwaku sungguh merasa aman, damai dan tenteram dalam pelukanNya.

Seminggu yang lalu, Mgr. E. de Jong (uskup pembantu di Keuskupan Roermond) mengantarkan kami keliling menara Basilik Sint. Servaas yang letaknya disamping biara induk kami. Sampailah kami ke Grameer (lonceng besar di dalam Gereja yang hanya dibunyikan kalau ada pesta besar). Aku kira kami sudah berada di puncak menara Basilik, tapi ternyata puncak menara masih beberapa meter lagi dan harus mendaki dengan tangga besi yang menempel di dinding. Mgr. de Jong mengajak kami mendaki puncak menara karena pemandangan dari atas puncak menara bagus sekali. Dalam hatiku takut juga mendaki seperti itu. Setelah Mgr. de Jong memanjat ke atas dan disusul dua suster, aku pun kemudian menyusul mendaki lewat tangga besi yg hanya cukup untuk ke dua kaki itu. Baru beberapa langkah, kaki dan tanganku sudah terasa gemetar. Dalam hati aku berkata, aku harus bisa sampai atas. Aku pun terus merayap ke atas, sambil terus berdoa Salam Maria… Akhirnya sampai juga di puncak menara Basilik Sint Servaas ini. Sungguh indah sekali pemandangan dari atas. Waktu itu hanya lima suster yang berani mendaki sampai puncak bersama Mgr. de Jong.

Aku teringat pengalamanku beberapa bulan yang lalu ketika mengikuti acara Ladies weekend (pembekalan untuk para pendamping camping musim panas dari keuskupan Roermond). Waktu itu acara diakhiri dengan permainan panjat dinding. Panitia sudah memberitahuku untuk membawa pakaian olah raga untuk acara ini. Awalnya aku takut untuk memanjat dinding yang tegak lurus itu. Aku pernah melakukan hal yang sama ketika acara out bond bersama para suster muda di Jogjakarta, dan waktu itu kakiku kram sehingga tidak berhasil memanjat dinding yang sebenarnya lebih rendah dari yang kuhadapi waktu Ladies weekend. Teman-teman pendamping camping ini, dengan penuh semangat menyemangatiku, “ Ayo suster, suster pasti bisa, kami tahu suster bisa…” Akhirnya aku pun berani mencobanya. Sekali, dua kali, hanya sampai di tengah aku sudah menyerah. Sampai yang ketiga kali aku mencoba, akhirnya sampai juga di puncak dinding tersebut. Teman-teman pun bersorak gembira… Keempat kali, aku pun berani mencoba dinding yang medannya lebih susah dan lebih tinggi dan ternyata bisa.

Meskipun awalnya ada rasa takut, aku berani memanjat dinding dalam acara Ladies weekend, karena aku merasa yakin bahwa aku aman dan tidak akan jatuh. Ada teman yang siap mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat ke atas, seandainya aku sudah tidak sanggup lagi memanjat. Walaupun begitu, aku butuh beberapa kali mencoba untuk berhasil mendaki sampai puncak. Saat di tengah pendakian itu, ada saat aku benar-benar takut kalau jatuh, karena tangan dan kakiku hanya bertumpu pada batu-batu kecil yang menempel di dinding. Tetapi kepercayaan bahwa kalaupun jatuh aku akan selamat karena ada teman yang mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat, membuat hatiku berani untuk terus mendaki sampai puncak. Pengalaman ini merupakan gambaran dalam hidupku.

Kadang aku berada dalam situasi-situasi yang sulit dan takut untuk menghadapinya. Ada saat aku merasa sendiri dengan beban hidup yang berat. Ada saat aku bertanya, “Tuhan dimanakah Engkau, sehingga aku mengalami situasi seperti ini?” Namun iman sekecil apa pun yang Tuhan berikan dalam diriku, inilah yang menjadi kekuatanku. Kepercayaan bahwa Dia ada dan akan selalu menolongku, tumbuh semakin kuat dari berbagai pengalamanku, sehingga aku menemukan bahwa Dia benar-benar ada. Tahun pertama sebagai misionaris di sini, aku sungguh merasakan kekeringan dalam hidup rohaniku. Melihat dan mengalami situasi Gereja di sini, sungguh menyakitkan dan memprihatinkan. Ada rasa pesimis pada waktu itu, akankah Gereja mati? Di manakah Engkau Tuhan, sehingga membiarkan GerejaMu seperti ini? Tetapi iman sekecil apa pun yang masih Tuhan berikan dalam diriku, ternyata bertumbuh dan semakin meyakinkan diriku bahwa Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) dalam situasi Gereja di Eropa saat ini. Merefleksikan kembali sejarah perkembangan Gereja, membuatku optimis bahwa ada saat Gereja seakan “mati” tetapi ada saat pula Gereja hidup dan berkembang. Tuhan membuka jalan dan menunjukkan padaku, bahwa Dia tetap ada dan berkarya sampai saat ini. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa Belandaku, Tuhan memberiku kesempatan untuk terlibat dengan berbagai kegiatan dengan kaum muda di sini. Melalui pengalaman ini, aku merasakan bahwa Gereja masih akan tetap hidup.

