indahnya berserah


2 Komentar

INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN

 kerukunan umat beragamaBerita seputar Natal di Indonesia yang kubaca di internet, menumbuhkan rasa prihatin dalam diriku. Beberapa artikel yang memprihatinkan adalah mengenai larangan yang dikeluarkan MUI bagi umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani. Rasa ingin tahu mendorongku untuk mencari tahu alasan larangan ini. Ada banyak alasan, ini salah satu kutipan alasan tersebut: Ketika mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Misalnya ucapan selamat kepada teman yang telah lulus dari kuliahnya saat di wisuda. Nah,begitu juga dengan seorang yang muslim mengucapkan selamat natal kepada seorang nashrani. Seakan-akan orang yang mengucapkannya, menyematkan kalimat setuju akan kekufuran mereka. Karena mereka menganggap bahwa hari natal adalah hari kelahiran tuhan mereka, yaitu Nabi ‘Isa ‘alaihish shalatu wa sallam. Ketika kita mengucapkan selamat natal, hal itu dapat menumbuhkan rasa cinta kita perlahan-lahan kepada mereka. Mungkin sebagian kita mengingkari, yang diucapkan hanya sekedar di lisan saja. Padahal seorang muslim diperintahkan untuk mengingkari sesembahan-sesembahan orang kafir (dari artikel ‘Alasan Terlarangnya Mengucapkan Selamat Natal bagi Muslim, Muslim.Or.Id). Kalimat-kalimat tersebut agak aneh bagiku yang menghayati hukum cinta kasih bagi sesama manusia, bahkan diajarkan untuk mencintai musuh-musuhku. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat. 5:44). Negara Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk yang menganut beberapa agama, bagaimanapun kelompok minoritas juga menjadi bagian dari negeri tercinta ini. Meski diskriminasi sudah biasa dirasakan oleh kelompok minoritas dengan pembakaran gedung Gereja, tidak diijinkan untuk merayakan ibadat di daerah tertentu, dan sebagainya. Tapi rasanya sedih juga setiap kali membaca berita-berita seperti ini.

            Di tengah rasa prihatin ini, ada berita yang menyejukkan yang kuterima dari Indonesia. Salah seorang sahabat menceritakan pengalaman Natal di salah satu Gereja Katolik di Yogyakarta. Saat perayaan Natal dimulai, tiba-tiba datang seorang ibu tampil di mimbar dan mengantar rombongan yang terdiri dari beberapa kyai, haji, pemuka agama dan wakil pejabat pemerintah daerah yang datang khusus untuk mengucapkan selamat Natal bagi umat yang sedang merayakan perayaan Natal saat itu. Mereka menjelaskan kedatangan mereka sebagai tanda bahwa di kota Yogyakarta setiap orang dari kebudayaan atau agama manapun welcome. Tidak ada diskriminasi dan menyatakan harapan mereka semoga kerukunan umat di Yogya menjadi terang bagi seluruh Indonesia! Lalu mereka meneruskan perjalanan ke Gereja yang lain. Di Jakarta, Gubernur hadir ke Katedral dan beberapa Gereja lainnya untuk mengucapkan Selamat Natal langsung kepada umat Kristiani yang saat itu sedang merayakan perayaan malam Natal. Sungguh sharing yang mengharukan, menghibur dan memberi pengharapan yang indah. Aku mengutip harapan dari sahabat yang mensharingkan pengalamannya tersebut: Semoga semangat kerukunan ini dapat semakin menyebar ke daerah-daerah lain, khususnya yang kini masih dilanda kekerasan melawan kelompok minoritas.

            Peristiwa ini mengingatkanku akan peristiwa indah ketika aku mengikrarkan prasetia kekalku 9 th yang lalu. Aku berasal dari keluarga yang mayoritas beragama Islam. Selama ini kami rukun dan saling menghargai. Ketika aku merayakan prasetya kekalku, beberapa saudara yang muslim juga hadir dalam perayaan tersebut. Bahagia rasanya saat itu bahwa saudari-saudaraku yang muslim juga menyaksikan peristiwa penting dalam hidupku ini. Selesai upacara di kapel, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Waktu itu kebetulan bersamaan dengan bulan puasa. Tidak kuduga, ternyata para suster panitia perayaan kaul kekal ini sudah memesankan makanan khusus yang bisa dibawa pulang untuk berbuka puasa. Hanya sebuah perhatian kecil, tetapi menjadi tanda bahwa kita saling menghargai satu dengan yang lain.

            Aku percaya bahwa setiap kepercayaan dan keyakinan mengajarkan hal-hal yang baik bagi umatnya. Alangkah indahnya jika perbedaan itu bisa menjadi hal untuk saling melengkapi dan memperkaya satu dengan yang lain, seperti bunga-bunga yang beraneka warna yang terangkai indah dalam suatu rangkaian.

Maastricht, 28 Desember 2012

Iklan


5 Komentar

USIA SUDAH HAMPIR KEPALA 4 MASIH TERKENA CACAR AIR?

Tulisanku ini tentang pengalaman sakit cacar air yang kualami kira-kira empat bulan yang lalu. Penyakit cacar air yang dialami dalam usia dewasa adalah sesuatu yang tidak begitu umum, maka aku ingin membagikan pengalamanku ini. Semoga bisa membantu teman-teman yang mungkin mengalami nasib yang sama denganku.
Awal bulan Mei 2012, selama dua minggu aku direpotkan dengan telingaku yang terus berdengung. Dokter sudah menyarankan untuk disemprot/ dibersihkan kemungkinan karena ada kotoran di dalam telinga. Setelah dibersihkan ternyata tetap saja, lalu dokter memberi obat semprot hidung. Kata dokter salurang udara antara telinga dan hidungku tidak lurus, maka tekanan udara yang tidak imbang ini menyebabkan dengung di telinga kiriku. Tujuan diberi semprot melalui hidung untuk menyeimbangkan tekanan udara dari telinga dan hidung. Mungkin yang dimaksud dokter ini adalah: Tuba eustakius . Tuba eustakius adalah saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan. (sumber: medicastore.com).