Pengalaman mendaki menara Basilik, bermakna berbeda dengan pengalamanku mendaki dinding dalam Ladies weekend. Ketika mendaki menara Basilik, waktu itu tidak ada tali pengaman, sehingga aku harus hati-hati betul dan terus berdoa Salam Maria untuk menumbuhkan keberanian dalam diriku. Ada saat aku mengalami situasi yang penuh dengan ketidakpastian, ketidak jelasan dan hanya dibutuhkan keberanian dan kekuatan doa untuk bisa terus maju. Pengalamanku memulai komunitas baru di sini tidaklah mudah. Sampai saat ini masih penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian akan masa depan komunitas ini. Penuh tantangan baik dari luar maupun dari dalam diriku untuk terus setia menjalankan perutusanNya ini. Ada saat aku merasa ”gemetar” menghadapi situasi yang ada, dan hanya kekuatan doalah yang terus menyemangatiku untuk terus maju mengikutiNya.

Sungguhkah Tuhan ada? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam pengalaman masing-masing pribadi. Satu pengalaman yang sama akan berbicara berbeda, karena perbedaan cara memaknai pengalaman tersebut. Pengalaman sesederhana apa pun (seperti pengalamanku di atas), kalau direfleksikan akan membawa kita pada pengalaman kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kesetiaan dalam doa dan merefleksikan setiap pengalaman yang ada, menjadikan hidup kita lebih bermakna dan menemukan keberadaan Tuhan dalam hidup kita saat ini.

(Maastricht, 30 September 2012)


Tinggalkan komentar

PENGOSONGAN DIRI

Pada hari keempat retret pribadiku, Tuhan membawaku untuk semakin memahami apa arti memikul salib dalam perutusanku saat ini. “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 13: 24). Syarat untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah adalah memikul salib dan mengikuti Tuhan. Aku pun bertanya pada Tuhan,”Salib seperti apakah Tuhan, yang telah kupanggul selama ini untuk terlibat dalam karya keselamatanMu?” Akhir-akhir ini masalah yang cukup kurasakan berat adalah hidup bersama. Dalam komunitas yang masih sangat muda, dengan segala sesuatunya yang masih dalam proses pencarian, masing-masing membawa ide dan motivasi, tentu banyak benturan-benturan di situ. Hidup bersama rasanya cukup membuatku menderita, apalagi sebagian besar waktuku kuhabiskan bersama komunitas. “Hidup bersama… inikah salib yang Engkau maksud Tuhan?” tanyaku. Ketika kurenungkan lebih dalam lagi, aku menemukan bahwa salibku yang sebenarnya bukan masalah yang kuhadapi dalam hidup bersama. Bukan, itu bukan salib yang dimaksud Tuhan.

Dalam keheningan, Tuhan menunjukkan padaku apa yang dimaksud dengan ‘memanggul salib dan mengikuti Dia’ dalam perutusanku saat ini. Tuhan bertanya kepadaku: “Mengapa di saat kamu merasa menderita di dalam komunitasmu, kamu ingin pulang ke Indonesia?” Jawabku,”Konflik-konflik ini tidak akan kualami di Indonesia. Di Indonesia aku akan punya tanggung jawab yang pasti dalam karya. Tenaga, pikiran dan waktuku lebih berguna daripada hanya untuk konflik-konflik yang dikarenakan hal-hal yang sepele tapi menjadi sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan. Ada kepastian dalam karya dan ada teman untuk berbagi ketika sedang dalam kesesakan. Sedangkan di sini, aku setiap hari bertemu dengan orang-orang dan masalah-masalah yang sama di dalam komunitas.” Menanggapi jawabanku ini, Tuhan menunjukkan padaku apa arti perkataanNya ‘memanggul salib dan mengikuti Dia.’ KataNya,”Dalam perutusanmu saat ini, keberanian untuk melepaskan segala sesuatu, baik keaman-mapanan dalam komunitas maupun dalam karya serta berani masuk dalam situasi ketidakpastian, inilah salib yang harus kamu panggul. Apa yang kamu lihat, rasakan dan alami selama 3 tahun menjalankan perutusanmu di komunitas ini?” Jawabku,”Aku melihat, merasakan dan mengalami keprihatinan Gereja di negeri Belanda ini. Gereja-gereja yang mulai kosong, bahkan beberapa gereja terpaksa ditutup karena kekurangan umat. Kaum muda yang katanya Katholik, tapi sangat miskin pengenalan akan Allah karena tidak ada yang mengajarkan hal ini pada mereka. Pelajaran agama sudah ditiadakan dari sebagian besar sekolah yang ada, padahal anak-anak membutuhkan orang-orang dewasa yang bisa membantu mereka untuk mengenal Allah dan kehidupan menggereja. Di rumah pun orang tua sudah jarang mengajarkan tentang hal berdoa pada anak-anak mereka, apalagi tentang Gereja. Kerinduan awalku ketika melihat Gereja yang hanya berisi orang-orang lanjut usia, adalah melihat kaum muda dan anak-anak datang dan berdoa di Gereja.”