Hari pertama, benjolan mulai muncul.
Tiga hari kemudian setelah diberi obat semprot, telinga kiri bagian belakang mulai terasa sakit. Aku raba ada benjolan di situ. “Mungkin ini reaksi dari obat semprot hidung yang kupakai,” pikirku. Malam ini kurasakan badanku agak sedikit meriang, nafsu makan sudah mulai berkurang. Hari berikutnya aku mempunyai banyak aktifitas, meski hari Minggu. Pagi tugas koor bersama para suster. Siang hari jam 13.00 berangkat ke keuskupan Roermond untuk pertemuan persiapan pendamping camping musim panas. Sejak pagi aku merasakan badanku tidak enak, agak meriang, terasa capai, dan tidak ada nafsu makan. Kira-kira jam 19.00 aku baru pulang dari pertemuan. Waktu makan malam, aku sama sekali tidak bernafsu makan. Badanku semakin terasa tidak enak. Telinga kiriku terasa semakin sakit. Selain itu, aku temukan benjolan merah di dada dan mukaku. Aku semakin curiga dengan efek samping dari obat semprot hidung yang sedang kupakai. Lalu kubaca petunjuk obat, dan kutemukan bagian yang mengatakan bahwa efek samping dari pemakaian obat ini adalah iritasi pada kulit.
Malam sebelum tidur, kutemukan beberapa benjolan di dada, perut dan mukaku, jumlahnya waktu itu belum ada 10. Ada 1 benjolan di perut yang kelihatan berisi air. Aku mulai curiga kalau itu cacar air. Kebetulan aku memang belum pernah terkena cacar air waktu masih kecil. Lalu aku mencari informasi di internet tentang penyakit cacar air ini. Dari info yang kudapat, dugaanku semakin kuat kalau sakitku ini cacar air. Lalu aku menulis via facebook ke teman (seorang dokter) untuk lebih memastikan dugaanku ini, tapi sayang aku baru mendapat tanggapan setelah lewat 3 hari. Malam itu aku masih bisa beristirahat, meski badan agak meriang.

Hari kedua.
Bangun tidur kutemukan benjolan di perut, dada dan mukaku semakin bertambah. Aku semakin takut. Pagi itu aku pergi ke ziekengang (semacam klinik di dalam biara kami). Ketika perawat yang bertugas melihat benjolanku, mereka sudah menduga kalau ini cacar air, bukan alergi obat yang kupakai. Lalu aku dibuatkan janji dengan huisart (dokter rumah) kami. Siang hari, aku sudah tidak mempunyai nafsu makan lagi, badanku agak meriang. Sore hari aku ke tempat praktek huisart. Dokter memeriksa telinga kiri yang selama ini kukeluhkan dan dia lihat cukup baik (meski dengung masih kurasakan). Lalu kuceritakan tentang benjolan di belakang telinga kiriku yang membuat sakit, juga beberapa benjolan di badan dan mukaku. Kemudian dokter memeriksa benjolan yang di badanku. Setelah melihatnya, dokter mengatakan bahwa sepertinya aku terkena penyakit cacar air dan menanyakan apakah aku sudah pernah mendapat cacar air. Aku menjawab bahwa aku belum pernah mengalaminya dan benarlah dugaanku tadi malam. Waktu mengetahui penyakitku ini, kulihat dokter cukup serius mencari info di komputernya. Kemungkinan gejala dengung di telinga kiriku ini juga karena penyakit cacar air ini. Dokter mengingatkanku dengan serius bahwa kemungkinan mulai nanti malam atau besok pagi aku akan benar-benar jatuh sakit. Dokter mengatakan bahwa dia tidak menakut-nakuti aku, tetapi ini kemungkinan yang akan terjadi pada diriku: demam tinggi, kepala sakit, telinga sakit, mual, lemas, capai & tidak bernafsu makan. Aku diminta untuk minum paracetamol 4x sehari @ 2 tablet, banyak minum air, makan dan istirahat. Kalau gejala yang disebutkan dokter itu mulai terasa, aku diminta untuk langsung menelpon dokter. Terakhir dokter masih mengingatkanku bahwa aku akan benar-benar jatuh sakit dengan penyakitku ini, karena cacar air yang dialami oleh orang dewasa biasanya rasa sakitnya lebih parah dibandingkan yang dialami oleh anak-anak. Informasi seperti inipun yang kudapat melalui internet. Aku pun jadi agak takut, tapi di sisi lain menjadi siap untuk “sakit”. Kalau gejala yang dikatakan dokter itu tidak muncul, maka dokter akan memeriksaku lagi hari Rabu, pas dia praktek di biara kami. Sepulang dari periksa dokter, aku langsung istirahat. Semua acara mulai sore itu berubah. Aku mulai membalas email-email untuk membatalkan janji/ acara minggu ini. Malam itu aku masih bisa beristirahat dengan baik, tidak terjadi demam tinggi dan sakit kepala.

Hari ketiga.
Hari berikutnya, ketika bangun tidur benjolan air di badan dan mukaku cepat sekali bertambah. Pagi itu aku takut untuk mandi, karena banyak benjolan air yang kelihatan segar di badan dan mukaku. Aku sudah mulai mengisolasi diri dan tidak keluar kamar. Badanku sedikit meriang (tidak demam tinggi) dan terasa lemas. Hari ini aku banyak istirahat, meski agak sulit karena rasa gatal di tubuh dan mukaku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggaruk rasa gatal ini. Malam ini aku sulit tidur karena badan terasa lemas, badanku meriang, kepala agak sakit, perutku juga sakit, selain itu juga rasa gatal-gatal dari badan sampai kepalaku.

Hari keempat.
Aku tidak sanggup lagi untuk berjalan ke ziekengang, meski hanya di dalam biara kami. Lalu perawat mengatakan bahwa dia akan meminta dokter datang ke kamarku. Pagi ini badanku masih terasa lemas. Siang hari ketika dokter datang memeriksaku, kondisiku sudah semakin membaik. Badanku tidak panas tinggi, meski badan masih agak lemas. Dokter kaget melihat kondisiku yang masih lumayan baik ini dan jauh dari perkiraannya. Benjolan yang muncul di wajahku pun tidak terlalu banyak. Dia masih mengatakan bahwa gejala demam, sakit kepala, dan sebagainya kemungkinan masih akan muncul sampai hari ke-10. Aku diminta untuk siap kalau hal ini benar-benar terjadi, dan diminta langsung menelponnya. Aku semakin siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Malam ini aku masih sulit untuk istirahat karena rasa gatal di seluruh tubuh dan mukaku.

Hari kelima dan seterusnya.
Hari kelima dan keenam adalah puncak munculnya benjolan di kepala, muka, badan, tangan dan kakiku. Badanku semakin terasa lemas dan gatal-gatal. Dokter hanya memberiku obat paracetamol yang diminum 4x @ 2 tablet. Aku mencoba mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit cacar air untuk orang dewasa di internet. Untuk mengurangi rasa gatal, aku memakai bedak menthol. Setiap hari aku mandi dengan sabun antiseptik Dethol. Meskipun beberapa suster mengingatkan aku untuk tidak mandi dulu karena benjolan-benjolan di tubuhku, tapi menurut beberapa informasi yang kuperoleh di internet, kebersihan badan dan lingkungan sangat membantu untuk proses penyembuhan penyakit cacar ini. Maka aku tiap hari mandi dengan hati-hati supaya benjolan tidak pecah dan hasilnya lumayan baik. Seprei dan sarung bantal setiap hari juga diganti. Benjolan tidak menyebar banyak setelah hari keenam.

Hari-hari berikutnya sampai kira-kira 1 bulan aku diisolasi dalam kamarku. Penyakit cacar ini adalah penyakit yang cepat menular, dokter takut kalau para suster yang lain akan ketularan, apalagi aku tinggal dalam 1 komplek biara yang besar. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari panjangku sendirian di dalam kamar, segala sesuatu dilayani oleh para suster. Para suster pun takut untuk menengokku. Setiap hari kunikmati tubuhku yang gatal dan penuh benjolan. Aku bersyukur bahwa aku seorang “suster” sehingga kecantikan tidaklah penting lagi. Wajahku saat itu dihiasi dengan benjolan-benjolan yang setelah mengempis membekas menjadi hitam. Sambil bergurau kepada para suster dan teman-temanku, aku mengatakan bahwa Tuhan menambah lukisan dan hiasan di wajah dan tubuhku. Ini kenang-kenangan yang indah dari Dia.

Retret panjang.
Penderitaan akan menjadi ‘rahmat’ dalam hidup kita, ketika kita bisa memaknai dan merefleksikannya. Di usia yang sudah hampir berkepala empat dan jauh dari tanah air, kok ya masih mendapat penyakit cacar air. Waktu mengalami ini rasanya campur aduk antara ingin menertawakan diri sendiri (reaksi para suster memang setiap kali tertawa ketika mendengar aku mendapat cacar air) dan bertanya apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki dengan penyakitku ini.

Selama lebih dari satu bulan menyendiri di kamar, ternyata menjadi retret panjangku. Minggu pertama adalah minggu penderitaan yang membuat aku hanya bisa menyerah pada tubuhku yang lemah dan menikmati rasa sakit yang ada. Minggu-minggu selanjutnya dalam proses penyembuhan, aku lebih bisa menikmati hari-hariku dengan berdoa dan membaca buku-buku dalam suasana hening di kamarku atau sambil menikmati musik. Dalam situasi sakit aku mengalami cinta yang berlimpah dari Tuhan. Setiap hari saudari sekomunitasku menyiapkan makan pagi-siang-malam untukku. Seorang suster yang sudah tua, dengan penuh cinta mencucikan dan menyeretika baju-baju, seprei dan sarung bantal yang kupakai. Meskipun para suster takut menengokku, tapi perhatian dan cinta mereka sungguh kurasakan dengan bunga-bunga dan kartu-kartu yang dikirim ke kamarku. Cinta yang berlimpah juga kurasakan dari teman-temanku anggota koor paroki dan teman-teman dari keuskupan yang mengirim kartu-kartu ucapan supaya cepat sembuh. Aku mengalami begitu banyak orang yang mencintai diriku melalui cara mereka masing-masing dengan perhatian, pelayanan, kartu, bunga dan doa-doa.

Pengalaman ketidakberdayaanku dengan tubuhku yang lemah ini membawaku pada pengalaman cinta Tuhan yang begitu besar dalam diriku. Aku semakin mengalami ketergantunganku padaNya. Di saat aku lemah, justru pada waktu itulah aku mengalami kasihNya yang berlimpah dalam hidupku.

Maastricht, 13 Oktober 2012


Tinggalkan komentar

SUNGGUHKAH DIA ADA

Sejak kecil saya sangat tertarik tentang Tuhan. Dimana DIA berada? Seperti apa? Dan sebagainya … Seiring waktu saya terus mendapatkan jawaban. Jawabannya bervariasi dan banyak versi. Namun seiring waktu pula jawaban-jawaban tersebut bukan hanya bervariasi tapi juga berubah. Tulisan kakakku yang ditulis di face booknya ini sungguh menarik untukku. Pencarian akan Dia, tidak akan pernah berakhir dalam hidup, dan penemuan akan keberadaanNya dalam hidupku pun selalu berubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan dan kematangan diriku. Ada saat aku bertanya, “Sungguhkah Dia ada?” Ada saat pula, Dia sungguh menunjukkan keberadaanNya yang sangat dekat dengan diriku, bahkan jiwaku sungguh merasa aman, damai dan tenteram dalam pelukanNya.

Seminggu yang lalu, Mgr. E. de Jong (uskup pembantu di Keuskupan Roermond) mengantarkan kami keliling menara Basilik Sint. Servaas yang letaknya disamping biara induk kami. Sampailah kami ke Grameer (lonceng besar di dalam Gereja yang hanya dibunyikan kalau ada pesta besar). Aku kira kami sudah berada di puncak menara Basilik, tapi ternyata puncak menara masih beberapa meter lagi dan harus mendaki dengan tangga besi yang menempel di dinding. Mgr. de Jong mengajak kami mendaki puncak menara karena pemandangan dari atas puncak menara bagus sekali. Dalam hatiku takut juga mendaki seperti itu. Setelah Mgr. de Jong memanjat ke atas dan disusul dua suster, aku pun kemudian menyusul mendaki lewat tangga besi yg hanya cukup untuk ke dua kaki itu. Baru beberapa langkah, kaki dan tanganku sudah terasa gemetar. Dalam hati aku berkata, aku harus bisa sampai atas. Aku pun terus merayap ke atas, sambil terus berdoa Salam Maria… Akhirnya sampai juga di puncak menara Basilik Sint Servaas ini. Sungguh indah sekali pemandangan dari atas. Waktu itu hanya lima suster yang berani mendaki sampai puncak bersama Mgr. de Jong.

Aku teringat pengalamanku beberapa bulan yang lalu ketika mengikuti acara Ladies weekend (pembekalan untuk para pendamping camping musim panas dari keuskupan Roermond). Waktu itu acara diakhiri dengan permainan panjat dinding. Panitia sudah memberitahuku untuk membawa pakaian olah raga untuk acara ini. Awalnya aku takut untuk memanjat dinding yang tegak lurus itu. Aku pernah melakukan hal yang sama ketika acara out bond bersama para suster muda di Jogjakarta, dan waktu itu kakiku kram sehingga tidak berhasil memanjat dinding yang sebenarnya lebih rendah dari yang kuhadapi waktu Ladies weekend. Teman-teman pendamping camping ini, dengan penuh semangat menyemangatiku, “ Ayo suster, suster pasti bisa, kami tahu suster bisa…” Akhirnya aku pun berani mencobanya. Sekali, dua kali, hanya sampai di tengah aku sudah menyerah. Sampai yang ketiga kali aku mencoba, akhirnya sampai juga di puncak dinding tersebut. Teman-teman pun bersorak gembira… Keempat kali, aku pun berani mencoba dinding yang medannya lebih susah dan lebih tinggi dan ternyata bisa.

Meskipun awalnya ada rasa takut, aku berani memanjat dinding dalam acara Ladies weekend, karena aku merasa yakin bahwa aku aman dan tidak akan jatuh. Ada teman yang siap mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat ke atas, seandainya aku sudah tidak sanggup lagi memanjat. Walaupun begitu, aku butuh beberapa kali mencoba untuk berhasil mendaki sampai puncak. Saat di tengah pendakian itu, ada saat aku benar-benar takut kalau jatuh, karena tangan dan kakiku hanya bertumpu pada batu-batu kecil yang menempel di dinding. Tetapi kepercayaan bahwa kalaupun jatuh aku akan selamat karena ada teman yang mengendalikan tali yang kupakai untuk memanjat, membuat hatiku berani untuk terus mendaki sampai puncak. Pengalaman ini merupakan gambaran dalam hidupku.