Suasana hening, lalu Tuhan melanjutkan pembicaraan kami,”Apa yang sudah kamu alami di komunitasmu menanggapi situasi Gereja yang seperti ini?” Aku merenungkan sejenak pengalamanku selama ini. Inilah jawabanku,“Aku melihat dan mengalami bahwa kehadiran komunitas kami, meskipun sedikit tetapi juga membawa perubahan dan kehidupan baru bagi Gereja setempat. Keterlibatan kami dalam koor di Paroki kami membawa suasana baru bagi para anggota koor. Mereka senang ada suster dan orang muda yang mau bergabung dengan mereka, sekaligus mengubah pandangan mereka terhadap figur ‘suster’ selama ini. Kelompok paduan suara yang kami mulai bersama br. Alfred, FIC dan para mahasiswa dari berbagai negara untuk misa bahasa Inggris, memberi warna dan suasana baru dalam ekaristi. Umat gembira ketika diajak bersama-sama menyanyi dan pastor pun senang kalau ada koor yang mengiringi saat ekaristi. Paduan suara ini juga bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa yang ingin bernyanyi dan memuji Tuhan seperti yang telah mereka lakukan di negaranya masing-masing. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan di keuskupan Roermond membawa suasana baru. Melalui kehadiran kami, bisa mengenalkan tentang kehidupan religius, tidak saja hanya kepada anak-anak tetapi juga pada para sukarelawan yang bekerja sama. Keterlibatan dalam acara tahunan seperti ‘zomerkamp’ (camping yang diadakan pada musim panas) membantu menumbuhkan iman dan mengenalkan kehidupan menggereja pada anak-anak. Ini menjadi sarana yang baik dalam situasi Gereja saat ini. Ikut menyiapkan anak-anak sebelum menerima sakramen penguatan dengan memberikan salah satu pelajaran persiapan bagi mereka tentang hidup religius. Kehadiran rutin kami di ‘Zaterdagmiddag club’ di Sittard (seperti sekolah minggu, di mana ada sekitar 80-100 anak) yang datang setiap hari Sabtu, di Lifeteen (untuk anak-anak remaja di Maastricht) juga memberi warna yang baru bagi mereka. Kehadiranku seminggu sekali di Adelante school (sekolah untuk anak-anak cacat mental dan fisik) menjadi sarana mengenalkan figur ‘suster’ bagi anak-anak, guru dan karyawan di sana. Kunjungan-kunjungan keluarga dan menjadi teman bagi mereka yang mengalami kesepian, menjadi bentuk kerasulan yang baru. Kehadiran kami pun membawa suasana dan harapan baru bagi para suster sepuh di Onder de Bogen. Gereja mulai merasakan arti kehadiran komunitas ini. Keuskupan Roermond, paroki di sekitar Maastricht dan Sittard menerima komunitas ini dengan baik. Ada harapan baru bagi Gereja. Bahkan Mgr. Kurris dari Basilik Sterre der Zee pernah mengungkapkan keinginannya untuk memindahkan misa bahasa Inggris ke kapel Onder de Bogen, karena adanya komunitas kami yang bisa menarik orang-orang muda di sini.”

“Menurutmu bagaimana semua bisa terjadi demikian?” Tuhan mengajakku untuk merefleksikannya lebih dalam. Dalam refleksiku aku menemukan,”Semua ini bisa terjadi karena adanya pengorbanan dan pengosongan diri. Memang sampai sekarang belum ada kejelasan akan masa depan komunitas ini, yang kumaksud dengan karya yang pasti seperti di Indonesia: di sekolah, rumah sakit, dsb. Setiap saat dibutuhkan keterbukaan hati untuk terlibat dengan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan Tuhan. Ada saat-saat merasa kesepian dan sepertinya hidup tidak bermakna, tapi ada juga saat-saat merasa sangat bahagia bisa terlibat dalam keprihatinan Gereja saat ini.” Tuhan menggaris bawahi jawaban terakhirku,”Inilah salib yang harus kamu panggul: berani melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri untuk mengikutiKu dan terlibat dalam karya keselamatanKu dalam perutusanmu saat ini.” Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukkan kepadaku jalan untuk mengikutiMu. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang indah ini, membawa semangat baru untuk melanjutkan perutusanku.

Pengosongan diri adalah sesuatu yang tidak mudah, tapi sungguh membahagiakan jika itu bisa kulakukan. Aku berusaha mengosongkan diri dan dalam lembaran kosong ini biarlah Dia yang menulis dan melukis kisah perjalanan komunitas multicultural ini. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas. Amin.

Februari 2012 – Sr. Hedwig