Kadang aku berada dalam situasi-situasi yang sulit dan takut untuk menghadapinya. Ada saat aku merasa sendiri dengan beban hidup yang berat. Ada saat aku bertanya, “Tuhan dimanakah Engkau, sehingga aku mengalami situasi seperti ini?” Namun iman sekecil apa pun yang Tuhan berikan dalam diriku, inilah yang menjadi kekuatanku. Kepercayaan bahwa Dia ada dan akan selalu menolongku, tumbuh semakin kuat dari berbagai pengalamanku, sehingga aku menemukan bahwa Dia benar-benar ada. Tahun pertama sebagai misionaris di sini, aku sungguh merasakan kekeringan dalam hidup rohaniku. Melihat dan mengalami situasi Gereja di sini, sungguh menyakitkan dan memprihatinkan. Ada rasa pesimis pada waktu itu, akankah Gereja mati? Di manakah Engkau Tuhan, sehingga membiarkan GerejaMu seperti ini? Tetapi iman sekecil apa pun yang masih Tuhan berikan dalam diriku, ternyata bertumbuh dan semakin meyakinkan diriku bahwa Gusti mboten sare (Tuhan tidak tidur) dalam situasi Gereja di Eropa saat ini. Merefleksikan kembali sejarah perkembangan Gereja, membuatku optimis bahwa ada saat Gereja seakan “mati” tetapi ada saat pula Gereja hidup dan berkembang. Tuhan membuka jalan dan menunjukkan padaku, bahwa Dia tetap ada dan berkarya sampai saat ini. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa Belandaku, Tuhan memberiku kesempatan untuk terlibat dengan berbagai kegiatan dengan kaum muda di sini. Melalui pengalaman ini, aku merasakan bahwa Gereja masih akan tetap hidup.

Pengalaman mendaki menara Basilik, bermakna berbeda dengan pengalamanku mendaki dinding dalam Ladies weekend. Ketika mendaki menara Basilik, waktu itu tidak ada tali pengaman, sehingga aku harus hati-hati betul dan terus berdoa Salam Maria untuk menumbuhkan keberanian dalam diriku. Ada saat aku mengalami situasi yang penuh dengan ketidakpastian, ketidak jelasan dan hanya dibutuhkan keberanian dan kekuatan doa untuk bisa terus maju. Pengalamanku memulai komunitas baru di sini tidaklah mudah. Sampai saat ini masih penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian akan masa depan komunitas ini. Penuh tantangan baik dari luar maupun dari dalam diriku untuk terus setia menjalankan perutusanNya ini. Ada saat aku merasa ”gemetar” menghadapi situasi yang ada, dan hanya kekuatan doalah yang terus menyemangatiku untuk terus maju mengikutiNya.

Sungguhkah Tuhan ada? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam pengalaman masing-masing pribadi. Satu pengalaman yang sama akan berbicara berbeda, karena perbedaan cara memaknai pengalaman tersebut. Pengalaman sesederhana apa pun (seperti pengalamanku di atas), kalau direfleksikan akan membawa kita pada pengalaman kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kesetiaan dalam doa dan merefleksikan setiap pengalaman yang ada, menjadikan hidup kita lebih bermakna dan menemukan keberadaan Tuhan dalam hidup kita saat ini.

(Maastricht, 30 September 2012)


Tinggalkan komentar

PENGOSONGAN DIRI

Pada hari keempat retret pribadiku, Tuhan membawaku untuk semakin memahami apa arti memikul salib dalam perutusanku saat ini. “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 13: 24). Syarat untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah adalah memikul salib dan mengikuti Tuhan. Aku pun bertanya pada Tuhan,”Salib seperti apakah Tuhan, yang telah kupanggul selama ini untuk terlibat dalam karya keselamatanMu?” Akhir-akhir ini masalah yang cukup kurasakan berat adalah hidup bersama. Dalam komunitas yang masih sangat muda, dengan segala sesuatunya yang masih dalam proses pencarian, masing-masing membawa ide dan motivasi, tentu banyak benturan-benturan di situ. Hidup bersama rasanya cukup membuatku menderita, apalagi sebagian besar waktuku kuhabiskan bersama komunitas. “Hidup bersama… inikah salib yang Engkau maksud Tuhan?” tanyaku. Ketika kurenungkan lebih dalam lagi, aku menemukan bahwa salibku yang sebenarnya bukan masalah yang kuhadapi dalam hidup bersama. Bukan, itu bukan salib yang dimaksud Tuhan.

Dalam keheningan, Tuhan menunjukkan padaku apa yang dimaksud dengan ‘memanggul salib dan mengikuti Dia’ dalam perutusanku saat ini. Tuhan bertanya kepadaku: “Mengapa di saat kamu merasa menderita di dalam komunitasmu, kamu ingin pulang ke Indonesia?” Jawabku,”Konflik-konflik ini tidak akan kualami di Indonesia. Di Indonesia aku akan punya tanggung jawab yang pasti dalam karya. Tenaga, pikiran dan waktuku lebih berguna daripada hanya untuk konflik-konflik yang dikarenakan hal-hal yang sepele tapi menjadi sesuatu yang sangat besar dan menyakitkan. Ada kepastian dalam karya dan ada teman untuk berbagi ketika sedang dalam kesesakan. Sedangkan di sini, aku setiap hari bertemu dengan orang-orang dan masalah-masalah yang sama di dalam komunitas.” Menanggapi jawabanku ini, Tuhan menunjukkan padaku apa arti perkataanNya ‘memanggul salib dan mengikuti Dia.’ KataNya,”Dalam perutusanmu saat ini, keberanian untuk melepaskan segala sesuatu, baik keaman-mapanan dalam komunitas maupun dalam karya serta berani masuk dalam situasi ketidakpastian, inilah salib yang harus kamu panggul. Apa yang kamu lihat, rasakan dan alami selama 3 tahun menjalankan perutusanmu di komunitas ini?” Jawabku,”Aku melihat, merasakan dan mengalami keprihatinan Gereja di negeri Belanda ini. Gereja-gereja yang mulai kosong, bahkan beberapa gereja terpaksa ditutup karena kekurangan umat. Kaum muda yang katanya Katholik, tapi sangat miskin pengenalan akan Allah karena tidak ada yang mengajarkan hal ini pada mereka. Pelajaran agama sudah ditiadakan dari sebagian besar sekolah yang ada, padahal anak-anak membutuhkan orang-orang dewasa yang bisa membantu mereka untuk mengenal Allah dan kehidupan menggereja. Di rumah pun orang tua sudah jarang mengajarkan tentang hal berdoa pada anak-anak mereka, apalagi tentang Gereja. Kerinduan awalku ketika melihat Gereja yang hanya berisi orang-orang lanjut usia, adalah melihat kaum muda dan anak-anak datang dan berdoa di Gereja.”

Suasana hening, lalu Tuhan melanjutkan pembicaraan kami,”Apa yang sudah kamu alami di komunitasmu menanggapi situasi Gereja yang seperti ini?” Aku merenungkan sejenak pengalamanku selama ini. Inilah jawabanku,“Aku melihat dan mengalami bahwa kehadiran komunitas kami, meskipun sedikit tetapi juga membawa perubahan dan kehidupan baru bagi Gereja setempat. Keterlibatan kami dalam koor di Paroki kami membawa suasana baru bagi para anggota koor. Mereka senang ada suster dan orang muda yang mau bergabung dengan mereka, sekaligus mengubah pandangan mereka terhadap figur ‘suster’ selama ini. Kelompok paduan suara yang kami mulai bersama br. Alfred, FIC dan para mahasiswa dari berbagai negara untuk misa bahasa Inggris, memberi warna dan suasana baru dalam ekaristi. Umat gembira ketika diajak bersama-sama menyanyi dan pastor pun senang kalau ada koor yang mengiringi saat ekaristi. Paduan suara ini juga bisa menjadi wadah bagi para mahasiswa yang ingin bernyanyi dan memuji Tuhan seperti yang telah mereka lakukan di negaranya masing-masing. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan di keuskupan Roermond membawa suasana baru. Melalui kehadiran kami, bisa mengenalkan tentang kehidupan religius, tidak saja hanya kepada anak-anak tetapi juga pada para sukarelawan yang bekerja sama. Keterlibatan dalam acara tahunan seperti ‘zomerkamp’ (camping yang diadakan pada musim panas) membantu menumbuhkan iman dan mengenalkan kehidupan menggereja pada anak-anak. Ini menjadi sarana yang baik dalam situasi Gereja saat ini. Ikut menyiapkan anak-anak sebelum menerima sakramen penguatan dengan memberikan salah satu pelajaran persiapan bagi mereka tentang hidup religius. Kehadiran rutin kami di ‘Zaterdagmiddag club’ di Sittard (seperti sekolah minggu, di mana ada sekitar 80-100 anak) yang datang setiap hari Sabtu, di Lifeteen (untuk anak-anak remaja di Maastricht) juga memberi warna yang baru bagi mereka. Kehadiranku seminggu sekali di Adelante school (sekolah untuk anak-anak cacat mental dan fisik) menjadi sarana mengenalkan figur ‘suster’ bagi anak-anak, guru dan karyawan di sana. Kunjungan-kunjungan keluarga dan menjadi teman bagi mereka yang mengalami kesepian, menjadi bentuk kerasulan yang baru. Kehadiran kami pun membawa suasana dan harapan baru bagi para suster sepuh di Onder de Bogen. Gereja mulai merasakan arti kehadiran komunitas ini. Keuskupan Roermond, paroki di sekitar Maastricht dan Sittard menerima komunitas ini dengan baik. Ada harapan baru bagi Gereja. Bahkan Mgr. Kurris dari Basilik Sterre der Zee pernah mengungkapkan keinginannya untuk memindahkan misa bahasa Inggris ke kapel Onder de Bogen, karena adanya komunitas kami yang bisa menarik orang-orang muda di sini.”

“Menurutmu bagaimana semua bisa terjadi demikian?” Tuhan mengajakku untuk merefleksikannya lebih dalam. Dalam refleksiku aku menemukan,”Semua ini bisa terjadi karena adanya pengorbanan dan pengosongan diri. Memang sampai sekarang belum ada kejelasan akan masa depan komunitas ini, yang kumaksud dengan karya yang pasti seperti di Indonesia: di sekolah, rumah sakit, dsb. Setiap saat dibutuhkan keterbukaan hati untuk terlibat dengan kesempatan-kesempatan yang ditawarkan Tuhan. Ada saat-saat merasa kesepian dan sepertinya hidup tidak bermakna, tapi ada juga saat-saat merasa sangat bahagia bisa terlibat dalam keprihatinan Gereja saat ini.” Tuhan menggaris bawahi jawaban terakhirku,”Inilah salib yang harus kamu panggul: berani melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri untuk mengikutiKu dan terlibat dalam karya keselamatanKu dalam perutusanmu saat ini.” Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukkan kepadaku jalan untuk mengikutiMu. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang indah ini, membawa semangat baru untuk melanjutkan perutusanku.

Pengosongan diri adalah sesuatu yang tidak mudah, tapi sungguh membahagiakan jika itu bisa kulakukan. Aku berusaha mengosongkan diri dan dalam lembaran kosong ini biarlah Dia yang menulis dan melukis kisah perjalanan komunitas multicultural ini. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas. Amin.

Februari 2012 – Sr. Hedwig


Tinggalkan komentar

CAMPING ROHANI

Tulisanku ini masih seputar camping rohani, yang telah diterbitkan dalam majalah intern para suster CB, yang kutulis setahun yang lalu.

Camping adalah kegiatan rutin tahunan yang diadakan untuk mengisi liburan sekolah musim panas di Nederlands ini. Banyak kelompok yang mengadakan acara camping ini. Tahun ini rasanya sungguh istimewa karena aku bisa mengikuti camping 2 kelompok yang sangat berbeda. Tgl. 11 s/d 15 Juli 2011 aku mengikuti Meidenkamp yang diadakan oleh keuskupan Roermond. Meidenkamp ini adalah camping untuk anak-anak perempuan usia 12 – 17 th. Waktu itu berjumlah 24 anak, 9 pendamping (aku dan sr Juli dari kongregasi Petrus Klaver masuk dalam pendamping), 1 pastor dan 5 ibu staf dapur. Tgl. 16 – 21 Agustus 2011 Sr. Leocardia dan aku mengikuti Jongenskamp yang diadakan oleh kelompok “Zaterdag Middag Club” (ZMC, Sittard). Camping ini khusus untuk anak-anak laki-laki usia 6 – 16 th dengan pendamping usia 17 – 25 th. Kalau dalam Meidenkamp kami berjumlah 39 orang, dalam Jongenskamp ini total berjumlah 78 orang (65 anak + pendamping, 1 pastor, 1 frater, 8 ibu dan 2 suster ). Perbedaan antara Meidenkamp dan Jongenskamp selain pesertanya yang semua anak perempuan dan anak laki-laki juga tempat camping. Meidenkamp diadakan di biara susters Arme Kindje Jezus (Sang Timur) di Simpelveld. Anak-anak tidur di ruang makan besar para suster yang diubah menjadi ruang tidur. Mereka masing-masing membawa slapzaak, semua tidur dalam 1 ruangan. Sedangkan dalam Jongenskamp, anak-anak dan semua pendamping tidur di tenda (semua ibu-ibu dan suster tidur di dalam rumah). Jongenskamp ini diadakan di tempat perkemahan untuk pramuka (scoutingplaats) di Kessel-Eik. Aku tidak akan bercerita banyak tentang Jongenskamp, dalam edisi ini aku lebih mensharingkan tentang Meidenkamp.

Tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku mengikuti Meisjeskamp (camping untuk anak perempuan usia 7 – 12 th) sebagai koostaf (staf dapur). Sesuai dengan kemampuan bahasa Nederland ku yang masih terbatas, tugas di dapur menjadi kesempatan yang berharga untuk belajar dan mengenal anak-anak di sini. Tahun ini para pendamping memintaku untuk masuk dalam staf pendamping dan tim katekese bersama Pastor Pierik dan Sr Juli. Tugas yang tidak ringan karena aku harus terlibat seluruh kegiatan dan merencanakan acara untuk katekese. Sejak bulan November 2010 panitia sudah terbentuk (ada beberapa kali pertemuan untuk pembekalan para pendamping), jadi persiapan untuk camping ini cukup matang. Cukup waktu untuk mempersiapkan diriku dan bahasa Nederland ku. Meskipun begitu, ternyata tegang juga ketika tiba saatnya untuk acara camping ini.

Hari pertama, aku menjelaskan ke Pastor Pierik tentang acara misa yang telah Sr Juli dan aku siapkan, khususnya tentang doa umat. Waktu itu Pastor Pierik sulit sekali menangkap penjelasanku. Spontan dia berkata,”Betapa sulitnya komunikasi diantara kita, suster”. Akhirnya kujelaskan dengan peragaan, sehinggga bisa benar-benar dipahami. Peristiwa ini membuatku agak berkecil hati dan merasa betapa terbatasnya kemampuanku saat ini. Selama 5 hari aku akan bekerjasama dan berkomunikasi dengan bahasa Nederland yang ternyata masih sulit ditangkap juga. Setiap pagi kubuka hari dengan doa mohon kemampuan yang aku butuhkan untuk mendampingi anak-anak ini. Aku hanya bisa menggantungkan diri pada Dia untuk perutusanku di tengah anak-anak ini. Selanjutnya aku bisa mengikuti seluruh acara dengan baik. Akhirnya aku hanya bisa bersyukur dan mengalami bahwa aku hanyalah alat yang siap dipakaiNya. Tuhan memberiku kemampuan yang bisa membuatku dekat dengan mereka. Dalam salah satu acara workshop, para suster komunitas Stella Maris diundang untuk memberi workshop “Angklung dan Poco-Poco”. Sr Floriana dan sr Leocardia memberi workshop Angklung, sedangkan sr Josephine dan aku memberi workshop Poco-Poco. Mereka senang dengan workshop ini. Setelah workshop, hari berikutnya kami meneruskan latihan poco-poco karena sebagai ucapan terima kasih pada orang tua kami akan menari poco-poco. Orang tua senang melihat anak-anaknya bisa menari Poco-poco. Mereka juga heran, ternyata suster bisa mengajari anak-anak menari seperti itu.

Aku terkesan dengan ungkapan salah satu kookstaf yang baru pertama kali mengikuti camping ini. Beliau mengungkapkan bahwa awalnya terasa berat tugas menyiapkan makanan untuk sekian banyak orang dalam usianya yang hampir 80 th. Tapi setelah mengikuti acara-acara yang ada, beliau mengatakan,”aku mengalami liburan rohani, tahun depan aku mau membantu lagi.” Memang betul, camping ini lebih banyak kegiatan rohaninya. Setiap pagi acara dibuka dengan senam, doa pagi dan makan bersama. Acara selanjutnya: Ekaristi, permainan, makan siang, katekese, makan malam, persiapan Ekaristi untuk hari berikutnya (menyiapkan bacaan, lagu-lagu dan doa umat), sebelum tidur acara ditutup dengan doa penghormatan kepada sakramen Maha Kudus. Anak-anak juga mendapat kesempatan untuk mengaku dosa secara pribadi, hal yang sudah tidak umum lagi dilakukan di sini. Sudah 2 tahun ini camping diadakan di biara suster Sang Timur, tujuannya adalah selain rekreasi juga sambil mengenalkan tentang kehidupan rohani dan religius kepada anak-anak. Suasana biara sangat mendukung untuk tujuan ini. Ada acara khusus berdialog dengan para suster, sehingga mereka mempunyai gambaran tentang kehidupan membiara. Selain itu, Uskup juga datang berdialog dengan anak-anak untuk mengenalkan kehidupan menggereja. Tanggapan orang tua dan anak-anak sangat bagus untuk camping ini.

Tahun ini jumlah peserta Meisjeskamp dan Meidenkamp bertambah dibanding tahun kemarin. Keuskupan ingin meneruskan program ini, tapi ternyata tidak mudah untuk mendapatkan biara yang bisa menampung anak-anak ini. Beruntung sekali selama 2 tahun ini biara suster Sang Timur bisa menerima mereka. Tahun depan kemungkinan besar biara Sang Timur tidak bisa dipakai lagi. Panitia masih mencari tempat untuk camping ini. Mereka berharap agar camping tahun depan bisa diadakan di biara Onder de Bogen, Maastricht. Aku pun berharap demikian, meskipun kemungkinan itu terjadi sangat kecil. Ada banyak pertimbangan untuk menerima mereka di Onder de Bogen. Sejak pertama kali mengikuti camping ini, aku telah merindukan hal ini. Ini kesempatan indah untuk mengenalkan kembali spiritualitas dan kongregasi pada kaum muda di sini. Semoga itu bisa terjadi. Semoga nama Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas melalui kehadiran para suster di sini. Amin.

Maastricht, 29 September 2011
Sr. Hedwig – Komunitas Stella Maris.


Tinggalkan komentar

HET MEISJESKAMP

Tulisanku sebelumnya yang berjudul “Tuhan seandainya aku bisa lari”, aku mensharingkan tentang pengalamanku pertama kali mengikuti meisjeskamp (camping rohani), dalam tulisan ini lebih menceritakan apa dan bagaimana kegiatan meisjeskamp. Semoga dengan membaca tulisan ini, teman-teman yang di Indonesia mendapat gambaran tentang kegiatan camping rohani untuk anak-anak di Belanda ini. Kedua tulisan ini sudah pernah diterbitkan dalam majalah intern para suster CB.

Akhirnya kesempatan yang tidak kuduga-duga itu tiba. Aku sudah mendengar dan membaca brosur tentang acara camping untuk anak-anak pada musim panas dari keuskupan Roermond. Aku sangat tertarik dengan kegiatan ini, tetapi tidak tahu bagaimana caranya agar bisa terlibat dalam camping ini. Batas umur peserta meisjeskamp adalah 7 s/d 12 th, jadi jelas tidak mungkin aku mendaftar sebagai peserta. Aku ingin mendaftar sebagai sukarelawan yang membantu meisjeskamp ini, rasanya belum berani dengan keterbatasan bahasa Belandaku dan lagi pula aku juga tidak tahu caranya untuk bisa menjadi sukarelawan.

Seringkali Tuhan memberiku kejutan-kejutan yang indah, sehingga aku semakin percaya untuk terus berjalan bersamaNya. Siang itu Marie José (koordinator kegiatan untuk kaum muda dari keuskupan Roermond) menelponku kalau aku ingin melihat acara camping, saat ini sedang ada meidenkamp (camping untuk anak-anak perempuan usia 12 s/d 17 th) di biara para suster Arme Kindje Jezus (Sang Timur) di Simpelveld. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Langsung kuhubungi Sr. Veronika, PIJ yang tinggal di Simpelveld untuk mencari informasi tentang ini. Ternyata tidak semudah yang kubayangkan untuk bisa hadir dan melihat-lihat acara camping ini. Akhirnya dengan proses yang tidak mudah, Tuhan memberiku kesempatan terlibat dalam meisjeskamp yang diadakan seminggu setelah meidenkamp. Kesempatan emas diberikan Tuhan padaku, aku bisa membantu panitia meisjeskamp sebagai anggota kokenstaf. Tugasku membantu memasak dan menyiapkan makan pagi/ siang/ malam untuk seluruh peserta dan panitia yang berjumlah 58 orang.

Acara meisjeskamp ini diadakan oleh keuskupan Roermond setiap tahun pada musim panas, yang berlangsung selama 5 hari. Acara camping ini biasanya diadakan di boerderij (daerah pertanian), tetapi tahun ini panitia mencoba menyelenggarakannya di klooster (biara). Sebelum mengambil keputusan ini, memang terjadi pro dan kontra karena camping diadakan di klooster. Mungkin mereka berpikir bahwa mengadakan camping di lingkungan biara tentu tidak sebebas kalau di boerderij. Pandangan mereka terhadap klooster akhirnya berubah setelah mereka menjalani seluruh proses meidenkamp & meisjeskamp ini.

Akhirnya para panitia dan peserta bersyukur dan merasa puas dengan meisjeskamp yang diadakan di klooster ini. Mereka tetap merasa ‘bebas’ meskipun kegiatan dilaksanakan di klooster. Para suster Arme Kindje Jezus (Sang Timur) sangat terbuka dan tidak merasa terganggu dengan keramaian dan teriakan-teriakan anak-anak. Mereka sungguh menerima anak-anak ini. Hal ini juga dirasakan oleh panitia dan anak-anak, bahkan ada acara kunjungan dan menghibur para suster tua di sana. Karena di klooster, acara camping kali ini berbeda dari biasanya. Setiap hari mereka bisa mengikuti Ekaristi kudus pada pagi hari dan adorasi pada malam hari. Setiap makan, selalu dibuka dan ditutup dengan doa. Acara yang diselenggarakan sangat seimbang antara hal-hal jasmani dan rohani. Gambaran kegiatan keseluruhan hari: bangun tidur – senam pagi – doa pagi – makan pagi – ekaristi kudus – katekese – makan siang – permainan – minum sore – kegiatan dalam kelompok – makan malam – kegiatan dalam kelompok – doa malam dan adorasi – istirahat. Setiap hari acara untuk peserta dimulai jam 07.30, dan istirahat malam jam 22.30. Untuk panitia, acara dimulai jam 07.00 dan istirahat malam antara jam 12.00 s/d 01.00.

Aku sangat terkesan dengan sikap anak-anak pada waktu mengikuti Ekaristi kudus dan adorasi. Pada waktu Ekaristi dan adorasi semua yang hadir bisa hening dan khidmat. Pada saat homili dalam Ekaristi, selalu ada tanya jawab tentang isi bacaan Injil dan anak-anak bisa menjawab dengan baik. Ketika dalam acara adorasi, mereka benar-benar bersikap menghormati sakramen Maha Kudus. Pada hari pertama mereka memang belum begitu paham tentang adorasi ini. Tetapi pada hari kedua, mereka sudah mulai paham apa penghormatan sakramen Maha Kudus. Ketika Pastor datang membawa sakramen Maha Kudus, tanpa diatur oleh panitia mereka semua berlutut menghormat dan memberi jalan di tengah untuk Pastor. Pengalaman mengikuti Ekaristi dan adorasi setiap hari ini tentu menjadi pengalaman khusus bagi anak-anak dan panitia, karena belum tentu mereka setiap hari minggu pergi ke Gereja. Di beberapa sekolah di sini juga sudah tidak ada pelajaran agama lagi. Jadi pelajaran katekese yang mereka terima dalam acara camping ini bisa memberi bekal iman untuk mereka.

Pengalaman camping di klooster ini merupakan pengalaman istimewa dan indah untuk semua yang mengikutinya. Muncul dalam angan-anganku, betapa indahnya jika acara camping ini juga bisa diadakan di Onder de Bogen. Rasanya harapanku mulai muncul kembali. Roda kehidupan akan terus berputar. Tentu ada saatnya anak-anak dan kaum muda di sini kembali aktif dalam kegiatan hidup menggereja. Kapan itu akan terjadi dan bagaimana bentuk kehidupan menggereja yang cocok untuk mereka dalam situasi masyarakat di Belanda ini? Tentu sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Bersama Bunda Elisabeth, imanku dikuatkan bahwa kalau Tuhan menghendaki “itu akan terjadi”. Harta kekayaan yang kuandalkan untuk memulai dan menjalankan perutusanku di komunitas Internasional ini adalah Penyelenggaraan Illahi. Penyelenggaraan Illahi telah mengurus segala sesuatu yang kami butuhkan dalam perkembangan komunitas ini, sehingga sampai saat ini aku masih percaya bahwa Tuhan menghendaki komunitas ini dimulai dan berkembang di sini.

Maastricht, 19 September 2010
Sr. Hedwig – Komunitas Stella Maris.


Tinggalkan komentar

TUHAN, SEANDAINYA AKU BISA LARI

Tulisan ini kutulis 2 tahun yang lalu, pengalaman pertama kali mengikuti camping rohani yang sungguh mengesan dan menjadi langkah awal untuk memulai kegiatan bersama anak-anak selanjutnya.

Siang itu aku dapat telphone dari Marie Jose (koordinator kegiatan untuk kaum muda di keuskupan Roermond). Dia mengingatkan aku,”Suster jangan lupa sekarang baru ada meidenkamp di Simpelveld. Suster bisa datang untuk melihat-lihat kapan saja.” Meidenkamp adalah acara camping untuk anak-anak perempuan usia 12th s/d 17th. Marie Jose tahu komunitas Internasional ini dan ingin membantu kami untuk mengenal kegiatan-kegiatan kaum muda di keuskupan Roermond. Memang saat ini kami baru tahap melihat-lihat karena bahasa Belanda kami belum mencukupi untuk ikut terlibat langsung dalam kegiatan dengan anak-anak. Senang sekali mendapat berita ini. Langsung aku mencari informasi tentang meidenkamp ini. Kebetulan acara diadakan di biara para suster Sang Timur, di Simpelveld. Kuhubungi Sr Veronika, PIJ yang sudah kukenal. Ternyata untuk datang dan melihat-lihat, tidak semudah yang kubayangkan. Sr. Veronika waktu itu tidak masuk dalam panitia sehingga tidak berani untuk menemani saya melihat-lihat meidenkamp ini. Sedangkan jadwal kunjungan Marie Jose dengan aku tidak cocok. Marie Jose hanya datang berkunjung beberapa kali dan tidak sepenuhnya ikut acara camping yang diselenggarakan selama 5 hari tersebut. Pupus sudah harapanku. Tidak kuduga Tuhan memberi jalan. Pada malam terakhir ada acara bonte avond (malam kreatifitas) dan para suster Sang Timur diundang semua untuk melihat acara ini. Maka Sr. Veronika memberitahu aku untuk datang pada acara ini sebagai tamunya para suster dan bisa ikut menonton bonte avond ini. Itu berarti aku harus menginap di sana karena acara bonte avond selesai sampai jam 22.00. Aku menyanggupi kesempatan berharga ini, meskipun pagi hari berikutnya aku harus ke sekolah Adelante.

Pada acara bonte avond ini aku bisa bertemu dengan Marjolein yang akan menjadi ketua panitia pada acara meisjeskamp (camping untuk anak perempuan usia 7th s/d 12 th) yang diadakan minggu berikutnya. Kuungkapkan keinginanku untuk belajar dalam kegiatan meisjeskamp dan Marjolein menyambut dengan terbuka. Kukatakan bahwa aku hanya ingin melihat-lihat karena aku belum mempunyai pengalaman dalam meisjeskamp dan bahasa Belandaku juga masih terbatas. Sekali lagi tidak kuduga, Tuhan memberiku kesempatan emas. Marjolein memberitahu aku lewat email bahwa aku bisa mengikuti keseluruhan acara meisjeskamp dan membantu memasak di dapur. Kebetulan kookstaf (staf dapur) yang ada hanya 2 orang dewasa dan dibantu beberapa anak remaja. Jadi aku bisa membantu mereka, apalagi peserta camping cukup banyak (37 anak) dan ada 20 leiding (pendamping) dan kookstaf. Jadilah aku salah satu bagian dari panitia meisjeskamp ini.

Aku datang sehari sebelum acara dimulai dan membantu panitia menyiapkan segala sesuatunya untuk peserta. Sore itu Sr. Veronika menceritakan tentang persiapan yang telah dilakukan oleh panitia ini. Ternyata untuk menjadi panitia dalam acara ini sudah harus mendaftar paling tidak setengah tahun sebelumnya. Mereka mendapat pembinaan dan pembekalan-pembekalan khusus dari keuskupan. Persiapan acara ini sangat matang, maka Sr. Veronika tidak berani menemani aku melihat-lihat ketika aku ingin datang pada acara meidenkamp, apalagi aku belum mengenal satu pun panitia meidenkamp. Sr. Veronika (suster ini orang Indonesia) mensharingkan pengalaman awalnya terlibat dalam kegiatan ini. Waktu itu bahasa Belandanya masih terbatas seperti diriku saat ini dan langsung masuk sebagai tim leiding (pendamping). Dia menceritakan betapa menyakitkan pengalaman awal itu. Dia harus terlibat langsung mendampingi anak-anak, berdiskusi dan membuat permainan untuk mereka, sedangkan bahasa Belandanya saat itu masih terbatas. Kadang-kadang dibodoh-bodohkan oleh pendamping lain karena tidak mengerti maksud pembicaraan. Para pendamping terkesan menolak dan meremehkannya. Dia merasakan sampai saat ini pun (tahun ke-3 dia mengikuti acara ini) masih ada pendamping yang kurang menerimanya.

Pada malam persiapan itu, untuk pertama kalinya aku makan bersama dengan para pendamping. Kurasakan ada beberapa pendamping yang kelihatan kurang senang dengan kehadiran para suster di tengah-tengah mereka. Saat itu muncul ketakutan dalam hatiku. Selama 5 hari aku akan bekerja sama dengan mereka, dan tidak satupun diantara mereka yang bisa bahasa Indonesia kecuali Sr. Veronika. Sr. Veronika masuk dalam panitia pendamping, sedangkan aku membantu di kookstaf. Itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Sr. Veronika. Semangatku untuk terlibat dalam camping ini yang tadinya menyala-menyala mulai meredup. Dalam doaku sebelum tidur kuungkapkan kepada Tuhan, “Tuhan seandainya aku bisa lari dari sini, aku ingin pulang. Rasanya aku belum siap untuk terlibat di sini. Tetapi Engkau yang memberiku jalan sehingga aku bisa terlibat dalam acara ini, maka beri aku kemampuan yang aku butuhkan saat ini.” Setiap pagi kubuka hari dengan doa permohonan agar aku diberi kemampuan yang kubutuhkan untuk terlibat dalam meisjeskamp ini.

Tuhan memberiku kesempatan sesuai dengan kemampuan yang kumiliki. Tugas sebagai kookstaf tidak menuntut banyak komunikasi dengan anak-anak dan pendamping. Aku bisa melayani mereka dengan sepenuh hati. Komunikasiku dengan mereka adalah saat melayani mereka makan dan saat-saat luang tidak ada kegiatan di dapur, aku diberi kesempatan untuk melihat kegiatan-kegiatan mereka. Tante Mariet sebagai ketua kookstaf dan anggota kookstaf yang lain (ada 7 orang) merasa gembira dengan kehadiranku. Mereka selalu menyebutku hartelijke zuster (suster yang ramah). Aku pun menikmati kesempatan berharga ini, meski seringkali juga tidak mengerti dengan jelas ketika berbicara dengan mereka. Ketulusan hati lebih dirasakan, dan keterbatasan kata-kata tidak menghambat untuk berkomunikasi. Para pendamping pun akhirnya menerimaku dengan hati terbuka. Mereka senang dengan kehadiranku yang tidak terduga ini di tengah-tengah mereka. Mereka berharap tahun depan aku bisa terlibat lagi dalam acara ini dan berkerja sama kembali bersama mereka. Sr. Veronika mengatakan,”Suster beruntung, masuk dalam situasi dan kesempatan yang tepat. Aku merasakan para pendamping menerima suster dengan hati terbuka. Ini awal yang bagus bagi suster untuk terlibat dengan mereka.”
Aku sungguh bersyukur pada Tuhan. Jalan yang diberikan Tuhan padaku memang unik dan tidak terduga-duga. Dia juga memberiku kesempatan sesuai dengan kemampuan yang kumiliki. Memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah, apalagi di negeri orang dengan kemampuan bahasa seperti yang kumiliki saat ini. Tetapi aku percaya Dia akan selalu memberiku jalan agar kehendakNya terlaksana dalam komunitas Internasional ini.

Maastricht, 29 Agustus 2010

Sr. Hedwig
Kom. Stella Maris.